Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Harga Energi Naik, Inflasi AS Capai 3,6 Persen pada September 2026

3 min read
Harga Energi Naik, Inflasi AS Capai 3,6 Persen pada September 2026
ilustrasi label harga barang (pexels.com/Erik Mclean)
  • Inflasi PCE AS naik 0,5 persen secara bulanan dan 3,6 persen tahunan pada September 2026, tertinggi sejak Mei, didorong lonjakan harga bensin serta energi 9,2 persen.
  • Belanja konsumen naik 0,5 persen, tetapi secara riil hampir stagnan karena kenaikan harga; pendapatan riil siap belanja turun 0,3 persen dan tingkat tabungan merosot ke 3,8 persen.
  • The Fed mempertahankan suku bunga 3,75–4 persen sambil mengakui inflasi masih tinggi; pasar memperhitungkan peluang lebih 80 persen kenaikan suku bunga pada Desember 2026.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Laju inflasi di Amerika Serikat (AS) mengalami percepatan pada September 2026 seiring bertambahnya biaya yang dibayarkan konsumen untuk bensin dan barang energi lainnya. Data resmi tersebut dirilis oleh Bureau of Economic Analysis (BEA) pada Kamis (29/10/2026) waktu setempat.

Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi atau personal consumption expenditures (PCE) yang menjadi acuan Federal Reserve (The Fed) naik 0,5 persen secara bulanan dan 3,6 persen secara tahunan. Capaian tahunan ini menjadi yang tertinggi sejak Mei 2026, serta berada pada posisi lebih tinggi dibandingkan 3,4 persen pada Agustus 2026.

  1. 1. Kenaikan harga bensin dan komoditas energi

    ilustrasi SPBU
    ilustrasi SPBU (pexels.com/Connor Forsyth)

    Dilansir Xinhua, harga bensin dan barang energi lainnya melonjak 9,2 persen dari posisi Agustus 2026. Lonjakan ini dipicu oleh perang Iran dan pembatasan pelayaran melalui Selat Hormuz yang mempertahankan tingginya biaya bahan bakar.

    Harga minyak mentah AS saat ini berada di atas 100 dolar AS atau setara Rp1,81 juta per barel, dibandingkan sebelum pertempuran yang berada di bawah 70 dolar AS atau setara Rp1,27 juta. Rata-rata nasional untuk satu galon bensin berada di kisaran 4,25 dolar AS atau setara Rp77.086.

    Adapun, inflasi dalam 12 bulan memburuk sejak konflik dengan Iran mendorong naiknya harga minyak serta bensin. Kenaikan harga barang tercatat lebih cepat dari Agustus 2026, sementara harga sektor jasa naik dengan laju yang stabil.

  2. 2. Perkembangan konsumsi dan tabungan rumah tangga

    ilustrasi belanja di supermarket
    ilustrasi belanja di supermarket (pexels.com/Anna Shvets)

    Di luar komponen makanan dan energi yang bergejolak, indeks harga PCE inti naik 0,3 persen secara bulanan pada September 2026. Angka bulanan ini tercatat sama dengan revisi pembacaan pada Agustus 2026. Secara tahunan, PCE inti naik 3,1 persen dari posisi 3 persen pada bulan sebelumnya.

    Pengeluaran konsumen AS naik 0,5 persen pada September 2026, lebih lambat dibandingkan bulan Agustus 2026. Jika disesuaikan dengan inflasi, belanja riil konsumen nyaris tidak berubah atau hanya naik tipis kurang dari 0,1 persen lantaran lonjakan harga telah menyerap perolehan belanja tersebut. Pendapatan pribadi bertambah 0,2 persen, lebih lambat dari bulan sebelumnya dan berada di bawah angka kenaikan harga.

    Sementara itu, pendapatan pribadi riil yang siap dibelanjakan turun 0,3 persen. Di sisi lain, tingkat tabungan pribadi tercatat berada di level 3,8 persen. Angka simpanan ini menjadi catatan terendah dalam kurun hampir empat tahun terakhir.

  3. 3. Kebijakan The Fed dan sentimen jelang pemilu

    ilustrasi pemilu
    ilustrasi pemilu (unsplash.com/Element5 Digital)

    Federal Reserve menetapkan suku bunga acuan tetap bertahan di rentang 3,75 persen hingga 4 persen pada Rabu (28/10/2026). Bank sentral AS tersebut mengakui bahwa laju inflasi saat ini masih tetap tinggi. Keputusan ini menyusul kenaikan suku bunga sebesar seperempat poin pada September 2026 yang merupakan kenaikan perdana dalam lebih dari tiga tahun.

    Ketua Federal Reserve Kevin Warsh turut memberikan pernyataan terkait perkembangan situasi saat ini.

    "Periode tepat di hadapan kita sangat kaya akan informasi. Ada banyak hal yang terjadi di dunia. Rekan-rekan saya dan saya sangat ingin memperhatikannya," ujar Kevin Warsh seperti dikutip CNBC, Sabtu (31/10/2026).

    Pelaku pasar keuangan kini memperhitungkan peluang lebih dari 80 persen bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan Desember 2026, menurut indikator CME FedWatch Tool.

    Laporan ekonomi ini hadir menjelang pemilu paruh waktu di AS dengan biaya hidup sebagai perhatian utama para pemilih. Di sisi lain, laju inflasi di AS telah berada di atas target dua persen milik The Fed selama lebih dari lima tahun, dan data September kian menjauhkannya dari sasaran tersebut.

    Berdasarkan jajak pendapat, sebagian besar pemilih menyatakan tidak puas terhadap perekonomian dan penanganan kenaikan biaya oleh Presiden Donald Trump.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More