Jakarta, IDN Times - Jeratan pinjaman online (pinjol) tidak selalu berawal dari kesulitan ekonomi. Sebagian masyarakat justru memanfaatkan pinjol untuk memenuhi tuntutan gaya hidup hingga mencari pengakuan sosial dari lingkungan pergaulan.
CEO & Lead Financial Trainer QM Financial, Ligwina Hananto, mengatakan persoalan pinjol kini ditemukan di berbagai lingkungan kerja, mulai dari perusahaan swasta, badan usaha milik negara (BUMN), perusahaan multinasional, hingga kementerian.
Menurutnya, terdapat dua kelompok besar masyarakat yang terjerat pinjol. Pertama, mereka yang meminjam uang karena terdesak kebutuhan hidup. Kedua, masyarakat yang menggunakan pinjaman untuk mengikuti gaya hidup dan memenuhi tuntutan pergaulan.
"Korban yang kedua adalah korban validasi. Ingin dapat validasi dari orang luar. Jadi pinjol kadang juga muncul pada orang-orang yang butuh validasi dari orang luar. Yang kayak gitu tentu saja enggak lebih gampang ngeberesinnya," ujar Ligwina di Jakarta, Sabtu (31/10/2026).
(NAIK JAM 7.30).
