Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Harga Cabai Masih Mahal, Mendag: Faktor Cuaca

2 min read
Harga Cabai Masih Mahal, Mendag: Faktor Cuaca
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Selasa (3/11/2026). (IDN Times/Trio Hamdani)
  • Kenaikan harga cabai rawit dan cabai merah keriting dikaitkan dengan cuaca yang menurunkan produksi.

  • Pemerintah mengirim 7 ton cabai dari Jawa Timur ke Halmahera Utara karena perbedaan surplus dan kebutuhan pasokan.

  • Distribusi telur dari daerah surplus juga disiapkan, sementara harga rata-rata nasionalnya masih di bawah acuan pemerintah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengungkapkan kenaikan harga cabai rawit dan cabai merah keriting dipengaruhi kondisi cuaca yang berdampak pada penurunan produksi. Pemerintah telah berkomunikasi dengan pihak terkait mengenai kondisi tersebut.

"Memang cabai rawit, kemudian cabai rawit keriting, cabai rawit merah sedikit kenaikan itu karena memang karena faktor cuaca ya," kata dia di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Selasa (3/11/2026).

  1. 1. Pemerintah sebar cabai dari daerah surplus

    Pedagang bawang dan cabai di Pasar Randik.
    Pedagang bawang dan cabai di Pasar Randik. (IDN Times/Yuliani)

    Meski produksi cabai menurun, Budi mengatakan masih ada daerah yang mengalami surplus. Untuk mengatasi ketimpangan pasokan, pemerintah membantu pengiriman cabai dari daerah yang memiliki kelebihan produksi ke wilayah yang kekurangan.

    Salah satunya melalui pengiriman 7 ton cabai rawit dari Jawa Timur ke Halmahera Utara, Maluku Utara. Pengiriman tersebut dilakukan karena Jawa Timur memiliki surplus cabai, sedangkan Halmahera Utara membutuhkan tambahan pasokan.

    Pengiriman itu merupakan hasil kerja sama Kementerian Perdagangan dengan Badan Pangan Nasional (Bapanas), Bank Indonesia (BI), dan pemerintah daerah.

    "Makanya kemarin yang kita lakukan adalah dengan membantu pengiriman. Jadi kayak pengiriman dari daerah surplus ke yang kekurangnya," ujar dia.

  2. 2. Pemerintah siapkan pengiriman telur dari daerah surplus

    Riyanto
    Harga telur ayam di tingkat peternak Magetan tak kunjung naik. IDN Times/Riyanto.

    Selain cabai, pemerintah juga menyiapkan pengiriman komoditas pangan lain dari daerah yang mengalami surplus ke wilayah yang kekurangan pasokan. Salah satu komoditas yang akan didistribusikan adalah telur ayam.

    Budi mengatakan pemerintah sedang mempersiapkan pengiriman tersebut dalam waktu dekat. Skemanya serupa dengan distribusi cabai, yakni mengalihkan pasokan dari daerah yang memiliki kelebihan produksi ke daerah yang membutuhkan tambahan stok.

    "Nah nanti dalam waktu dekat kita lagi mempersiapkan untuk bisa ngirim komoditas lain misalnya telur. Yang telur yang surplus kita kirim ke yang kurang," tuturnya.

  3. 3. Harga telur saat ini di bawah harga acuan

    Telur hasil produksi peternak (IDN Times /Ruhaili)
    Telur hasil produksi peternak (IDN Times /Ruhaili)

    Budi mengatakan harga rata-rata nasional telur ayam saat ini di kisaran Rp26.400 per kilogram (kg). Angka tersebut masih di bawah harga acuan pemerintah sebesar Rp30 ribu per kg.

    Namun, harga telur di sejumlah daerah masih lebih tinggi karena distribusi pasokan belum berjalan lancar. Karena itu, pemerintah berencana mengirim telur dari wilayah surplus ke daerah yang mencatat harga lebih tinggi.

    "Kita akan kirim ke daerah-daerah yang harganya lebih tinggi, sehingga harga menjadi stabil ya. Kalau harga stabil, harga sesuai acuan, maka peternak juga bisa terus jalan," katanya.

Related Articles

See More
Harga Cabai Masih Mahal, Mendag: Faktor Cuaca