Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ilustrasi inflasi (IDN Times/Arief Rahmat)
  • BPS mencatat inflasi bulanan Oktober 2026 sebesar 0,22 persen, sedangkan inflasi tahunan mencapai 3,23 persen.

  • Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan inflasi 0,51 persen.

  • Komponen harga bergejolak mengalami inflasi 0,77 persen, terutama dipengaruhi sejumlah komoditas pangan seperti cabai dan tomat.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Juli 2025

Inflasi bulanan tercatat 0,30 persen.

Agustus 2025

Inflasi bulanan tercatat -0,08 persen.

September 2025

Inflasi bulanan tercatat 0,21 persen.

Oktober 2025

Inflasi bulanan tercatat 0,28 persen.

November 2025

Inflasi bulanan tercatat 0,17 persen.

Desember 2025

Inflasi bulanan tercatat 0,64 persen.

Januari 2026

Inflasi bulanan tercatat -0,15 persen.

Februari 2026

Inflasi bulanan tercatat 0,68 persen.

Maret 2026

Inflasi bulanan tercatat 0,41 persen.

April 2026

Inflasi bulanan tercatat 0,13 persen.

Mei 2026

Inflasi bulanan tercatat 0,28 persen.

Juni 2026

Inflasi bulanan tercatat 0,44 persen.

Juli 2026

Inflasi bulanan tercatat -0,14 persen.

Agustus 2026

Inflasi bulanan tercatat 0,21 persen.

September 2026

Inflasi bulanan tercatat 0,30 persen. Komponen inti mengalami inflasi 0,10 persen, sedangkan komponen harga yang diatur pemerintah mencatat inflasi yang mendekati nol.

Oktober 2026

Inflasi bulanan tercatat 0,22 persen, inflasi tahunan 3,23 persen, dan inflasi tahun kalender 2,40 persen.

2/11/2026

Ateng Hartono menyampaikan data inflasi dalam konferensi pers.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Inflasi bulanan Oktober 2026 tercatat sebesar 0,22 persen, sedangkan inflasi tahunan mencapai 3,23 persen.
  • Who?
    Badan Pusat Statistik mencatat angka inflasi tersebut. Ateng Hartono menyampaikan data dalam konferensi pers.
  • Where?
    Data disampaikan dalam konferensi pers BPS di Jakarta.
  • When?
    Inflasi yang dibahas terjadi pada Oktober 2026 dan disampaikan pada Senin (2/11/2026).
  • Why?
    Makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil inflasi terbesar, sementara komponen harga bergejolak dipengaruhi cabai, tomat, dan sejumlah sayuran.
  • How?
    Inflasi dihitung secara bulanan, tahunan, dan tahun kalender berdasarkan kelompok pengeluaran serta komponen penyumbangnya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

BPS bilang harga barang pada Oktober 2026 naik sedikit, yaitu 0,22 persen dari bulan sebelumnya. Harga makanan, minuman, tembakau, cabai, dan tomat banyak ikut naik. Ada juga barang yang harganya turun, seperti emas perhiasan. BPS mencatat inflasi tahunan sebesar 3,23 persen.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Data BPS memberikan gambaran terperinci mengenai perubahan harga pada Oktober 2026, termasuk kelompok yang paling berkontribusi dan komoditas yang mengalami deflasi. Rincian inflasi bulanan, tahunan, serta tahun kalender membantu melihat perkembangan harga dari beberapa ukuran yang berbeda secara lebih jelas.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi sebesar 0,22 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) pada Oktober 2026 dibandingkan September 2026. Sementara itu, inflasi tahunan (year-on-year/yoy) mencapai 3,23 persen dibandingkan Oktober 2025.

"Secara tahun kalender atau year-to-date terjadi inflasi sebesar 2,40 persen," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam konferensi pers, Senin (2/11/2026).

1. Makanan, minuman, dan tembakau sumbang inflasi terbesar

Ilustrasi. Petani tembakau di Desa Ngale, Kecamatan Pilangkenceng, Kabupaten Madiun pilih panen dini. (IDN Times/Riyanto)

Berdasarkan kelompok pengeluaran, makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi tertinggi sebesar 0,51 persen. Kelompok tersebut juga memberikan andil inflasi terbesar, yakni 0,15 persen.

Berikut rincian inflasi dan andil inflasi berdasarkan kelompok pengeluaran pada Oktober 2026:

  1. Makanan, Minuman, dan Tembakau: inflasi 0,51 persen dengan andil inflasi 0,15 persen

  2. Pakaian dan Alas Kaki: inflasi 0,06 persen dengan andil inflasi mendekati nol

  3. Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga: inflasi 0,07 persen dengan andil inflasi 0,01 persen

  4. Perlengkapan, Peralatan, dan Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga: inflasi 0,19 persen dengan andil inflasi 0,01 persen

  5. Kesehatan: inflasi 0,32 persen dengan andil inflasi 0,01 persen

  6. Transportasi: inflasi 0,13 persen dengan andil inflasi 0,02 persen

  7. Informasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan: inflasi 0,11 persen dengan andil inflasi 0,01 persen

  8. Rekreasi, Olahraga, dan Budaya: inflasi 0,11 persen dengan andil inflasi mendekati nol

  9. Pendidikan: inflasi 0,06 persen dengan andil inflasi mendekati nol

  10. Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran: inflasi 0,19 persen dengan andil inflasi 0,02 persen

  11. Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya: deflasi 0,06 persen dengan andil deflasi 0,01 persen.

"Komoditas yang dominan mendorong deflasi pada kelompok ini yaitu emas perhiasan dengan andil deflasi sebesar 0,01 persen," ujar dia.

2. Inflasi komponen bergejolak mencapai 0,77 persen

Ilustrasi pedagang cabai, bawang, dan sembako lainnya di Pasar Badung. (IDN Times/Yuko Utami)

Berdasarkan komponen penyumbangnya, seluruh kelompok mengalami inflasi pada Oktober 2026. Ketiga komponen tersebut meliputi inflasi inti, harga yang diatur pemerintah, dan harga bergejolak.

Komponen inti mengalami inflasi sebesar 0,12 persen dengan andil inflasi 0,07 persen. Angka tersebut meningkat dibandingkan September 2026 sebesar 0,10 persen. BPS tidak mencatat komoditas yang dominan memberikan andil atau sumbangan terhadap inflasi komponen inti.

Sementara itu, komponen harga yang diatur pemerintah mengalami inflasi sebesar 0,09 persen dengan andil inflasi 0,02 persen. Pada September 2026, komponen ini mencatat inflasi yang mendekati nol. Tarif angkutan udara menjadi komoditas yang dominan memberikan andil terhadap inflasi kelompok tersebut.

"Komponen harga bergejolak mengalami inflasi sebesar 0,77 persen. Komponen ini memberikan andil inflasi terbesar, yaitu andilnya 0,13 persen. Adapun komoditas yang dominan memberikan andil inflasi terutama cabai merah, cabai rawit, tomat, sawi hijau, labu siam atau jipang, dan juga sawi putih atau pecai atau pitsai," tuturnya.

3. Perkembangan inflasi dari waktu ke waktu

Ilustrasi inflasi (Foto: IDN Times)

Sepanjang periode Juli hingga Desember 2025, pergerakan inflasi bulanan tercatat sebagai berikut:

  • Juli 2025: 0,30 persen

  • Agustus 2025: -0,08 persen

  • September 2025: 0,21 persen

  • Oktober 2025: 0,28 persen

  • November 2025: 0,17 persen

  • Desember 2025: 0,64 persen.

Sementara itu, perkembangan inflasi bulanan sepanjang 2026 hingga Oktober tercatat sebagai berikut:

  • Januari 2026: -0,15 persen

  • Februari 2026: 0,68 persen

  • Maret 2026: 0,41 persen

  • April 2026: 0,13 persen

  • Mei 2026: 0,28 persen

  • Juni 2026: 0,44 persen

  • Juli 2026: -0,14 persen

  • Agustus 2026: 0,21 persen

  • September 2026: 0,30 persen

  • Oktober 2026: 0,22 persen.

Curated For You

Editorial Team

Related Article