ilustrasi meeting, business plan, presentasi, investor (magnific.com/magnific)
Memiliki ide bisnis yang menarik belum menjadi bukti bahwa ada orang yang bersedia membeli produkmu. Salah satu kesalahan yang kerap dilakukan pendiri perusahaan adalah langsung membicarakan kebutuhan modal, pembangunan produk, dan strategi penjualan tanpa menguji apakah ide tersebut benar-benar dibutuhkan pasar. Padahal, investor ingin melihat bukti bahwa calon pelanggan memiliki ketertarikan terhadap solusi yang kamu tawarkan. Validasi sejak awal bisa membantu menunjukkan bahwa peluang bisnis tersebut bukan hanya didasarkan pada asumsi pribadi.
Kamu bisa memulai proses validasi dengan mewawancarai calon pelanggan, melakukan survei sederhana, mengumpulkan testimoni, atau membuat prototipe untuk diuji oleh pengguna awal. Jika belum memiliki kemampuan teknis yang memadai, kamu juga dapat mempertimbangkan perangkat no-code untuk membangun versi awal produk dengan kebutuhan pengembangan yang lebih sederhana.
Jonny Clark, angel investor sekaligus pendiri Liverpool Slush'd, menekankan bahwa pendiri bisnis sebaiknya berupaya membuktikan konsep produk terlebih dahulu alih-alih langsung meminta modal besar untuk membangunnya. Hasil pengujian tersebut dapat menjadi bukti awal mengenai kebutuhan pasar, sekaligus membantumu memperbaiki produk sebelum mengajukan pendanaan.
Mendapatkan modal dari investor membutuhkan persiapan yang matang, bukan sekadar presentasi dengan desain menarik atau ide yang terdengar menjanjikan. Kamu perlu mampu menjelaskan bisnis secara ringkas, menunjukkan masalah yang ingin diselesaikan, menyampaikan kebutuhan pendanaan, dan membuktikan bahwa produk memiliki calon pelanggan.
Selain itu, keterlibatan langsung pendiri dalam proses pitching juga dapat membantu membangun kepercayaan investor terhadap kemampuan tim. Dengan menghindari enam kesalahan tersebut, kamu bisa mempersiapkan pendekatan yang lebih meyakinkan dan meningkatkan peluang untuk mendapatkan dukungan pendanaan.