Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Harga Minyak Brent Dekati 98 Dolar AS imbas Konflik Timur Tengah

Harga Minyak Brent Dekati 98 Dolar AS imbas Konflik Timur Tengah
ilustrasi kilang minyak (pexels.com/Ali Mucci)
  • Harga Brent naik ke 97,34 dolar AS per barel setelah sempat menyentuh 98,06 dolar AS, sementara WTI menguat ke 92,63 dolar AS di tengah risiko konflik Timur Tengah.
  • Ancaman terhadap infrastruktur energi, serangan kapal tanker, dan konflik AS-Iran menekan pelayaran Selat Hormuz; rata-rata lalu lintas komoditas turun menjadi 10 kapal per hari.
  • ANZ menilai pasokan Teluk Persia bisa terbatas hingga sisa 2026; Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga, sementara OPEC+ mempertahankan kebijakan produksi Oktober.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Harga minyak mentah dunia melanjutkan tren penguatannya pada perdagangan Selasa (8/9/2026), setelah menyentuh level tertinggi dalam enam pekan terakhir pada sesi sebelumnya. Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya risiko konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah yang memicu kekhawatiran serius terhadap pasokan minyak mentah global.

Eskalasi militer yang terus memanas di sekitar Selat Hormuz menjadi faktor utama yang mendorong para pelaku pasar memperhitungkan premi risiko terhadap harga minyak.

Dilansir Business Today, kontrak berjangka minyak mentah Brent naik 34 sen dolar AS atau setara Rp5.986 (kurs Rp17.606) menuju level 97,34 dolar AS atau setara Rp1.713.768 per barel pada pukul 00.00 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal Amerika Serikat turut menguat 1,15 dolar AS atau setara Rp20.247 menjadi 92,63 dolar AS atau setara Rp1.630.844 per barel.

Reli harga ini melanjutkan penguatan dari sesi Senin (7/9), saat minyak Brent sempat menyentuh level 98,06 dolar AS atau setara Rp1.726.444 sebelum ditutup di level 97,31 dolar AS atau Rp1.713.239 per barel di tengah libur Hari Buruh AS.

  1. 1. Ancaman serangan militer sasar infrastruktur energi Teluk

    kapal militer AS di Selat Hormuz
    kapal militer AS di Selat Hormuz (Official U.S. Navy Page from United States, Public Domain, via Wikimedia Commons)

    Tekanan terhadap pasokan minyak menguat tajam setelah pihak Iran memperingatkan bahwa infrastruktur energi di kawasan Teluk, termasuk aset minyak dan gas milik AS dapat menjadi target penyerangan. Peringatan tersebut dilontarkan menyusul rangkaian aksi saling serang pada akhir pekan tanpa adanya tanda-tanda terobosan diplomasi.

    "Serang aset kami dan Anda akan diserang," kata Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf pada Senin (7/9).

    Pernyataan keras itu tampaknya merespons ucapan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth yang sebelumnya menyebut armada minyak Iran tidak memiliki pertahanan.

    Komando Sentral AS (CENTCOM) melaporkan bahwa militer AS menyerang tiga kapal tanker minyak Iran pada Sabtu (5/9), termasuk satu unit di dekat Pulau Kharg yang menjadi pusat ekspor utama Iran. Tindakan tersebut dilancarkan setelah Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menyerang kapal perang AS yang bertugas di kawasan perairan tersebut.

    Situasi regional kian memanas setelah kilang minyak Jazan milik Saudi Aramco dilaporkan diserang pada Senin (7/9), sebagaimana dilansir Financial Times mengutip dua sumber terkait. Tekanan kawasan semakin kompleks setelah serangan udara Israel ke wilayah Lebanon selatan menewaskan sedikitnya 12 orang pada Senin (7/9) menurut Kementerian Kesehatan Lebanon.

  2. 2. Lalu lintas kapal di Selat Hormuz merosot tajam

    ilustrasi kapal tanker
    ilustrasi kapal tanker (unsplash.com/Shaah Shahidh)

    Firma intelijen maritim Marisks mencatat bahwa aksi saling serang terhadap kapal tanker dan kapal perang menandai eskalasi besar dalam perang yang berlangsung sejak 28 Februari 2026. Marisks menilai kapal tanker komersial saat ini sengaja dimanfaatkan sebagai sarana tekanan ekonomi timbal balik antara kedua belah pihak. Praktik tersebut dinilai telah mengaburkan batasan tegas antara konfrontasi militer dan operasional jalur pelayaran komersial.

    Mengutip data analitik Kpler yang dilaporkan The Nation, lalu lintas komoditas melalui Selat Hormuz rata-rata hanya mencapai 10 kapal per hari selama sepuluh hari terakhir. Volume pergerakan tersebut merupakan yang terendah bagi jalur perairan strategis dunia itu sejak Mei 2026. Kepala wawasan pasar Phillip Nova, Priyanka Sachdeva, mengingatkan bahwa pelemahan ini dapat mengguncang stabilitas pasar energi.

    "Jika lalu lintas kapal tanker mulai melambat secara signifikan, pasar dapat memperhitungkan guncangan pasokan yang jauh lebih besar, dan tanda-tanda itu mulai terlihat," ujar dia.

    Menyikapi eskalasi yang tak kunjung mereda, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei menyatakan, Teheran bersiap mengumumkan zona terlarang di luar Selat Hormuz dalam beberapa hari mendatang. Penasihat Kepresidenan Uni Emirat Arab Anwar Gargash menyebut negaranya tengah menyiapkan rute alternatif bagi perdagangan dan ekspor energi agar tidak tersandera perang AS-Iran.

    Pada saat bersamaan, otoritas Oman mengonfirmasi telah mengevakuasi 16 awak dari kapal tanker milik Arab Saudi yang diserang Iran sepekan sebelumnya, menyusul tewasnya dua pelaut dalam insiden itu.

  3. 3. Proyeksi harga minyak dunia dan ketatnya pasokan global

    Harga Minyak Brent Dekati 98 Dolar AS imbas Konflik Timur Tengah
    ilustrasi barel minyak (pexels.com/Tony Wu)

    Dilansir Business Today, Analis ANZ Daniel Hynes menilai eskalasi militer di Timur Tengah berisiko menekan stabilitas pasokan energi kawasan dalam jangka panjang.

    "Eskalasi konflik Timur Tengah baru-baru ini meningkatkan kemungkinan kebuntuan yang berkepanjangan, diwarnai aksi militer terukur oleh AS dan Iran. Hal ini dapat membuat pasokan Teluk Persia tetap terbatas sepanjang sisa 2026," ujar Daniel dalam catatannya.

    Dia juga memperkirakan volume pengiriman minyak belum akan pulih total ke tingkat sebelum perang hingga akhir kuartal I atau awal kuartal II-2027.

    Prospek disrupsi pasokan yang panjang mendorong Goldman Sachs mengerek perkiraan harga minyak mentah Brent untuk Desember 2026 sebesar 5 dolar AS atau setara Rp88.030 menjadi 85 dolar AS atau setara Rp1.496.510 per barel, serta menaikkan proyeksi WTI sebesar 5 dolar AS menjadi 80 dolar AS atau setara Rp1.408.480 per barel.

    Untuk 2027, Goldman turut mengerek perkiraan Brent ke level 80 dolar AS atau setara Rp1.408.480 per barel dan WTI ke level 75 dolar AS atau setara Rp1.320.450 per barel. Lembaga perbankan tersebut bahkan memperingatkan bahwa harga minyak mentah bisa menembus 120 dolar AS atau setara Rp2.112.720 per barel apabila serangan maritim terus meningkat.

    Di sisi pasokan, kelompok produsen minyak OPEC+ dalam pertemuan pada Minggu (6/9) memilih untuk tidak mengubah kebijakan produksi minyak untuk Oktober 2026.

    Kekhawatiran pasar kian bertambah lantaran analis PVM Energy mencatat stok bensin dan bahan bakar distilat di AS kini berada jauh di bawah tingkat tahun lalu dan rata-rata lima tahunan. Analis Marex Ed Meir turut menilai harga minyak mentah berpeluang besar bertahan tinggi hingga akhir tahun akibat konflik yang berlarut-larut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More