- SMP: 17,64 persen
- SMA: 20,67 persen
- SMK: 13,07 persen
- Diploma I–III: 2,41 persen
- Diploma IV/S1/S2/S3: 10,72 persen
BPS Catat Pekerja Formal di Indonesia Tembus 59,93 Juta Orang

- BPS mencatat jumlah pekerja formal Indonesia mencapai 59,93 juta orang atau 40,58 persen dari total penduduk bekerja pada Februari 2026.
- Struktur tenaga kerja masih didominasi lulusan SD ke bawah sebesar 35,49 persen, namun proporsi pekerja berpendidikan menengah dan tinggi terus meningkat dibanding tahun sebelumnya.
- Sekitar 71 dari 100 penduduk usia kerja aktif bekerja dengan tingkat pengangguran terbuka turun menjadi 4,68 persen dan mayoritas bekerja penuh waktu.
Jakarta, IDN Times – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya peningkatan jumlah pekerja formal di Indonesia pada Februari 2026. Jumlah pekerja formal mencapai 59,93 juta orang 40,58 persen, sedangkan pekerja informal berjumlah 87,74 juta orang 59,42 persen dari total penduduk bekerja sebanyak 147,67 juta orang.
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menjelaskan bahwa dari total penduduk bekerja, 36,99 persen berstatus sebagai buruh, karyawan, atau pegawai, yang merupakan kelompok dengan penambahan jumlah terbesar dibandingkan Februari 2025, yaitu sekitar 555 ribu orang. Selain itu, 20,57 persen bekerja berusaha sendiri, 15,97 persen berusaha dibantu buruh tidak tetap, dan 13,67 persen merupakan pekerja keluarga atau tidak dibayar. Sisanya, sekitar 12,8 persen, bekerja dalam kategori lain atau belum diklasifikasikan.
“Sejalan dengan pertumbuhan tersebut, jumlah pekerja formal meningkat menjadi 59,93 juta orang atau 40,58 persen dari total penduduk bekerja,” ujarnya.
1. Struktur tenaga kerja RI masih didominasi oleh pekerja dengan pendidikan rendah

Dari sisi pendidikan, struktur tenaga kerja Indonesia masih didominasi oleh pekerja berpendidikan rendah. Sebanyak 35,49 persen atau sekitar 52,41 juta orang merupakan lulusan SD ke bawah. Sementara itu, sekitar 13,13 persen dari total pekerja memiliki pendidikan tinggi, yaitu Diploma IV ke atas (termasuk S1, S2, dan S3).
Meski demikian, terjadi peningkatan proporsi pekerja berpendidikan menengah dan tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menjelaskan:
“Selama Februari 2025–Februari 2026, proporsi penduduk bekerja mengalami peningkatan pada jenjang pendidikan SMA, SMK, Diploma I–III, Diploma IV, serta S1, S2, dan S3.”
Rincian pendidikan untuk penduduk bekerja adalah sebagai berikut:
Perubahan ini menunjukkan tren peningkatan kualitas pendidikan tenaga kerja Indonesia, terutama di jenjang menengah dan tinggi.
2. Sebanyak 98,59 juta orang bekerja penuh waktu

Selain itu, BPS mencatat sejumlah perubahan penting dalam struktur ketenagakerjaan Indonesia pada Februari 2026. Dari total 147,67 juta penduduk bekerja, sekitar 66,77 persen atau 98,59 juta orang bekerja penuh waktu (≥35 jam per minggu), mengalami peningkatan dibandingkan Februari 2025 yang sebesar 66,19 persen. Sementara itu, 33,23 persen atau 49,08 juta orang bekerja tidak penuh waktu (1–34 jam per minggu).
"Di antara pekerja tidak penuh, tingkat setengah pengangguran yaitu mereka yang masih mencari pekerjaan menurun menjadi 7,27 persen dari sebelumnya 8 persen," tegasnya.
3. Sebanyak 71 dari 100 penduduk aktif bekerja

Secara keseluruhan, 71 dari 100 penduduk usia kerja aktif di pasar kerja, sementara tingkat pengangguran terbuka turun menjadi 4,68 persen, setara dengan 5 dari 100 orang angkatan kerja. Proporsi pekerja formal tercatat 40,58 persen, sedikit menurun dari tahun sebelumnya.
"Dari sisi sektor, tiga lapangan usaha dengan penyerapan tenaga kerja terbanyak tetap didominasi oleh pertanian, perdagangan besar dan eceran, serta industri manufaktur," tegasnya.
Dengan demikian, perubahan ini menunjukkan adanya tren peningkatan kualitas dan durasi kerja tenaga kerja Indonesia, sekaligus penurunan pengangguran dan peningkatan partisipasi angkatan kerja.
















