Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Krakatau Steel Bidik Laba Bersih Rp2,2 Triliun Tahun Ini

Krakatau Steel Bidik Laba Bersih Rp2,2 Triliun Tahun Ini
Direktur Utama - PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS), Muhammad Akbar Djohan. (IDN Times/Vadhia Lidyana)
Intinya Sih
  • Krakatau Steel menargetkan laba bersih Rp2,2 triliun pada 2026 dengan pendapatan sekitar Rp20 triliun, setelah mencatat laba kuartal I sebesar Rp79,2 miliar.
  • Perusahaan masih memiliki liabilitas USD 2,04 miliar dan mendapat persetujuan restrukturisasi utang dari empat bank swasta dengan potongan hingga 80 persen.
  • KRAS sebelumnya menerima suntikan modal USD 295 juta dari Danantara untuk modal kerja dan kini berupaya memulihkan kinerja agar kembali memperoleh akses pembiayaan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) menargetkan capaian laba bersih sebesar 129 juta dolar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp2,2 triliun (kurs Rp17.216 per dolar AS) sepanjang 2026 ini.

Target laba bersih itu mengikuti target pendapatan sekitar Rp20 triliun sepanjang tahun.

“Kalau kita ambil target 10 persen daripada pendapatan Rp20 triliun, itu 10 persen dikali Rp20 triliun, itu harusnya menjadi standar minimum laba bersih daripada Krakatau Steel di 2026 ini,” kata Direktur Utama KRAS, Muhammad Akbar Djohan dalam media briefing di Jakarta, Senin (27/4/2026).

1. KRAS cetak laba Rp79,2 miliar di kuartal I

IMG_0970.jpeg
Kantor pusat PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) di Jakarta Selatan. (IDN Times/Vadhia Lidyana)

Adapun di kuartal I-2026 (Januari-Maret), perusahaan membukukan laba bersih 4,6 juta dolar AS atau setara Rp79,2 miliar (kurs Rp17.216 per dolar AS).

KRAS sendiri belum merilis laporan keuangan kuartal I-2026 secara resmi.

“Dan alhamdulillah di Q1 kami bisa nutup kurang lebih 4,6 juta dolar AS laba bersihnya,” ucap Akbar.

Capaian laba di awal 2026 itu mencakup 3,96 persen dari target laba sepanjang 2026.

Akbar mengatakan, capaian kinerja di awal 2026 melanjutkan kinerja sepanjang 2025 yang positif, dengan capaian laba sebesar 325,5 juta dolar AS, atau setara Rp5,49 triliun (kurs Rp16.720 per dolar AS pada 31 Desember 2025).

Capaian laba krakatau steel di 2025 membuktikan perusahaan telah keluar dari jurang kerugian. Sebab, pada 2024, perusahaan masih mencatatkan rugi sebesar 154,71 juta dolar AS, atau setara Rp2,5 triliun (kurs Rp16.157 per dolar AS pada 31 Desember 2024).

2. Krakatau Steel dapat keringanan pembayaran utang dari bank swasta

ilustrasi rupiah (unsplash.com/Mufid Majnun)
ilustrasi rupiah (unsplash.com/Mufid Majnun)

Hingga kuartal I-2026, perusahaan masih memiliki liabilitas sebesar 2,04 miliar dolar AS, atau setara Rp33,05 miliar (kurs Rp16.199 per dolar AS pada 31 Maret 2026).

Dalam rangka penyehatan keuangan perusahaan, Krakatau Steel melanjutkan program restrukturisasi utang, salah satunya kepada pihak perbankan.

Akbar mengatakan, ada empat bank swasta yang sudah memberikan lampu hijau pada rencana restrukturisasi KRAS, yakni PT Bank Centra Asia Tbk atau BCA, PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA), Standard Chartered Bank, dan PT Bank DBS Indonesia.

“Negosiasi kami dengan pihak perbankan, terutama bank swasta dan swasta asing yang memberikan kepercayaan pertama kepada Krakatau Steel, dengan melakukan haircut kepada kami, dengan potongan diskon yang luar biasa, 80 persen daripada utang pokok, bunga dan juga denda,” tutur Akbar.

3. Pulihkan kinerja demi dapat akses pembiayaan

IMG_0972.jpeg
Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS), Muhammad Akbar Djohan. (IDN Times/Vadhia Lidyana)

Sebelumnya, pada akhir 2025, KRAS mendapatkan suntikan modal dari Danantara sebesar 295 juta dolar AS atau setara Rp4,9 triliun. Dana itu sebagian besar digunakan untuk modal kerja, tepatnya pembelian bahan baku.

Namun, angka yang diajukan perusahaan awalnya Rp8 triliun. Oleh sebab itu, perusahaan masih membutuhkan pinjaman untuk keberlangsungan bisnis.

Dengan upaya restrukturisasi, perusahaan berharap bisa kembali mendapatkan akses pembiayaan untuk keberlangsungan bisnis.

“Kami punya kewajiban hanya bagaimana meyakinkan utang-utang itu dalam struktur restrukturisasi bisa kita penuhi, dan juga bisa mendapatkan pinjaman berikutnya. Karena tidak cukup tadi Rp5 triliun,” ujar Akbar.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ilyas Listianto Mujib
EditorIlyas Listianto Mujib
Follow Us

Related Articles

See More