Morgan Stanley Capital International (MSCI) (msci.com)
Pukulan lain datang dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang sebelumnya memperingatkan kemungkinan penurunan status Indonesia dari pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar frontier (frontier market). Peringatan tersebut memicu gejolak besar di pasar saham Indonesia karena MSCI menjadi acuan alokasi dana bagi banyak investor global.
Chief Investment Officer Farringdon Asset Management, Ana Isabel Gonzalez Encinas mengaku mulai menjual saham Indonesia sejak 2025 meski sebelumnya menjadi investor jangka panjang.
"Jika saya tidak bisa mempercayai instalasi pipa airnya, saya tidak ingin menjadi orang terakhir yang mencoba keluar," katanya.
Meski demikian, banyak investor masih percaya terhadap prospek jangka panjang Indonesia. Ekonomi Indonesia masih tumbuh di atas 5 persen, memiliki utang pemerintah yang relatif rendah, serta didukung populasi besar dan sumber daya alam melimpah.
Namun, pasar menunggu kepastian mengenai arah fiskal, independensi bank sentral, serta transparansi pengelolaan Danantara sebelum kembali meningkatkan eksposur ke Indonesia.
Di sisi lain, Presiden Prabowo sendiri menilai pasar belum memahami visi kebijakannya.
"Pasar tidak memahami saya. Saya hanya melakukan apa yang menurut saya terbaik untuk kepentingan rakyat saya," kata Prabowo dalam wawancara dengan Bloomberg yang dikutip The Straits Times.
Bagi investor global, kepastian kebijakan kini menjadi faktor utama yang akan menentukan kapan modal asing kembali masuk ke Indonesia.