Indeks Keyakinan Konsumen Juni 2026 Turun, BI Fokus Lakukan Ini

- Indeks Keyakinan Konsumen Juni 2026 turun ke 117,8 dari 120,9, namun masih berada di zona optimistis menurut survei Bank Indonesia.
- Bank Indonesia fokus memperkuat UMKM lewat Program Transformasi Kewirausahaan Terpadu yang menargetkan peningkatan daya saing dan penciptaan lapangan kerja baru.
- BI juga mendorong pertumbuhan kredit perbankan dan mengoptimalkan bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas serta memperkuat pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Jakarta, IDN Times - Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) per akhir Juni 2026 turun menjadi 117,8.
Sebelumnya, pada Mei 2026, IKK berada pada level 120,9. Meski begitu, posisi IKK pada Juni 2026 disebut masih berada di zona optimistis.
Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso mengatakan pihaknya terus berupaya mendorong pertumbuhan ekonomi Tanah Air sevata berkelanjutan. Salah satunya melalui pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang bisa meningkatkan penyerapan lapangan kerja.
“Pada tahun 2025, omzet UMKM binaan Bank Indonesia mencapai Rp7,02 triliun atau tumbuh 23,1 persen (yoy), dengan pertumbuhan tertinggi pada omzet UMKM Ekspor (21 persen) dan UMKM Digital (25 persen),” kata Ramdan dalam keterangan resmi, Rabu (8/7/2026).
1. BI genjot program transformasi kewirausahaan UMKM

Ramdan mengatakan, capaian dari program pengembangan UMKM tersebut diperkirakan terus bertumbuh seiring implementasi Program Transformasi Kewirausahaan UMKM Terpadu, yang tahun ini menargetkan lahirnya 400 barista bersertifikasi internasional, 50 inovasi wastra baru, 200 pesantren produsen air minum dalam kemasan, dan 10 pesantren pengelola pertanian terintegrasi.
“Berbagai program tersebut diarahkan untuk memperkuat ekosistem kewirausahaan nasional, meningkatkan nilai tambah dan daya saing UMKM, memperluas kesempatan kerja, serta memperkuat kontribusi UMKM terhadap pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” ucap Ramdan.
2. Kredit perbankan tumbuh

Bank Indonesia juga melakukan percepatan penyaluran kredit melibatkan Pemerintah, otoritas terkait, perbankan, dan pelaku usaha. Upaya tersebut didukung Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM), turut memperkuat fungsi intermediasi perbankan dan pembiayaan bagi dunia usaha.
“Hal ini tecermin dari kredit perbankan mampu tumbuh 11,51 persen (yoy) pada Mei 2026, meningkat dibandingkan 9,69 persen (yoy) pada akhir 2025. Peningkatan pembiayaan sektor produktif tersebut akan semakin memperkuat aktivitas dan pertumbuhan ekonomi,” tutur Ramdan.
3. Bauran kebijakan terus dioptimalkan

Dia memastikan, BI akan terus mengoptimalkan bauran kebijakan serta memperkuat sinergi dengan pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan.
“Ini untuk menjaga stabilitas, memperkuat pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, serta turut mendukung penciptaan lapangan kerja,” kata Ramdan.




















