Harga Minyak Diproyeksi Turun pada 2026 akibat Banjir Pasokan

- JPMorgan sebut pasokan terlalu melimpah meski permintaan kuat: Harga WTI pada 2026 diperkirakan 4 dolar AS di bawah Brent, sementara Brent berpotensi turun ke kisaran 30-an dolar AS pada 2027
- Goldman Sachs perkirakan pemulihan harga minyak diprediksi pada 2027. Brent diperkirakan dapat kembali naik ke 80 dolar AS per barel pada 2028
Jakarta, IDN Times – Sejumlah bank investasi besar di Wall Street memperkirakan industri minyak akan menghadapi tekanan berat pada 2026 hingga 2027. Proyeksi ini muncul setelah harga minyak turun hampir 20 persen sepanjang tahun ini.
Dalam perkiraan dasar tim komoditas JPMorgan yang dipimpin Natasha Kaneva, harga minyak mentah Brent diproyeksi turun menjadi 58 dolar AS per barel pada 2026. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperkirakan berada 4 dolar AS lebih rendah dari level tersebut.
1. JPMorgan: Pasokan terlalu melimpah meski permintaan kuat

JPMorgan memperingatkan, kelebihan pasokan masih menjadi masalah utama. “Dengan risiko mengulang hal yang sama, pesan kami ke pasar tetap konsisten sejak Juni 2023… Meskipun permintaan kuat, pasokan memang terlalu melimpah,” tulis para analis JPMorgan, dilansir Yahoo Finance.
Bank tersebut melihat harga WTI pada 2026 berada 4 dolar AS di bawah Brent, dan harga 2027 tertekan lagi sekitar 1 dolar AS per barel. Strategis JPMorgan juga menilai, tanpa stabilisasi pasar, Brent berpotensi turun ke kisaran 30-an dolar AS pada 2027, level yang terakhir terlihat saat jatuhnya harga minyak pada awal pandemik COVID-19.
2. Goldman Sachs perkirakan pemulihan baru pada 2027

Goldman Sachs memiliki perkiraan dasar yang serupa dengan JPMorgan untuk tahun depan, yaitu Brent di 56 dolar AS dan WTI di 52 dolar AS. Namun untuk tahun-tahun setelahnya, mereka melihat peluang pemulihan harga.
Dalam catatan analisnya, Goldman menulis, “Kami memperkirakan harga minyak pulih pada 2027 ketika pasar kembali seimbang dan beralih fokus pada insentif investasi mengingat berkurangnya umur cadangan minyak, kematangan shale AS, dan pertumbuhan permintaan yang solid.”
Goldman memperkirakan Brent dapat kembali naik ke 80 dolar AS per barel pada 2028, dengan WTI di 76 dolar AS, selama kelebihan pasokan tidak terus mendominasi pasar.
3. Kelebihan pasokan diperkirakan berlanjut hingga 2026

Kelebihan suplai disebut akan tetap menjadi isu utama. OPEC+ telah meningkatkan produksi setiap bulan sejak April, menambah lebih dari 2 juta barel per hari. Produksi shale AS juga diperkirakan mencapai rekor baru Desember ini, menurut Data Energy Information Administration.
Sementara itu, China menimbun jutaan barel per hari pada paruh pertama 2025, membantu menyerap suplai berlebih. Permintaan dari Timur Tengah stabil, dan kilang India meningkatkan pembelian minyak Urals dari Rusia.
Namun, terdapat lebih dari 1 miliar barel minyak di tanker di seluruh dunia—level tertinggi untuk penimbunan di laut sejak 2023. International Energy Agency memperkirakan surplus pasokan 2026 dapat mencapai 4 juta barel per hari.
Macquarie menilai kondisi ini berpotensi memicu penurunan harga yang signifikan.
“Sebagai ekspektasi dasar, kondisi pasar saat ini mengarah pada kelebihan pasokan yang menghukum pada kuartal IV-2025/kuartal I-2026, yang kami yakini dapat memerlukan penurunan harga minyak yang signifikan dan perubahan kebijakan OPEC,” ujar analis Macquarie.
4. Bank besar nilai industri akan terpaksa kurangi produksi

Dalam proyeksi bersama, JPMorgan dan Goldman Sachs menyebut, pasar pada akhirnya harus beradaptasi. Goldman menulis bahwa harga rendah pada 2025–2026 akan menekan suplai non-OPEC, terlebih sedikit proyek baru yang hadir setelah 15 tahun investasi rendah.
JPMorgan mencatat, “Besarnya ketidakseimbangan pasar yang disarankan kemungkinan tidak sepenuhnya terwujud dalam praktik. Penyesuaian diperkirakan terjadi pada sisi suplai dan permintaan.”
“Kami memperkirakan pasar akan menemukan keseimbangan melalui kombinasi meningkatnya permintaan—yang didorong harga lebih rendah—serta campuran pemangkasan produksi sukarela dan tidak sukarela,” sambung JPMorgan.
Perkiraan dari JPMorgan, Goldman Sachs, dan Macquarie menunjukkan kelebihan pasokan global menjadi faktor utama tekanan harga minyak menuju 2026. Di sisi lain, para analis menilai penyesuaian produksi pada akhirnya akan menjadi langkah penting bagi pasar untuk kembali stabil.

















