Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Mengenal Dutch Disease, Saat Kekayaan SDA Jadi Bumerang Ekonomi

Mengenal Dutch Disease, Saat Kekayaan SDA Jadi Bumerang Ekonomi
ilustrasi tambang (unsplash.com/Dominik Vanyi)
  • Dutch disease terjadi ketika lonjakan pendapatan SDA menguatkan mata uang suatu negara secara tajam.
  • Penguatan mata uang dapat melemahkan daya saing manufaktur, meningkatkan impor, dan menekan sektor ekonomi non-SDA.
  • Diversifikasi ekonomi serta pengelolaan pendapatan SDA secara hati-hati dapat mengurangi risiko Dutch disease.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Dutch disease atau penyakit Belanda merupakan masalah ekonomi yang terjadi ketika mata uang suatu negara menguat tajam, sering kali akibat lonjakan pendapatan dari sumber daya alam (SDA). Penguatan mata uang tersebut dapat membuat sektor ekspor lain, terutama manufaktur, menjadi kurang kompetitif. Dalam jangka panjang, kondisi itu dapat menekan pertumbuhan sektor non-SDA.

Dilansir dari Investopedia, fenomena ini pertama kali dikaitkan dengan Belanda setelah negara tersebut menemukan cadangan gas alam dalam jumlah besar pada 1960-an. Kondisi serupa juga pernah terjadi di sejumlah negara lain, termasuk Venezuela.

Dutch disease dapat berdampak pada industri manufaktur dan pasar kerja. Salah satu cara untuk mengurangi risikonya adalah dengan melakukan diversifikasi ekonomi dan mengelola pendapatan dari SDA secara hati-hati, termasuk melalui dana kekayaan negara atau sovereign wealth fund (SWF).

  1. 1. Dampak ekonomi dari Dutch disease

    Kapal kargo dan peti kemas berada di kawasan pelabuhan Jakarta Utara
    ilustrasi aktivitas pengiriman barang ekspor melalui pelabuhan di Jakarta Utara (pexels.com/Tom Fisk)

    Dutch disease memiliki dua dampak ekonomi utama. Pertama, daya saing harga produk manufaktur untuk pasar ekspor menurun. Kedua, impor meningkat.

    Keduanya berkaitan dengan penguatan nilai mata uang lokal. Ketika mata uang menguat, harga produk domestik menjadi relatif lebih mahal bagi pembeli dari luar negeri.

    Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat mendorong pengangguran karena lapangan kerja manufaktur berpindah ke negara dengan biaya produksi lebih rendah. Di sisi lain, sektor ekonomi di luar industri berbasis SDA dapat tertekan akibat meningkatnya kekayaan yang berasal dari sektor sumber daya.

  2. 2. Sejarah istilah Dutch disease

    ilustrasi bendera Belanda (unsplash.com/Remy Gieling)
    ilustrasi bendera Belanda (unsplash.com/Remy Gieling)

    Istilah Dutch disease pertama kali digunakan oleh majalah The Economist pada 1977. Istilah tersebut merujuk pada kondisi ekonomi Belanda setelah penemuan cadangan gas alam dalam jumlah besar di Laut Utara pada 1959.

    Peningkatan kekayaan dan ekspor komoditas energi membuat nilai guilder Belanda menguat tajam. Akibatnya, ekspor produk non-minyak Belanda menjadi kurang kompetitif di pasar global.

    Pada periode tersebut, tingkat pengangguran Belanda meningkat dari 1,1 persen menjadi 5,1 persen. Investasi modal di negara itu juga mengalami penurunan. Sejak saat itu, istilah Dutch disease digunakan dalam kajian ekonomi untuk menggambarkan kondisi serupa di negara lain.

  3. 3. Contoh kasus Dutch disease

    Ilustrasi hulu migas (Dok. SKK Migas)
    Ilustrasi hulu migas (Dok. SKK Migas)

    Britania Raya mengalami kondisi yang dikaitkan dengan Dutch disease pada 1970-an setelah harga minyak melonjak empat kali lipat. Kenaikan harga membuat pengeboran minyak di Laut Utara, lepas pantai Skotlandia, menjadi layak secara ekonomi.

    Pada akhir dekade tersebut, Britania Raya berubah dari importir bersih menjadi eksportir bersih minyak. Nilai poundsterling juga melonjak tajam.

    Namun, Britania Raya kemudian masuk ke dalam resesi. Pada saat yang sama, pekerja menuntut upah lebih tinggi dan ekspor dari sektor lain menjadi kurang kompetitif.

    Kasus serupa juga muncul di Kanada dan Rusia. Pada 2014, sejumlah ekonom menyebut masuknya modal asing ke industri oil sands Kanada kemungkinan membuat nilai dolar Kanada terlalu tinggi sehingga mengurangi daya saing sektor manufaktur.

    Rubel Rusia juga mengalami penguatan pesat pada periode tersebut dengan alasan yang serupa.

    Kekhawatiran terhadap Dutch disease di kedua negara itu kemudian mereda setelah harga minyak turun secara signifikan pada 2016. Penurunan harga tersebut turut membuat dolar Kanada dan rubel kembali ke level yang lebih rendah.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More