Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Jalur Udara Lumpuh, Penerbangan Repatriasi Timur Tengah Dipercepat

Jalur Udara Lumpuh, Penerbangan Repatriasi Timur Tengah Dipercepat
Ilustrasi pesawat (freepik.com/onlyyouqj)
Intinya Sih
  • Operasi militer besar antara AS, Israel, dan Iran memicu penutupan ruang udara luas di Timur Tengah, melumpuhkan jalur penerbangan internasional serta mengganggu perdagangan laut dan udara global.
  • Pemerintah berbagai negara mempercepat evakuasi warganya melalui penerbangan repatriasi dan jalur darat alternatif, meski izin terbang terbatas dan situasi keamanan terus berubah.
  • Penutupan ruang udara menyebabkan ribuan penerbangan dibatalkan, bandara utama lumpuh, harga minyak melonjak, serta saham maskapai dunia anjlok akibat biaya operasional meningkat drastis.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Situasi keamanan di Timur Tengah meningkat drastis hingga memicu penutupan ruang udara secara besar-besaran. Ketegangan militer yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran ini telah melumpuhkan rute penerbangan internasional. Akibatnya, puluhan ribu warga negara asing kini terdampar di berbagai pusat transportasi utama di wilayah Teluk tanpa kepastian jadwal keberangkatan.

Pemerintah dari berbagai penjuru dunia saat ini sedang berupaya keras mengoordinasikan penerbangan darurat untuk memulangkan warga mereka yang terjebak di zona konflik tersebut. Gangguan perjalanan udara ini tercatat sebagai yang terbesar sejak masa pandemi COVID-19, sehingga membuat banyak negara segera mengambil langkah penyelamatan bagi warganya.

1. Operasi militer besar-besaran di Timur Tengah lumpuhkan jalur penerbangan dunia

Kondisi Terminal Hajj Bandara Jeddah, Arab Saudi. (IDN Times/Vadhia Lidyana)
Kondisi Terminal Hajj Bandara Jeddah, Arab Saudi. (IDN Times/Vadhia Lidyana)

Konflik di wilayah Timur Tengah kini mencapai puncaknya setelah AS dan Israel meluncurkan operasi militer besar bernama "Operation Epic Fury". Serangan ini ditujukan untuk menghancurkan pangkalan rudal dan pusat komunikasi milik Iran. Operasi dimulai segera setelah Presiden AS memberikan perintah tegas kepada pasukan militernya melalui pesan, "Operation Epic Fury is approved. No aborts. Good luck." Serangan udara dan serangan siber ini langsung melumpuhkan sistem radar serta jaringan komunikasi di wilayah tersebut.

Dampak dari aktivitas militer ini membuat ruang udara di Iran, Israel, Lebanon, dan sebagian besar negara Teluk tidak aman untuk dilewati pesawat penumpang. Selain di darat, peperangan juga meluas hingga ke wilayah perairan Samudra Hindia. Sebuah kapal selam AS dilaporkan telah menenggelamkan kapal perang Iran, IRIS Dena, di lepas pantai Sri Lanka yang mengakibatkan 87 pelaut tewas. Kejadian ini membuat jalur perdagangan laut dan penerbangan antara Asia dan Eropa menjadi sangat terganggu.

Kondisi keamanan yang semakin berbahaya juga memaksa sistem pertahanan udara NATO di Turki untuk menembak jatuh rudal balistik kiriman Iran. Akibatnya, ribuan jadwal penerbangan setiap harinya harus diubah rutenya demi keselamatan penumpang. Jenderal Dan Caine dari militer AS menjelaskan bahwa misi utama mereka adalah menghentikan kekuatan militer Iran agar tidak menyerang ke luar perbatasannya. Namun, ia juga memperingatkan bahwa operasi ini akan memakan waktu yang cukup lama dan penuh dengan risiko. Saat ini, banyak negara terus memantau situasi demi melindungi warga mereka yang masih berada di sekitar lokasi konflik.

2. Pemerintah dunia mulai evakuasi ribuan warganya dari wilayah konflik Timur Tengah

WhatsApp Image 2026-03-01 at 1.14.54 PM.jpeg
Bandara di Kuwait terkena serangan Iran. (Dok Istimewa)

Berbagai pemerintah di dunia kini bergerak cepat melakukan evakuasi darurat bagi warga negara mereka yang terjebak akibat penutupan ruang udara di Timur Tengah. Kanada menjadi salah satu negara yang paling sibuk, di mana Menteri Luar Negeri Anita Anand mengonfirmasi bahwa lebih dari 2.000 warganya telah meminta bantuan untuk segera pulang.

"Saya ingin berbicara langsung sekarang kepada warga Kanada di Timur Tengah dan wilayah Teluk. Pemerintah menyertai Anda. Kami bekerja keras untuk Anda, dan kami sedang mengatur opsi bagi Anda untuk meninggalkan wilayah tersebut," kata Anita Anand, dilansir The Straits Times.

Selain lewat jalur udara yang sangat terbatas, pemerintah Kanada juga menyiapkan bus untuk membawa warga dari Qatar menuju Arab Saudi, serta dari Israel menuju Mesir agar bisa mencapai bandara yang masih buka. Tantangan utama dalam operasi ini adalah sulitnya mendapatkan izin terbang, terutama di wilayah Uni Emirat Arab.

Australia juga memprioritaskan kepulangan sekitar 115 ribu warganya, dengan 24 ribu orang di antaranya berada di Uni Emirat Arab. Kelompok pertama yang berjumlah 200 warga Australia telah berhasil mendarat di Sydney setelah menempuh perjalanan dari Dubai.

Meski demikian, Menteri Luar Negeri Australia, Penny Wong, mengingatkan bahwa jadwal penerbangan selanjutnya sangat bergantung pada situasi perang yang bisa berubah kapan saja. Selain itu, negara-negara seperti Inggris, Prancis, Polandia, Republik Ceko, dan China terus mengirim pesawat sewaan serta pesawat militer untuk menjemput warga mereka melalui negara tetangga seperti Oman dan Yordania.

3. Penutupan ruang udara Timur Tengah sebabkan pembatalan ribuan penerbangan

Kondisi Terminal Hajj Bandara Jeddah, Arab Saudi. (IDN Times/Vadhia Lidyana)
Kondisi Terminal Hajj Bandara Jeddah, Arab Saudi. (IDN Times/Vadhia Lidyana)

Penutupan ruang udara di wilayah Timur Tengah memberikan dampak buruk bagi industri penerbangan dunia yang baru saja pulih dari masa pandemi. Bandara Internasional Dubai terpaksa menghentikan sebagian besar operasionalnya, yang mengakibatkan ribuan jadwal penerbangan internasional dibatalkan setiap hari.

Maskapai besar seperti Emirates dan Qatar Airways harus menghentikan layanan mereka karena jalur udara yang biasa digunakan kini sangat berbahaya. Kondisi ini membuat penumpang menumpuk di berbagai bandara dan menghambat pengiriman barang antarnegara, yang akhirnya menyebabkan harga saham maskapai penerbangan turun drastis.

Secara ekonomi, konflik ini memicu kenaikan harga minyak dunia hingga 14 persen karena adanya kekhawatiran gangguan pasokan bahan bakar. Maskapai penerbangan kini harus menanggung biaya operasional yang lebih tinggi karena pesawat harus memutar lewat rute yang lebih jauh demi menghindari zona perang.

Menteri Luar Negeri Australia, Penny Wong, memberikan peringatan keras mengenai situasi yang sangat tidak menentu di kawasan tersebut. Ia menekankan bahwa kelanjutan penerbangan sangat bergantung pada tingkat keamanan di lapangan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in Business

See More