Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Investor Global Ramai Gaungkan Sell Indonesia, Ada Apa?
Presiden Prabowo Subianto meninjau pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMPN 111 Jakarta pada Selasa (2/6/2026). (Dok. Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden)
  • Investor global ramai menjual aset Indonesia karena kebijakan ekonomi Presiden Prabowo dinilai makin intervensionis dan memperbesar peran negara dalam perekonomian.
  • Rupiah melemah sekitar 14 persen sejak Prabowo menjabat, sementara investor asing mengurangi kepemilikan obligasi pemerintah akibat kekhawatiran terhadap ketidakseimbangan makro dan kredibilitas fiskal.
  • Peringatan MSCI soal potensi penurunan status Indonesia ke pasar frontier memperburuk sentimen, meski sebagian investor masih melihat prospek jangka panjang positif jika ada kepastian arah kebijakan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Sentimen negatif terhadap aset Indonesia kian menguat di kalangan investor global. Bahkan, sejumlah pelaku pasar internasional menyebut strategi investasi yang sedang populer di Asia saat ini adalah "sell Indonesia" atau menjual aset-aset Indonesia.

Laporan terbaru The Straits Times mengungkapkan kepercayaan investor terhadap Indonesia terus menurun di tengah berbagai kebijakan ekonomi Presiden Prabowo Subianto yang dinilai semakin intervensionis dan memperbesar peran negara dalam perekonomian.

Berikut sejumlah faktor yang menjadi sorotan investor global.

1. Investor menilai kebijakan Prabowo makin intervensionis

Presiden Prabowo Subianto meninjau pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMPN 111 Jakarta pada Selasa (2/6/2026). (Dok. Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden)

Menurut laporan tersebut, investor khawatir terhadap arah kebijakan pemerintah yang dinilai semakin populis dan memperluas campur tangan negara dalam aktivitas ekonomi. Sejak menjabat pada Oktober 2024, Prabowo meluncurkan sejumlah program besar, mulai dari makan bergizi gratis hingga penguatan peran dana abadi Danantara.

Kekhawatiran semakin meningkat setelah pemerintah memutuskan memperketat kendali atas ekspor komoditas strategis seperti batu bara, sawit, dan nikel melalui skema yang melibatkan Danantara. Kebijakan tersebut memicu aksi jual di pasar saham karena dianggap menambah risiko kebijakan bagi investor.

Kepala Riset K2 Asset Management, George Boubouras bahkan mengaku sudah keluar sepenuhnya dari pasar Indonesia.

"Saya sama sekali tidak mengenal Indonesia. Saya tidak akan memberi mereka kesempatan," kata Boubouras dikutip dari The Straits Times, Jumat (5/6/2026).

2. Rupiah dan pasar obligasi ikut tertekan

ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)

Kekhawatiran investor tidak hanya terlihat di pasar saham. Nilai tukar rupiah juga menjadi salah satu indikator utama yang mencerminkan kecemasan pasar.

The Straits Times mencatat rupiah telah melemah sekitar 14 persen sejak Prabowo mulai menjabat dan menjadi mata uang dengan kinerja terburuk di Asia tahun ini. Investor asing juga telah mengurangi kepemilikan obligasi pemerintah Indonesia hingga puluhan triliun rupiah dalam beberapa bulan terakhir.

Portfolio Manager Allspring Global Investments, Gary Tan mengatakan, pelemahan rupiah menjadi alasan utama investor mengambil posisi negatif terhadap Indonesia.

"Pendorong utama di balik aksi jual pendek di Indonesia adalah prospek bearish untuk rupiah, di mana investor tetap khawatir tentang ketidakseimbangan makro dan kredibilitas kebijakan, khususnya di sisi fiskal," ujarnya.

Investor juga mencermati meningkatnya kepemilikan obligasi pemerintah oleh Bank Indonesia (BI), yang dinilai perlu dijelaskan lebih transparan kepada pasar.

3. Ancaman penurunan status MSCI memperparah sentimen

Morgan Stanley Capital International (MSCI) (msci.com)

Pukulan lain datang dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang sebelumnya memperingatkan kemungkinan penurunan status Indonesia dari pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar frontier (frontier market). Peringatan tersebut memicu gejolak besar di pasar saham Indonesia karena MSCI menjadi acuan alokasi dana bagi banyak investor global.

Chief Investment Officer Farringdon Asset Management, Ana Isabel Gonzalez Encinas mengaku mulai menjual saham Indonesia sejak 2025 meski sebelumnya menjadi investor jangka panjang.

"Jika saya tidak bisa mempercayai instalasi pipa airnya, saya tidak ingin menjadi orang terakhir yang mencoba keluar," katanya.

Meski demikian, banyak investor masih percaya terhadap prospek jangka panjang Indonesia. Ekonomi Indonesia masih tumbuh di atas 5 persen, memiliki utang pemerintah yang relatif rendah, serta didukung populasi besar dan sumber daya alam melimpah.

Namun, pasar menunggu kepastian mengenai arah fiskal, independensi bank sentral, serta transparansi pengelolaan Danantara sebelum kembali meningkatkan eksposur ke Indonesia.

Di sisi lain, Presiden Prabowo sendiri menilai pasar belum memahami visi kebijakannya.

"Pasar tidak memahami saya. Saya hanya melakukan apa yang menurut saya terbaik untuk kepentingan rakyat saya," kata Prabowo dalam wawancara dengan Bloomberg yang dikutip The Straits Times.

Bagi investor global, kepastian kebijakan kini menjadi faktor utama yang akan menentukan kapan modal asing kembali masuk ke Indonesia.

Editorial Team

Related Article