Memahami Tragedi Kepemilikan Bersama dalam Ekonomi, Apa Itu?

- Tragedy of the commons menggambarkan penggunaan sumber daya bersama secara berlebihan karena individu mengejar keuntungan pribadi.
- Teori Garrett Hardin menyoroti sumber daya yang langka, sulit dikecualikan, dan digunakan secara bersama.
- Pengelolaan dapat dilakukan lewat aturan, sanksi, regulasi, konservasi, kepemilikan pribadi, atau tindakan kolektif.
Jakarta, IDN Times - Tragedy of the commons (tragedi kepemilikan bersama) terjadi saat individu lebih mementingkan keuntungan pribadi dibanding kesejahteraan bersama.
Dilansir Investopedia, kondisi ini dapat membuat sumber daya yang digunakan bersama, seperti air dan tanah, dieksploitasi secara berlebihan hingga mengalami kerusakan atau kehabisan.
Tanpa hak kepemilikan eksklusif, setiap orang memiliki kecenderungan untuk memanfaatkan sumber daya tersebut sebanyak mungkin. Pada saat yang sama, tidak ada dorongan yang cukup untuk berinvestasi dalam perawatan atau pengembangannya.
Konsep ekonomi yang diperkenalkan Garrett Hardin ini membahas dampak sosial dari konsumsi sumber daya secara tidak terkendali. Hardin juga menggunakan persoalan pertumbuhan populasi sebagai salah satu contoh dalam pembahasannya.
1. Apa itu tragedy of the commons?

Yurt di padang rumput (pexels.com/Lovesa Chang) Tragedy of the commons merupakan teori ekonomi yang menjelaskan kondisi ketika individu mengeksploitasi sumber daya bersama sampai permintaannya melampaui persediaan. Akibatnya, sumber daya tersebut dapat berkurang hingga tidak lagi tersedia bagi semua orang.
Garrett Hardin membahas konsep tersebut melalui artikel berjudul The Tragedy of the Commons yang terbit di jurnal ilmiah Science pada 1968. Artikel itu membahas kekhawatiran terhadap pertumbuhan populasi yang terus meningkat.
Dalam pembahasannya, Hardin menggunakan contoh lahan penggembalaan domba yang sebelumnya dikemukakan ekonom Inggris William Forster Lloyd.
Lahan penggembalaan yang menjadi milik pribadi cenderung digunakan dengan mempertimbangkan kondisi tanah dan kesehatan hewan ternak. Pemilik memiliki kepentingan untuk menjaga agar lahan tetap dapat digunakan.
Kondisinya berbeda pada lahan penggembalaan bersama. Ketika banyak peternak menggunakan lahan yang sama, jumlah hewan ternak dapat bertambah hingga membuat lahan terlalu padat. Sumber makanan yang tersedia juga harus dibagi di antara seluruh peternak.
Hardin kemudian mengaitkan kondisi tersebut dengan penggunaan sumber daya langka yang dapat diakses secara umum. Konsumsi secara berlebihan membuat sumber daya semakin sulit tersedia.
2. Empat kondisi yang memicu tragedy of the commons

Kawanan ikan laut yang sedang berenang bersama secara terus-menerus di habitatnya (Unsplash/jwimmerli) Tragedy of the commons terjadi ketika suatu sumber daya memiliki empat karakteristik, yakni bersifat saingan dalam konsumsi, tidak dapat dikecualikan, langka, dan termasuk sumber daya milik bersama.
Dalam kondisi tersebut, setiap orang memiliki dorongan untuk menggunakan sumber daya sebanyak mungkin sebelum orang lain menghabiskannya. Tidak ada pula insentif untuk menginvestasikan kembali sumber daya tersebut agar tetap terawat atau dapat diproduksi kembali.
Berikut empat karakteristiknya:
- Bersifat saingan dalam konsumsi (rival good): Konsumsi oleh satu orang mengurangi jumlah yang tersedia bagi orang lain. Konsumen pun harus bersaing untuk mendapatkan barang yang sama.
- Tidak dapat dikecualikan (non-excludable): Seseorang tidak dapat mencegah orang lain untuk ikut mengonsumsi sumber daya tersebut.
- Langka (scarce): Sumber daya memiliki persediaan terbatas. Barang yang tidak langka tidak menimbulkan persaingan dalam konsumsi.
- Sumber daya milik bersama (common-pool resource): Sumber daya tersedia untuk digunakan bersama, tetapi jumlahnya terbatas. Karakteristiknya berada di antara barang publik dan barang pribadi.
3. Solusi untuk mengatasi tragedy of the commons

ilustrasi penggunaan drone dalam pertanian presisi untuk mengelola lahan secara efisien dan terkontrol (pexels.com/Magda Ehlers) Pengelolaan sumber daya bersama dapat dipengaruhi oleh lembaga dan teknologi. Masyarakat dapat membuat aturan terkait penggunaan sumber daya sekaligus menetapkan sanksi bagi pihak yang menggunakannya secara berlebihan.
Pemerintah juga dapat membuat regulasi untuk membatasi penggunaan sumber daya serta melakukan investasi dalam konservasi. Contohnya, pemerintah dapat membatasi jumlah hewan ternak yang boleh digembalakan di tanah milik negara atau menetapkan kuota penangkapan ikan.
Pemberian hak kepemilikan kepada individu menjadi cara lain untuk mengubah sumber daya bersama menjadi barang pribadi. Dari sisi teknologi, hal ini membutuhkan cara untuk mengidentifikasi, mengukur, dan membagi sumber daya bersama menjadi unit atau petak yang dapat dimiliki secara pribadi. Pemberian cap merek pada hewan ternak menjadi salah satu contohnya.
Gagasan mengenai pembagian kepemilikan tersebut berkaitan dengan William Forster Lloyd pada masa penerapan Enclosure Acts oleh Parlemen Inggris. Aturan tersebut menghapus pengaturan tradisional mengenai kepemilikan bersama atas lahan penggembalaan dan ladang, kemudian membaginya menjadi kepemilikan pribadi.
Namun, pengelolaan sumber daya bersama tidak selalu harus dilakukan dengan membaginya menjadi kepemilikan pribadi. Ekonom Elinor Ostrom mendukung aturan tradisional ketika warga desa dan tuan tanah mengelola lahan penggembalaan secara bersama.
Dalam model tersebut, pengelolaan dapat dilakukan melalui rotasi tanaman, penggembalaan secara musiman, serta sanksi terhadap penggunaan berlebihan dan penyalahgunaan sumber daya.
Tindakan kolektif juga dapat digunakan ketika kondisi teknis atau faktor fisik membuat sumber daya bersama sulit dibagi menjadi petak-petak pribadi. Pengaturan konsumsi menjadi salah satu cara untuk mengendalikan persaingan dalam penggunaan sumber daya.











![[QUIZ] Dari Karakter Upin Ipin, Kamu Tebak Kamu Perintis atau Pewaris](https://image.idntimes.com/post/20250509/untitled-design-8-a8d895374ad15b64e137e3070b058e48.jpg)









