Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Pemerintah Cegah Negara Lain Nimbun Nikel RI Saat Harga Anjlok

3 min read
Pemerintah Cegah Negara Lain Nimbun Nikel RI Saat Harga Anjlok
ilustrasi nikel (Unsplash/Paul-Alain Hunt)
  • Bahlil menyoroti harga nikel yang berada di bawah 16 ribu dolar AS per ton akibat produksi terlalu besar dan kelebihan pasokan hampir 800 ribu ton.

  • Ia meminta pengendalian pasokan dan permintaan nikel melalui RKAB agar produksi menyesuaikan kondisi pasar.

  • Bahlil mendorong pembahasan bersama antara pelaku usaha, pemerintah, dan akademisi untuk mencari format pengelolaan sumber daya alam yang ideal.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Menteri Koordinator (Menko) Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia menyoroti praktik perdagangan nikel di tengah kondisi kelebihan pasokan (oversupply) di pasar global. Dalam hal ini nikel yang telah diolah jadi barang setengah jadi.

"Kalau harganya enggak bagus, nanti ada satu negara tertentu menampung barang setengah jadi ini dengan harga yang murah, untuk kemudian dijadikan sebagai cadangan di negara dia, dan tunggu pada saat harga naik, kemudian dia mainkan," katanya dalam Minerba Convex, Senin (2/11/2026).

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) itu menjelaskan, harga nikel saat ini berada di bawah 16 ribu dolar AS per ton. Penurunan harga tersebut terjadi karena produksi yang terlalu besar. Kondisi itu menyebabkan kelebihan pasokan hampir 800 ribu ton.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat harga nikel sulit naik. Dia pun meminta pelaku industri dan pengusaha tambang menahan diri agar tidak terus menggenjot produksi.

  1. 1. Bahlil minta produksi nikel dikendalikan lewat RKAB

    Ilustrasi tambang nikel (pexels.com/Piotr Arnoldes)
    Ilustrasi tambang nikel (pexels.com/Piotr Arnoldes)

    Bahlil meminta Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno menerapkan strategi pengendalian pasokan dan permintaan nikel melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).

    "Jadi, Pak Dirjen, menurut saya, strategi untuk mengendalikan supply and demand lewat RKAB untuk di nikel, lakukan. Saya yang bertanggung jawab untuk kebaikan bangsa dan negara. Enggak usah ragu-ragu. Pasti banyak yang protes, saya tahu," tuturnya.

    Menurut Bahlil, pengelolaan sumber daya alam tidak boleh hanya berorientasi pada kepentingan saat ini. Pemerintah juga harus mempertimbangkan ketersediaan sumber daya alam untuk generasi mendatang.

    Dia menilai, apabila harga komoditas belum memberikan keuntungan maksimal, produksi tidak perlu terus dipaksakan. Pengelolaan bisa dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi pasar agar generasi berikutnya tetap memiliki kesempatan menikmati hasil kekayaan alam Indonesia.

  2. 2. Bahlil bandingkan nikel dengan sawit

    Screenshot_20261102_130426_YouTube.jpg
    Menteri Koordinator (Menko) Hilirisasi dan Transisi Energi/Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. (YouTube/Kementerian ESDM)

    Bahlil mengingatkan pengusaha agar mengelola sumber daya alam secara bijaksana karena karakteristik setiap komoditas berbeda. Dia mencontohkan kelapa sawit yang bisa menghasilkan buah setiap tahun dan dapat ditanam kembali melalui proses peremajaan.

    Kondisi tersebut berbeda dengan nikel yang merupakan sumber daya alam tidak terbarukan. Cadangan nikel yang sudah ditambang tidak bisa tumbuh kembali seperti tanaman sawit.

    "Jadi pengelolaannya betul-betul harus dengan bijaksana, bapak ibu semua. Bung Karno juga dulu waktu memerdekakan bangsa, tidak jorjoran mengelola sumber daya alam. Jadi, kita harus meninggalkan legasi yang baik," ujar dia.

  3. 3. Bahlil minta cari format pengelolaan SDA yang lebih baik

    Ilustrasi tambang nikel (pexels.com/AnimGraph Lab)
    Ilustrasi tambang nikel (pexels.com/AnimGraph Lab)

    Bahlil meminta pelaku usaha, pemerintah, dan kalangan akademisi membahas format pengelolaan sumber daya alam yang ideal. Dia menilai diperlukan kesepakatan antara industri dan pengusaha tambang agar produksi dapat menyesuaikan kondisi pasar.

    Menurutnya, pelaku industri berpotensi memangkas produksi ketika harga komoditas turun. Namun, kondisi tersebut belum tentu diikuti pengusaha tambang yang tetap berupaya meningkatkan jumlah produksi untuk dijual.

    "Nah, saya mohon di forum ini, tolong didesain baik, dibicarakanlah antara pelaku usaha dengan pemerintah, dengan akademisi, mencari format pengelolaan sumber daya alam kita yang ideal seperti apa," kata Bahlil.

Related Articles

See More