AS Kawal Selat Hormuz, 660 Juta Barel Minyak Berhasil Dikirim

- Militer AS mengawal koridor Selat Hormuz sejak awal Mei 2026, memungkinkan lebih dari 660 juta barel minyak mentah dan sekitar 1.300 kapal komersial melintas.
- CENTCOM mencatat 160 juta barel melintas dalam tiga pekan terakhir; ekspor harian meningkat mendekati 10 juta barel, meski masih di bawah level pra-perang.
- Selat Hormuz tetap berisiko tinggi: IMO melaporkan 17 kapal komersial diserang sepanjang Juli–Agustus, menewaskan dan melukai sejumlah pelaut.
Jakarta, IDN Times – Militer Amerika Serikat (AS) memimpin pengamanan koridor khusus di Selat Hormuz demi menjaga kelancaran lalu lintas tanker minyak mentah. Sejak awal Mei 2026, operasi pengawalan ini sukses mengamankan pengiriman lebih dari 660 juta barel minyak mentah dan mendukung pelayaran sekitar 1.300 kapal komersial.
Juru bicara Central Command (CENTCOM), Kapten Angkatan Laut AS Tim Hawkins, mengonfirmasi bahwa sejumlah jalur pelayaran utama masih aman dilalui armada kapal dagang.
"Beberapa rute tetap bebas dan terbuka untuk transit komersial," ujar Hawkins pada Kamis (20/8/2026), dikutip CNBC.
Catatan CENTCOM menunjukkan setidaknya 160 juta barel atau rata-rata di atas 7 juta barel per hari berhasil melintasi selat dalam tiga pekan terakhir, walau angka ini masih di bawah volume pra-perang yang menembus 20 juta barel per hari.
1. Militer AS mengendalikan jalur selatan untuk mengawal tanker

ilustrasi kapal (pexels.com/Alexander Bobrov) Militer AS secara penuh menguasai jalur selatan Selat Hormuz selama dua bulan terakhir untuk mengarahkan tanker kosong menuju pelabuhan regional Teluk sekaligus mengawal kapal bermuatan menuju Laut Arab. Sumber pejabat AS yang mengetahui langsung operasi ini menyebut manuver Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) memang kerap mengganggu, namun Iran tak lagi memegang kendali atas koridor tersebut.
“Korps Garda Revolusi Islam bisa menjadi gangguan, tetapi mereka tidak mengendalikan selat. Kami yang mengendalikan,” tegas pejabat AS tersebut, dikutip Axios. Dikendalikan dari markas Angkatan Darat di Fort Bragg, North Carolina, operasi pengamanan ini juga mengerahkan jet tempur Angkatan Udara AS untuk mencegat ancaman rudal jelajah maupun drone milik IRGC.
Gempuran militer CENTCOM sebelumnya telah melumpuhkan sistem radar Iran, sehingga gelombang serangan balasan Tehran lebih sering meleset meski beberapa kapal sempat terkena tembakan. Dalam dua pekan terakhir, laju ekspor harian terus merangkak naik mendekati 10 juta barel yang diangkut oleh 15-20 tanker setiap malamnya.
2. Pemantau maritim memperkirakan aliran minyak meningkat

ilustrasi kilang minyak (pexels.com/Pixabay) Lembaga pemantau swasta mencatat estimasi yang bervariasi terkait total pasokan minyak yang menembus Selat Hormuz. Analis Senior Intelijen Maritim Windward, Michelle Wiese Bockmann, menilai volume ekspor melonjak pesat berkat payung pengamanan militer AS, sementara Direktur Intelijen dan Riset Maritim Lloyd’s List, Bridget Diakun, mengingatkan bahwa kalkulasi akurat terhambat oleh taktik kapal yang berlayar malam hari demi menghindari jangkauan satelit.
Menteri Energi AS Chris Wright mengklaim volume harian rata-rata sejatinya sudah menyentuh 9 juta barel, menuding pemantau swasta kerap luput menghitung kapal-kapal yang melintas secara tersembunyi. Di sisi lain, Iran mengklaim telah memblokir selat sampai Washington mematuhi poin perjanjian damai tentatif, namun klaim tersebut ditepis Presiden Donald Trump yang menegaskan tak ada ruang negosiasi bagi Tehran.
“Mereka membuang-buang waktu. Buang-buang waktu saja bernegosiasi dengan mereka,” kata Trump.
3. Kapal komersial menghadapi risiko tinggi di Selat Hormuz

Penampakan Selat Hormuz dari satelit (Jacques Descloitres, MODIS Land Rapid Response Team, NASA/GSFC, Public domain, via Wikimedia Commons) Kepala Keselamatan dan Keamanan BIMCO, Jakob Larsen, memaparkan bahwa Selat Hormuz yang berlebar 21 mil laut tersebut masih menjadi titik panas perebutan pengaruh. Pasukan AS memegang kendali kuat di area yang mendekati Oman, sedangkan Iran mempertahankan pengaruhnya di pesisir domestik, membuat kedua belah pihak tak sepenuhnya bisa mendominasi total seluruh wilayah perairan.
Risiko keselamatan di koridor ini berada di level merah setelah Organisasi Maritim Internasional (IMO) melaporkan sedikitnya 17 kapal komersial dihantam serangan sepanjang Juli hingga Agustus. Insiden tersebut menelan korban jiwa dan melukai belasan pelaut, namun operasional tanker tetap menerobos bahaya demi mengincar tarif sewa hingga 500 ribu dolar AS (sekitar Rp8,99 miliar) per hari serta premi gaji kru hingga tiga kali lipat.





















