Imbas Perang Timur Tengah, BI Ungkap Modal Asing Kabur-Rupiah Tertekan

- Bank Indonesia menyoroti dampak perang Timur Tengah yang memicu ketidakpastian global, kenaikan harga minyak, serta pelemahan ekonomi dan pasar keuangan dunia.
- Eskalasi konflik membuat investor asing menarik modal dari Indonesia dan menyebabkan rupiah terdepresiasi 1,29 persen sepanjang Maret 2026.
- BI fokus menjaga stabilitas rupiah lewat intervensi moneter, pemantauan pasar valas NDF selama libur panjang, serta peningkatan transaksi mata uang lokal melalui skema LCT.
Jakarta, IDN Times - Bank Indonesia (BI) membeberkan sejumlah dampak perang di Timur Tengah yang dipicu serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran terhadap perekonomian Indonesia.
Gubernur BI, Perry Warjiyo mengatakan, perang tersebut meningkatkan ketidakpastian ekonomi global. Dengan kenaikan harga minyak dunia, pertumbuhan ekonomi global akan melemah, dan inflasi meningkat.
“Dan juga tadi kami sampaikan menambah dampaknya terhadap pasar keuangan global. Kita sudah merasakan pasar keuangan global terkena dampak dari perang di Timur Tengah,” kata Perry dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Selasa (17/3/2026).
1. Modal asing cabut dari RI

Kondisi tersebut menyebabkan investor melakukan langkah antisipasi, salah satunya dengan menarik modal dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Kita melihat bahwa aliran modal portofolio asing itu keluar dari negara-negara emerging market,termasuk tentu saja tidak terkecuali Indonesia,” ujar Perry.
2. Rupiah terdepresiasi 1,29 persen

Dalam kesempatan yang sama, Deputi Gubernur Senior (DGS) BI, Destry Damayanti mengatakan, eskalasi konflik yang terjadi di Timur Tengah juga menyebabkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah hingga 1,29 persen.
“Jadi kalau kita lihat di posisi penutupan kemarin, sepanjang Maret rupiah terdepresiasi 1,29 persen,” ucap Destry.
Namun, menurut dia tekanan nilai tukar terhadap dolar AS juga dirasakan negara-negara tetangga.
“Tapi kita lihat beberapa negara lain, seperti India itu 1,52 persen, Filipina 3,71 persen, Thai Baht 4,47 persen. Jadi artinya kita di kawasan ini memang menghadapi permasalahan yang sama. Tapi di BI fokus untuk jaga stabilitas tersebut,” tutur Destry.
3. BI fokus lakukan stabilitas rupiah

Perry mengatakan, BI telah menyiapkan strategi untuk menangani tekanan konflik geopolitik di Timur Tengah.
“Kami terus akan mengoptimalkan di moneter, tiga instrumen intervensi dengan kecukupan cadangan devisa, dan diperkuat dengan kebijakan suku bunga,” ujar Perry.
Destry mengatakan, untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah saat libur panjang Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri, BI terus memantau pergerakannya di Pasar Non-Deliverable Forward (NDF) atau pasar valuta asing offshore (luar negeri).
“Nah ini yang kami terus berjaga-jaga, 24 jam kami terus memantau pasar untuk rupiah dolar yang dalam hal ini kami lihat melalui pasar NDF. Jadi dia akan terus, walaupun kita Lebaran libur, tapi kami di BI terus bekerja sama dengan BI New York terus melakukan pemantauan. Dan jika dibutuhkan kami akan melakukan intervensi di pasar NDF,” tutur Destry.
Di sisi lain, upaya stabilitas terus dilakukan dengan meningkatkan transaksi menggunakan mata uang lain melalui Local Currency Transaction (LCT).
“Februari LCT mencapai 4,1 miliar dolar AS. Dan yang terbesar di sini adalah China, di mana per bulan mereka mencapai 3 miliar dolar AS. Total mencapai 4,12 miliar dolar AS per Februari. Artinya kebutuhan mata uang lain selain dolar makin meningkat di Indonesia,” ujar Destry.
















