Krakatau Steel Pastikan Suplai CRC Terjaga dan Segera Perbaiki CRM

Jakarta, IDN Times - PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. (KRAS) menetapkan kondisi force majeure setelah terjadi insiden yang diduga dipicu kebakaran di area produksi Continuous Tandem Cold Mill (CTCM) pada pabrik Cold Rolling Mill (CRM). Peristiwa tersebut berdampak pada produksi baja canai dingin atau Cold Rolled Coil (CRC) Full Hard.
Meski demikian, perseroan memastikan pasokan baja CRC untuk kebutuhan nasional tetap terjaga. Krakatau Steel juga telah menyiapkan langkah mitigasi agar distribusi kepada pelanggan tidak terganggu.
1. Kebakaran berdampak pada produksi CRC Full Hard

Manajemen Krakatau Steel menjelaskan, insiden di fasilitas CTCM memengaruhi proses produksi Cold Rolled Coil (CRC) Full Hard. Saat ini, perusahaan masih melakukan evaluasi menyeluruh untuk mengukur tingkat dampaknya terhadap operasional.
Di sisi lain, aktivitas produksi pada fasilitas lain tetap berjalan normal. Produksi CRC Soft melalui Batch Annealing Furnace (BAF) dan Hot Rolled Pickled and Oiled (HRPO) melalui Continuous Pickling Line (CPL) masih beroperasi sesuai rencana.
2. Pasokan CRC Full Hard nasional dijamin melalui kerja sama produsen domestik

Krakatau Steel menegaskan operasional di area lain di sekitar pabrik CRM tidak terdampak insiden tersebut.
Untuk menjaga kesinambungan pasokan, perusahaan akan memenuhi kebutuhan CRC Full Hard melalui skema kerja sama dengan produsen baja domestik.
"Keberlangsungan supply CRC Full Hard nasional akan dipenuhi melalui skema kerja sama dengan perusahaan produsen CRC domestik," tulis manajemen dalam keterangannya.
Selain itu, Krakatau Steel segera melakukan proses perbaikan agar fasilitas produksi CTCM di pabrik CRM dapat kembali beroperasi dalam waktu secepatnya.
3. Krakatau Steel terus memperkuat transformasi bisnis

PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. merupakan perusahaan manufaktur baja terintegrasi yang berdiri pada 31 Agustus 1970. Selain memproduksi baja, perseroan juga mengembangkan berbagai lini usaha, mulai dari kawasan industri terpadu, kepelabuhanan, logistik, penyediaan air industri, hingga energi melalui pembangkit listrik.
Krakatau Steel juga memiliki sejumlah kerja sama strategis dengan mitra dari Korea Selatan dan Jepang untuk memperkuat daya saing industri baja nasional.
Saat ini, perseroan menjalankan transformasi melalui program KS Reborn. Program tersebut berfokus pada penguatan tata kelola perusahaan, peningkatan transparansi, pengembangan sumber daya manusia, penguatan bisnis hilir, serta optimalisasi bisnis infrastruktur guna meningkatkan kepercayaan pemangku kepentingan dan menarik investasi.



















