IMF Sebut Konflik di Timur Tengah Bakal Guncang Ekonomi Global

- IMF memperingatkan konflik Timur Tengah yang melibatkan AS, Israel, dan Iran dapat mengguncang ekonomi global lewat lonjakan harga energi, inflasi tinggi, serta turunnya kepercayaan pasar.
- Kristalina Georgieva menegaskan IMF terus memantau situasi dan akan merilis kajian dampak konflik terhadap ekonomi dunia dalam laporan World Economic Outlook pada April 2026.
- Serangan militer antara AS-Israel dan Iran masih berlanjut, meluas hingga Lebanon serta negara Teluk lain, menyebabkan korban jiwa dan meningkatkan ketegangan kawasan.
Jakarta, IDN Times - International Monetary Fund (IMF) menyebut konflik di Timur Tengah yang dipicu serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran bakal mengguncang ketahanan ekonomi global. Menurut Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, ini terjadi karena konflik tersebut bisa menyebabkan lonjakan harga energi, kenaikan inflasi, dan penurunan sentimen pasar.
“Kita hidup di dunia yang penuh dengan guncangan yang lebih sering dan tidak terduga. Sebagian besar waktu, kita tidak dapat memprediksi secara pasti apa yang akan terjadi. Namun, setiap saat, kita dapat berusaha untuk siap menghadapinya,” kata Georgieva dalam pidatonya di Konferensi Asia untuk 2050 di Bangkok, Thailand, Kamis (5/3/2026), seperti dilansir The Strait Times.
1. Wakil Direktur Pelaksana IMF sudah menyatakan hal serupa

Sebelumnya, Wakil Direktur Pelaksana IMF, Daniel Katz, sudah menyatakan hal serupa. Dalam pernyataannya di acara yang digelar Milken Institute Future of Finance di Washington DC, AS, Selasa (3/3/2026), ia mengingatkan kepada seluruh negara di dunia untuk bersiap. Sebab, konflik yang terjadi di Timur Tengah bisa berdampak buruk terhadap ekonomi global.
Meski begitu, Katz menegaskan untuk jangan terlalu khawatir soal ancaman tersebut. Sebab, jika perang di Timur Tengah selesai lebih awal, maka kondisi ekonomi global akan kembali pulih.
"Konflik ini bisa berdampak besar pada ekonomi global di berbagai metrik, baik itu inflasi, pertumbuhan, dan sebagainya. Namun, masih terlalu dini untuk memiliki keyakinan yang pasti," ujar Katz dilansir Anadolu Agency.
2. IMF terus memantau situasi di Timur Tengah

Lebih lanjut, Georgieva mengatakan, IMF terus memantau situasi konflik di Timur Tengah. Terlebih, konflik di kawasan tersebut kini juga tidak hanya melibatkan AS, Israel, dan Iran saja, tetapi juga sudah melibatkan negara-negara lain, seperti Arab Saudi, Qatar, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Lebanon.
Georgieva menambahkan, IMF akan melakukan sejumlah kajian soal konflik di Kawasan Timur Tengah, terutama soal dampaknya terhadap ekonomi global. Hasil kajian tersebut akan dipublikasikan dalam dokumen World Economic Outlook pada April 2026 mendatang.
3. AS-Israel masih melakukan serangan ke Iran hingga kini

Saat ini, agresi militer AS dan Israel terhadap Iran masih berlanjut. Serangan terbaru terjadi pada Rabu (4/3/2026) malam waktu setempat. Saat itu, Israel kembali melakukan serangan ke Ibu Kota Iran, Tehran. Selain itu, mereka juga melakukan serangan ke Ibu Kota Lebanon, Beirut. Israel menyerang Lebanon untuk membalas milisi Hizbullah yang membantu Iran menyerang AS dan Israel.
Di sisi lain, Iran juga sedang gencar melakukan serangan balasan ke AS dan Israel. Pada Selasa lalu, misalnya, Iran menyerang Kedutaan Besar AS di Riyadh, Arab Saudi. Serangan tersebut menyebabkan kerusakan dan kebakaran di komplek Kedutaan Besar AS yang ada di sana. Konsulat Jenderal AS di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, juga sudah terkena serangan dari Iran.
Selain itu, Iran juga melancarkan serangan ke sejumlah kota besar yang ada di Israel. Beberapa di antaranya, seperti Tel Aviv dan Beit Shemesh. Serangan tersebut menewaskan belasan orang.


















