PLN Indonesia Power dan PGE Garap Geothermal 45 MW di Lampung-Sulut

- PLN Indonesia Power dan PGE menandatangani LoI jual beli listrik untuk proyek PLTP berkapasitas total 45 MW di Ulubelu, Lampung, dan Lahendong, Sulawesi Utara.
- Kedua proyek memakai teknologi bottoming unit untuk mengolah kembali brine menjadi listrik bersih, mengoptimalkan wilayah panas bumi eksisting tanpa membuka lapangan baru.
- Kemitraan ini berpotensi diperluas hingga 230 MW, mendukung pasokan listrik stabil, transisi energi hijau, kemandirian energi nasional, serta manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Jakarta, IDN Times - PT PLN Indonesia Power bekerja sama dengan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) memperkuat ketahanan energi nasional melalui pemanfaatan potensi panas bumi.
Sinergi kedua entitas ini ditandai dengan penandatanganan Letter of Intent (LoI) untuk jual beli listrik dari dua proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) berkapasitas total 45 Megawatt (MW).
Kerja sama strategis ini mencakup pengembangan Ulubelu Binary Bottoming Unit 30 MW di Lampung serta Lahendong Binary Bottoming Unit 15 MW di Sulawesi Utara.
1. Indonesia punya potensi panas bumi yang besar

Ilustrasi pengoperasian geothermal (Pixels.com) Direktur Utama PLN Indonesia Power, Bernadus Sudarmanta, menegaskan pentingnya mengoptimalkan kekayaan energi terbarukan Indonesia menjadi sumber daya bersih yang andal.
“Melalui kolaborasi PLN Indonesia Power dan PGE pada Lahendong dan Ulubelu, kami ingin mengoptimalkan potensi tersebut menjadi energi bersih yang andal sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional,” ujar Bernadus dalam keterangan tertulis, Sabtu (22/8/2026).
Ia juga menekankan percepatan transisi energi hijau memerlukan sinergi solid antara pemerintah, PLN Group, PGE, investor, dan para pelaku industri.
“Sinergi antara PLN, PLN Indonesia Power, PGE, pemerintah, investor, dan seluruh pelaku industri menjadi kunci untuk mempercepat hadirnya pembangkit bersih yang andal dan berkelanjutan,” katanya.
2. Pemanfaatan teknologi modern bottoming unit

Salah satu lapangan panas bumi milik PT Pertamina Geothermal Energy Tbk atau PGE (Dok PGE) Pengembangan dua proyek tersebut mengusung teknologi bottoming unit guna mengolah kembali fluida panas bumi (brine) yang belum terpaksa menjadi tambahan pasokan listrik bersih. Panas tersebut selanjutnya diolah menjadi tambahan listrik bersih dari pembangkit geothermal yang sudah beroperasi.
Inovasi ini memungkinkan optimalisasi daya di Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) eksisting tanpa harus membuka lapangan geothermal baru. Selain kesepakatan awal 45 MW, kemitraan strategis ini menyimpan potensi ekspansi kapasitas hingga mencapai 230 MW.
3. Mendorong dampak positif bagi perekonomian

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia saat peluncuran B50 di Rest Area KM 57 Tol Jakarta-Cikampek, Karawang, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026). (IDN Times/Lia Hutasoit) Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyampaikan jika kekayaan alam ini harus terealisasi dalam bentuk proyek nyata yang berdampak langsung pada masyarakat.
“Indonesia dianugerahi potensi panas bumi yang luar biasa besar. Namun, potensi itu tidak boleh hanya tersimpan di dalam bumi atau berhenti menjadi angka. Energinya harus kita hadirkan menjadi listrik yang memberi manfaat bagi masyarakat, menggerakkan ekonomi, dan memperkuat kemandirian energi bangsa,” kata Bahlil.
4. Pasokan listrik andal dan berkelanjutan

Ilustrasi panas bumi (pixabay.com/longdan91) Sementara itu, Direktur Jenderal EBTKE, Eniya Listiani Dewi, mengulas keunggulan panas bumi sebagai penyuplai beban listrik yang stabil secara berkelanjutan.
Ia memaparkan rekam jejak panjang pemanfaatan panas bumi nasional yang dimulai sejak pengeboran perdana di Kamojang pada 1926.
“Seratus tahun sejak pengeboran pertama dilakukan pada 1926, uapnya masih mengalir dan terus memberi manfaat bagi negeri,” ujar Eniya.
Menurutnya, konsistensi uap Kamojang yang tetap mengalir hingga satu abad menjadi bukti nyata keandalan panas bumi dalam mendukung kemandirian energi Indonesia.



















