Jerman Minta Uni Eropa Longgarkan Aturan Emisi Kendaraan pada 2035

- Jerman meminta Uni Eropa melonggarkan target emisi kendaraan 2035 menjadi 90 persen agar industri otomotif tetap kompetitif tanpa mengorbankan tujuan iklim jangka panjang.
- Kebijakan ini diharapkan memperkuat daya saing produsen mobil Eropa seperti Volkswagen dan BMW melalui penyederhanaan aturan, insentif inovasi, serta penghematan biaya administratif besar.
- Kanselir Friedrich Merz menegaskan pentingnya keberagaman teknologi transportasi, termasuk mobil hibrida dan bahan bakar alternatif, demi transisi energi yang inklusif dan berkelanjutan.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Jerman di bawah Kanselir Friedrich Merz resmi meminta Uni Eropa untuk melonggarkan aturan emisi kendaraan yang ketat. Langkah ini diambil pada Senin (13/4/2026), sebagai upaya membantu industri otomotif Jerman yang sedang menghadapi tantangan berat. Setelah berdiskusi, Merz menegaskan, target lingkungan tidak boleh mengorbankan fondasi ekonomi Jerman.
Upaya ini merupakan tanggapan atas melemahnya daya saing mobil Eropa di pasar dunia akibat persaingan dari produsen luar negeri dan turunnya minat masyarakat terhadap mobil listrik murni. Bersama negara lain seperti Italia dan Polandia, Jerman ingin menyesuaikan target lingkungan dengan kemampuan industri saat ini agar tidak terjadi pengurangan tenaga kerja secara besar-besaran. Meski tetap mendukung target bebas emisi pada 2050, Jerman mendorong pendekatan yang lebih pragmatis dan tidak hanya terpaku pada satu jenis teknologi saja.
Table of Content
1. Pelonggaran aturan emisi dan dukungan untuk bahan bakar hijau
Jerman mengusulkan agar target pengurangan emisi mobil disesuaikan menjadi 90 persen pada tahun 2035, bukan 100 persen seperti rencana awal. Tujuannya adalah agar mesin konvensional yang lebih efisien masih bisa digunakan. Produsen mobil nantinya bisa mengompensasi sisa 10 persen emisi mereka melalui penggunaan material ramah lingkungan, seperti baja rendah karbon dalam proses produksi, serta pemanfaatan bahan bakar sintetis (e-fuel) yang tidak merusak iklim.
"Kami ingin industri kita memimpin transisi menuju ekonomi rendah karbon karena itu yang terbaik bagi iklim dan kemandirian kita. Namun, kami memberi kemudahan bagi produsen lewat penggunaan baja rendah karbon dan bahan bakar ramah lingkungan," ujar Komisioner Iklim Uni Eropa, Wopke Hoekstra, dilansir Economic Times.
Aturan baru ini juga memberikan kelonggaran waktu bagi perusahaan untuk mencapai target emisi dari tahun 2030 hingga 2032 agar mereka tidak berisiko terkena denda besar. Selain itu, terdapat insentif khusus bagi pabrikan yang memproduksi mobil listrik dengan harga terjangkau di Eropa agar mampu bersaing dengan kendaraan impor.
"Sangat baik Komisi Eropa mulai melonggarkan aturan otomotif setelah melihat masukan dari Jerman. Memberikan kebebasan teknologi dan aturan yang fleksibel adalah langkah tepat untuk menjaga target iklim sekaligus menyelamatkan bisnis dan lapangan kerja," kata Kanselir Friedrich Merz.
2. Upaya Jerman perkuat daya saing industri otomotif
Langkah Jerman ini didorong oleh kondisi industri otomotif yang memberikan kontribusi besar bagi pendapatan negara dan menyediakan jutaan lapangan kerja. Saat ini, pabrikan besar seperti Volkswagen, Mercedes-Benz, dan BMW kesulitan berinvestasi karena beban aturan lingkungan yang dinilai terlalu berat dan belum sejalan dengan daya beli konsumen.
"Kebijakan baru ini akan menjadi dukungan krusial bagi industri mobil Eropa. Kami mengerahkan semua instrumen, mulai dari penyederhanaan aturan hingga dukungan inovasi, agar Eropa tetap memimpin di tengah ketatnya persaingan global," ucap Wakil Presiden Eksekutif Komisi Eropa, Stéphane Séjourné.
Data menunjukkan bahwa masyarakat masih ragu beralih ke mobil listrik karena kurangnya infrastruktur pengisian daya dan harga yang masih relatif mahal. Akibatnya, banyak orang memilih memakai mobil lama mereka. Melalui lobi ini, Jerman pun berhasil meyakinkan Uni Eropa untuk menyederhanakan berbagai prosedur uji emisi yang diperkirakan bisa menghemat biaya administratif industri hingga ratusan juta euro setiap tahunnya.
"Usulan ini secara tepat mengakui perlunya kebebasan memilih teknologi agar transisi hijau ini sukses. Ini adalah perubahan besar karena undang-undang sebelumnya cenderung membatasi inovasi hanya pada satu jenis teknologi saja," kata Direktur Jenderal Asosiasi Produsen Otomotif Eropa (ACEA), Sigrid de Vries.
3. Mempertahankan berbagai jenis mesin demi kelancaran transisi energi
Kanselir Friedrich Merz menekankan bahwa masa depan transportasi di Eropa harus memberikan pilihan teknologi yang beragam. Selain kendaraan listrik baterai, mobil hibrida dan mesin dengan bahan bakar alternatif harus tetap diberikan ruang untuk berkembang. Jerman berpendapat bahwa melarang mesin konvensional sepenuhnya hanya akan menciptakan kerentanan ekonomi baru dan membatasi pilihan warga yang membutuhkan kendaraan untuk jarak tempuh jauh.
"Saya meminta Komisi Eropa tetap mengizinkan mobil hibrida setelah tahun 2035. Sistem yang menggabungkan mesin konvensional dengan tenaga listrik jauh lebih masuk akal bagi transisi energi yang inklusif dan bisa diikuti semua orang," tutur Friedrich Merz.
Jerman juga berupaya agar aturan emisi tahun 2027 tidak diperketat terlalu cepat bagi kendaraan hibrida. Strategi ini didukung pula oleh rencana untuk memperkuat ketahanan produksi baterai di dalam negeri agar tidak bergantung pada pasokan mineral dari negara lain.

















