ilustrasi stres bekerja (pexels.com/Yan Krukau)
Brand juga bisa kehilangan kredibilitas ketika kampanye kesehatan mental yang ditujukan kepada publik tidak sejalan dengan budaya kerja internalnya. Perusahaan mungkin aktif mengajak masyarakat menjaga keseimbangan hidup, tetapi karyawannya justru menghadapi beban kerja tidak realistis, jam kerja berlebihan, atau lingkungan yang kurang mendukung kesejahteraan psikologis. Ketidaksesuaian tersebut dapat memunculkan kesan bahwa kepedulian hanya digunakan untuk membangun citra perusahaan.
Kontradiksi ini bisa semakin terlihat ketika pengalaman karyawan dibagikan melalui media sosial atau forum profesional. Kepercayaan publik dapat melemah apabila pesan kampanye bertentangan dengan praktik kerja yang terungkap, terutama ketika perusahaan tidak menunjukkan upaya perbaikan yang jelas. Komitmen terhadap kesehatan mental sebaiknya diwujudkan melalui pembagian beban kerja yang wajar, kebijakan istirahat yang jelas, serta mekanisme pelaporan yang aman bagi karyawan.
Kesalahan brand saat memakai isu mental health buat jualan sering kali tidak dibarengi dengan informasi yang akurat, komunikasi empatik, dan tindakan nyata. Tujuannya agar campaign tersebut tidak berubah menjadi eksploitasi emosional demi keuntungan bisnis. Lima kesalahan tersebut menunjukkan bahwa iklan yang menarik perhatian belum tentu mencerminkan kepedulian yang tulus terhadap konsumen maupun karyawan. Menurut kamu, pernahkah kamu menemukan brand yang menggunakan isu kesehatan mental hanya sebagai gimmick marketing untuk meningkatkan penjualan?
Referensi
"A guide to treating Mental Health responsibly in ads." ASA. Diakses pada Oktober 2026.
"From Stigma to Sales Pitch: The Rise of Mental Health Wellwashing." Compass Marketing. Diakses pada Oktober 2026.
"Adding to the Problem: Advertising and Mental Health." MQ Mental Health. Diakses pada Oktober 2026.