Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kenapa Banyak Bisnis Justru Rugi di Akhir Tahun?

ilustrasi bisnis cafe
ilustrasi bisnis cafe (pexels.com/Emre Can Aver)
Intinya sih...
  • Banyak bisnis terjebak mindset bahwa omzet tinggi otomatis berarti untung. Fokus hanya pada angka penjualan tanpa menghitung margin secara realistis.
  • Akhir tahun memicu kepanikan kolektif di dunia bisnis. Biaya iklan dan promo dinaikkan tanpa perhitungan matang, banyak budget habis untuk exposure yang tidak konversi.
  • Optimisme akhir tahun membuat bisnis memesan stok berlebihan. Saat penjualan tidak setinggi ekspektasi, stok akhirnya mengendap, modal terkunci, biaya penyimpanan naik.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Akhir tahun sering dianggap momen emas bagi bisnis. Permintaan naik, traffic ramai, dan suasana belanja terasa lebih hidup. Namun kenyataannya, tidak sedikit bisnis justru menutup tahun dengan kerugian, meski penjualan terlihat tinggi.

Fenomena ini biasanya tidak terjadi karena satu kesalahan besar, melainkan akumulasi keputusan kecil yang keliru. Dari luar tampak ramai, tapi di balik layar keuangan justru berdarah-darah. Berikut alasan kenapa hal ini sering terjadi.

1. Terlalu agresif mengejar omzet

ilustrasi bisnis fnb
ilustrasi bisnis fnb (pexels.com/Kenneth Surilo)

Banyak bisnis terjebak mindset bahwa omzet tinggi otomatis berarti untung. Akhirnya, fokus hanya pada angka penjualan tanpa menghitung margin secara realistis. Diskon besar-besaran dijalankan demi terlihat laku keras.

Masalah muncul ketika biaya produksi, promo, dan operasional tidak sebanding dengan keuntungan. Uang memang masuk, tapi cepat keluar. Di akhir tahun, laporan terlihat ramai, tapi saldo justru menipis.

2. Biaya promo yang tidak terkontrol

ilustrasi promo akhir tahun
ilustrasi promo akhir tahun (pexels.com/Max Fischer)

Akhir tahun sering memicu kepanikan kolektif di dunia bisnis. Takut kalah saing, biaya iklan dan promo dinaikkan tanpa perhitungan matang. Semua kanal dicoba sekaligus, berharap hasil instan.

Sayangnya, tidak semua promo efektif. Banyak budget habis untuk exposure yang tidak konversi. Tanpa evaluasi cepat, bisnis baru sadar kerugian saat semuanya sudah terlambat.

3. Stok menumpuk karena prediksi berlebihan

ilustrasi bisnis sepi
ilustrasi bisnis sepi (pexels.com/Pavlo Luchkovski)

Optimisme akhir tahun sering membuat bisnis memesan stok berlebihan. Harapannya sederhana, permintaan pasti melonjak. Namun pasar tidak selalu bergerak sesuai prediksi.

Saat penjualan tidak setinggi ekspektasi, stok akhirnya mengendap. Modal terkunci, biaya penyimpanan naik, dan tekanan cash flow mulai terasa. Kerugian pun datang diam-diam.

4. Operasional makin mahal tanpa disadari

ilustrasi pria belanja
ilustrasi pria belanja (pexels.com/Drazen Zigic)

Akhir tahun biasanya dibarengi jam kerja lebih panjang, lembur, dan tambahan tenaga. Semua demi mengejar target dan memenuhi lonjakan permintaan. Biaya operasional pun ikut membengkak.

Jika tidak dihitung dengan cermat, biaya tambahan ini menggerus keuntungan. Banyak bisnis lupa memasukkan faktor ini dalam perhitungan laba. Akhirnya, kerja ekstra tidak sebanding dengan hasil bersih.

5. Keputusan emosional karena euforia

ilustrasi pria duduk
ilustrasi pria duduk (pexels.com/cottonbro studio)

Suasana akhir tahun cenderung emosional, baik bagi konsumen maupun pebisnis. Ada dorongan untuk ikut tren, ikut promo besar, dan tidak mau terlihat ketinggalan. Keputusan sering diambil lebih cepat dari biasanya.

Saat logika kalah oleh euforia, risiko meningkat. Strategi yang biasanya rasional berubah jadi spekulatif. Di sinilah banyak bisnis terpeleset tanpa sadar.

Rugi di akhir tahun bukan berarti bisnis gagal. Justru ini sering jadi alarm bahwa strategi perlu dievaluasi, bukan sekadar diulang. Keramaian tidak selalu identik dengan kesehatan keuangan.

Bisnis yang tahan lama biasanya lebih tenang membaca momentum. Alih-alih ikut arus besar, mereka fokus pada kontrol biaya dan keputusan yang masuk akal. Dari situlah akhir tahun bisa benar-benar jadi penutup yang sehat, bukan jebakan yang melelahkan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in Business

See More

Cara Cerdas Memilih Penasihat Keuangan, Nama Besar Bukan Jaminan!

05 Jan 2026, 08:05 WIBBusiness