Pertamina Garap Potensi Minyak Jelantah untuk SAF dan Green Gasoline

- Pertamina Patra Niaga memperkuat pengumpulan minyak jelantah dari masyarakat, usaha kuliner, dan mitra termasuk koperasi sebagai bahan baku energi alternatif.
- Minyak jelantah berpotensi diolah menjadi Sustainable Aviation Fuel dan Green Gasoline, namun membutuhkan teknologi, infrastruktur kilang, serta sistem pengumpulan yang siap.
- Inisiatif ini menerapkan ekonomi sirkular dengan mengubah limbah menjadi bahan baku bernilai ekonomi, sambil memperluas kolaborasi untuk memperkuat rantai pasok.
Jakarta, IDN Times - PT Pertamina Patra Niaga memperkuat pengumpulan minyak jelantah atau Used Cooking Oil (UCO) untuk mendukung pengembangan bahan bakar alternatif. Minyak jelantah yang dikumpulkan berpotensi diolah menjadi Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bahan bakar penerbangan berkelanjutan dan Green Gasoline.
Pengumpulan minyak jelantah dilakukan dengan melibatkan masyarakat dan berbagai mitra, termasuk koperasi. Langkah ini bertujuan memperluas pasokan bahan baku alternatif yang berasal dari limbah rumah tangga maupun usaha kuliner.
1. Minyak jelantah memiliki potensi dikembangkan jadi bahan baku energi alternatif

PT Pertamina Patra Niaga menggandeng Kementerian Koperasi untuk mengumpulkan minyak jelantah dari masyarakat melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). (Dok/Istimewa). VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga Kitty Andhora mengatakan, minyak jelantah memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi bahan baku energi alternatif. Karena itu, perusahaan berupaya membangun ekosistem pengumpulan yang melibatkan berbagai pihak.
"Pertamina Patra Niaga melihat minyak jelantah memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi sumber bahan baku energi masa depan. Melalui inisiatif pengumpulan ini, kami ingin membangun ekosistem yang melibatkan masyarakat dan berbagai mitra sehingga minyak jelantah dapat dikelola dengan lebih baik dan memiliki nilai tambah. Potensi pemanfaatannya pun tidak terbatas pada pengembangan Sustainable Aviation Fuel, tetapi juga Green Gasoline," jelas Kitty dalam keterangan resmi, Sabtu (31/10/2026).
2. Pertamina Siapkan Kilang untuk Olah Minyak Jelantah Jadi SAF dan Green Gasoline

Kilang Pertamina Plaju (Dok. Pertamina Patra Niaga RU Plaju) Meski demikian, pemanfaatan minyak jelantah menjadi bahan bakar alternatif membutuhkan dukungan teknologi dan infrastruktur pengolahan. Kesiapan kilang Pertamina menjadi salah satu faktor penting untuk mengolah bahan baku tersebut menjadi SAF maupun Green Gasoline.
Kitty mengatakan, pengembangan energi alternatif tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan bahan baku. Sistem pengumpulan dan kemampuan industri dalam mengolah bahan baku juga perlu dipersiapkan agar pemanfaatannya bisa berjalan berkelanjutan.
"Pengembangan energi masa depan membutuhkan kesiapan ekosistem secara menyeluruh, mulai dari ketersediaan bahan baku, sistem pengumpulan, hingga kemampuan industri dalam melakukan pengolahan. Karena itu, Pertamina terus mendorong kolaborasi lintas sektor agar potensi minyak jelantah dapat dimanfaatkan secara optimal dan menghasilkan nilai tambah bagi masyarakat maupun industri energi nasional," tambahnya.
3. Pertamina garap potensi ekonomi dari pengumpulan minyak jelantah

Ilustrasi minyak jelantah (pexels.com/khats cassim) Selain mendukung pengembangan bahan bakar alternatif, pengumpulan minyak jelantah juga menjadi bagian dari penerapan ekonomi sirkular. "Melalui pendekatan ini, limbah yang sebelumnya tidak dimanfaatkan dapat diolah kembali menjadi bahan baku bernilai ekonomi," ungkapnya.
Pertamina Patra Niaga pun akan terus memperluas kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat rantai pasok minyak jelantah sebagai bahan baku pengembangan SAF dan Green Gasoline.





















