Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kejar Digitalisasi Lewat Econique Trip, Palawi Cetak Laba Rp16,4 M
Direktur Utama PT Perhutani Alam Wisata Risorsis (Palawi), Tedy Sumarto. (IDN Times/Vadhia Lidyana)
  • Palawi membukukan laba Rp16,4 miliar pada semester I-2026, setara 43 persen target tahunan Rp38 miliar, dengan pendapatan mencapai 105 persen dari target RKAP.

  • Digitalisasi melalui aplikasi Econique Trip memudahkan informasi dan pemesanan tiket, sekaligus mendorong kunjungan; aplikasi tersebut telah diunduh 12.600 pengguna dalam kurang dari setahun.

  • Palawi mengelola 110 destinasi di Jawa, mengembangkan wisata minat khusus, serta menjaga kelestarian alam dengan pembangunan sarana permanen baru sekitar 3,7 persen kawasan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bogor, IDN Times - Anak usaha Perum Perhutani, yaitu PT Perhutani Alam Wisata Risorsis (Palawi) membukukan laba Rp16,4 miliar di semester I-2026. Angka tersebut mencakup 43 persen dari target laba sepanjang 2026.

Adapun Palawi sebagai perusahaan pengelola bisnis wisata Perum Perhutani menargetkan laba di 2026 bisa mencapai Rp38 miliar.

“Pencapaian di semester I-2026 ini, untuk dari sisi pendapatan, ini kita 105 persen terhadap target RKAP. Dalam RKAP 1 tahun kita sudah tercapai 105 persen,” ujar Direktur Utama Palawi, Tedy Sumarto saat ditemui IDN Times di Sentul Eco Edu Tourism Forest, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, dikutip Sabtu (3/10/2026).

1. Kejar efisiensi lewat digitalisasi

Aplikasi Econique Trip milik PT Perhutani Alam Wisata Risorsis (Palawi). (Dok. Palawi)

Dia mengatakan, dalam mencapai laba tersebut, ada banyak upaya yang dilakukan Palawi. Selain menyajikan beragam program menarik untuk menggaet pengunjung ke destinasi yang dikelola, Palawi terus menggenjot digitalisasi.

Di awal tahun ini, Palawi meluncurkan aplikasi ponsel Econique Trip. Tedy mengatakan, aplikasi itu berhasil meningkatkan jumlah pengunjung ke destinasi yang dikelola, karena kemudahan yang ditawarkan.

“Econique Trip ini sebetulnya platform digital yang kita buat untuk memudahkan si pengunjung itu mencari informasi kita, kemudian melakukan pemesanan tiket dan lain-lain hanya melalui mobil apps atau web apps,” ujar Tedy.

Tedy menuturkan, belum genap setahun, jumlah pengunduh aplikasi Econique Trip sudah mencapai 12.600 orang.

“Ini juga kami lihat ada potensi, ketika ini kita betul-betul fokus gitu, pembenahan sistem dengan penyediaan aplikasi dan lain-lain menjadi kekuatan untuk bisnis kita,” tutur Tedy.

2. Kembangkan wisata minat khusus

Kawah Putih, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. (Dok. Palawi)

Palawi sendiri mengelola 110 destinasi wisata yang lokasinya tersebar di Pulau Jawa. Selain mengandalkan trafik pengunjung ke lokasi-lokasi wisata yang dikelola, terutama lokasi terpopuler seperti Kawah Putih, Bandung, Jawa Barat; Gunung Tangkuban Parahu, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat; dan 13 lokasi populer lainnya, Palawi juga mengembangkan program wisata minat khusus.

Contoh wisata minat khusus misalnya seperti program pengamatan astronomi, yaitu Astro Tourism; kemudian program pengamatan keanekaragaman hayati dalam hutan, dan sebagainya.

“Kita coba jajaki juga ini ada wisata minat khusus untuk mengamati keaneka ragaman hayati yang ada di dalam hutan. Nah ini yang coba kita kolaborasi dengan teman-teman NGO, ini ada teman-teman dari Yayasan Owa Jawa, yayasan burung gitu ya. Ada pengamatan satwa, atau kalau yang lagi kita coba ini namanya bird watching,” tutur Tedy.

3. Profit bukan satu-satunya tujuan

Pulau Merah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. (Dok. Palawi)

Tedy memastikan, sebagai perseroan terbatas (PT), Palawi tetap harus tunduk pada aturan yang berlaku, yaitu menjaga profitabilitas. Meski begitu, dia mengatakan, keuntungan bukanlah satu-satunya fokus Palawi.

“Karena kita di bawah induknya yang bentuknya Perum, tetap profit itu kita kejar, tetapi tetap intinya ada keseimbangan dari sisi nilai atau kelestarian SDH yang kita jaga. Artinya tidak whole profit oriented. Kenapa? Karena, satu tadi basic bisnis kita ini alam,” tutur Tedy.

Tedy mengatakan, Palawi mengelola kawasan ekowisata dengan mempertahankan keasrian alam di lokasi tersebut. Pihaknya bahkan berupaya membuat sarana dan prasarana penunjang wisata sesuai regulasi, agar tidak mengubah keasrian alam tersebut.

“Nah jadi kita itu kalau di kawasan hutan gitu, tidak bisa sembarangan membangun entah itu wahana, entah itu fasilitas yang sifatnya permanen. Itu maksimal hanya 10 persen yang dibolehkan. Nah saat ini Palawi itu baru kurang lebih 3,7 persen sarpras-sarpras yang terbangunnya,” ucap Tedy.

Curated For You

Editorial Team

Related Article