Ekonom Bank Danamon, Irman Faiz, menilai ketidakpastian politik, terutama yang berkaitan dengan tata kelola pemerintahan (governance), berpotensi meningkatkan premi risiko investasi di Indonesia. Menurutnya, investor akan mencermati apakah perkembangan politik tersebut berdampak terhadap kepastian hukum, kredibilitas institusi, hingga konsistensi kebijakan pemerintah.
"Pelemahan pasar saham tidak bisa serta-merta dikaitkan dengan satu isu politik domestik," ujar Irman.
Irman mencatat, pada penutupan perdagangan 3 November 2026, IHSG anjlok 3,78 persen ke level 4.904,29. Penurunan tersebut juga disertai aksi jual bersih investor asing sekitar Rp575 miliar.
Namun, tekanan di pasar saham belum diikuti oleh pergerakan sebanding di pasar keuangan lainnya. Imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun relatif stabil di kisaran 7,71 persen, sementara pergerakan harian rupiah masih terbatas.
"Artinya, tekanan pada aset berisiko ini belum cukup untuk menyimpulkan adanya penurunan kepercayaan yang meluas terhadap stabilitas ekonomi Indonesia akibat satu isu politik ini," ujar Irman.