Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Impor Tembus 1,98 Juta Barel, India Lanjut Beli Minyak Rusia

Impor Tembus 1,98 Juta Barel, India Lanjut Beli Minyak Rusia
ilustrasi kapal pengangkut minyak (unsplash.com/Fredick F.)
Intinya Sih
  • Impor minyak Rusia ke India mencapai rekor 1,98 juta barel per hari pada Maret 2026 sebelum turun karena perawatan kilang Nayara Energy, namun diperkirakan akan meningkat kembali bulan berikutnya.
  • Penutupan Selat Hormuz akibat konflik AS-Israel-Iran mengganggu rantai pasokan energi global, membuat India bergantung pada sumber alternatif dan memanfaatkan pengecualian sanksi sementara dari Amerika Serikat.
  • India tetap membeli minyak Rusia dengan harga lebih murah meski ada tekanan dan sanksi AS, menjadikannya pembeli terbesar lewat jalur laut sejak invasi Rusia ke Ukraina.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times – Pengiriman minyak mentah Rusia ke India mencapai rata-rata 1,98 juta barel per hari sepanjang Maret 2026. Data firma intelijen Kpler menunjukkan angka tersebut menjadi level tertinggi sejak Juni 2023. Memasuki April, rata-rata impor turun ke 1,57 juta barel per hari.

Penurunan volume ini berkaitan dengan perawatan fasilitas Nayara Energy yang memiliki kapasitas 400 ribu barel per hari dan dikenal banyak mengolah minyak Rusia. Pihak eksekutif kilang memperkirakan angka impor akan kembali meningkat pada bulan berikutnya.

Di sisi lain, setelah pengecualian sanksi pertama dari Amerika Serikat (AS) pada awal Maret, India telah mengamankan sekitar 60 juta barel minyak Rusia untuk pengiriman bulan ini. Kebijakan tersebut sempat diperluas dan diperpanjang, namun masa pengecualian 30 hari berakhir pada Sabtu (11/4/2026). Meski begitu, perusahaan penyuling di India tetap berencana melanjutkan pembelian dari Rusia.

1. India prioritaskan pasokan energi di tengah tekanan pasar

Bendera India (pexels.com/Studio Art Smile)
Bendera India (pexels.com/Studio Art Smile)

India masih bergantung pada impor untuk memenuhi sekitar 90 persen kebutuhan minyak mentahnya. Kondisi ini terjadi di tengah terbatasnya pasokan dan kenaikan harga sejak konflik di Asia Barat meningkat. Dampaknya juga berpotensi menahan laju pertumbuhan ekonomi negara tersebut.

Rusia menawarkan gas alam cair (LNG) ke pasar Asia dengan harga sekitar 40 persen lebih rendah dibanding harga global. Namun demikian, India menghadapi hambatan dalam mengakses pasokan tersebut akibat pembatasan sanksi.

Sujata Sharma dari Kementerian Minyak India menyampaikan arah kebijakan energi negaranya dalam forum di New Delhi serta dalam rapat antar-kementerian yang membahas situasi Asia Barat.

“Prioritas kami adalah mendapatkan energi yang dibutuhkan untuk memenuhi permintaan domestik kami,” katanya, dikutip The Print.

Menurut Sharma, keputusan impor selalu mempertimbangkan aspek komersial dan teknis yang relevan bagi kilang. Ia juga menjelaskan bahwa kebutuhan energi India sangat besar, dengan konsumsi produk petroleum tahun lalu mencapai sekitar 24–25 crore ton. Fokus utama tetap pada ketersediaan pasokan agar permintaan dalam negeri dapat terpenuhi melalui pembelian yang dinilai layak oleh penyuling.

2. Penutupan Selat Hormuz ganggu rantai pasokan energi

Penampakan Selat Hormuz dari satelit
Penampakan Selat Hormuz dari satelit (Jacques Descloitres, MODIS Land Rapid Response Team, NASA/GSFC, Public domain, via Wikimedia Commons)

Serangan oleh AS dan Israel terhadap Iran menyebabkan penutupan Selat Hormuz. Jalur strategis ini merupakan jalur utama distribusi minyak dari kawasan Teluk Persia. Situasi tersebut memicu AS mengeluarkan pengecualian sanksi sementara, sementara India berupaya menjaga pasokan energinya.

Departemen Keuangan AS turut memberikan kelonggaran sementara untuk minyak Iran yang dikirim melalui jalur laut. Namun, penyuling India hanya memperoleh manfaat terbatas dari opsi tersebut maupun sumber lain karena kekhawatiran terhadap pihak pemasok dan perantara.

Sebelumnya, wilayah Asia Barat menyumbang sekitar 50–52 persen dari total impor minyak India. Porsi ini turun menjadi sekitar 40–45 persen setelah sanksi AS terhadap perusahaan Rusia diberlakukan. Saat ini, sekitar 70 persen impor India berasal dari sumber yang tak melewati Selat Hormuz, dilansir The Hindu Business Line.

Konflik di kawasan tersebut turut mengganggu pasokan minyak mentah, LNG, serta gas petroleum cair dari Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, dan Qatar. Hingga kini, belum ada kepastian kapan jalur di Selat Hormuz dapat kembali normal, sementara pemulihan infrastruktur energi diperkirakan memerlukan waktu berbulan-bulan.

3. India manfaatkan harga murah minyak Rusia

ilustrasi bendera Rusia (unsplash.com/Egor Filin)
ilustrasi bendera Rusia (unsplash.com/Egor Filin)

India menjadi pembeli terbesar minyak mentah Rusia melalui jalur laut sejak invasi ke Ukraina pada 2022. Negara ini memanfaatkan harga yang lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya.

Pada tahun lalu, pemerintah AS di bawah Presiden Donald Trump meningkatkan tekanan kepada India agar menghentikan impor tersebut. Kebijakan itu mencakup tarif hukuman serta sanksi terhadap dua produsen besar Rusia, yaitu Rosneft dan Lukoil.

Data firma intelijen Vortexa menunjukkan volume minyak Rusia yang tersimpan di kapal sempat mencapai sekitar 155 juta barel pada awal Januari 2026. Angka ini lebih tinggi dibandingkan sekitar 93,2 juta barel pada pertengahan tahun sebelumnya. Saat ini, volume yang masih berada di laut tercatat sekitar 100 juta barel.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in Business

See More