Dana Kredit Menganggur Rp2.506 Triliun, Naik dari Posisi Akhir 2025

- Dana kredit yang belum disalurkan perbankan mencapai Rp2.506,47 triliun pada Januari 2026, naik dari posisi Desember 2025.
- Pemanfaatan pembiayaan perbankan perlu ditingkatkan untuk mengoptimalkan fasilitas kredit yang masih tersedia dalam jumlah besar.
- Kredit perbankan tumbuh 9,96 persen (yoy) pada Januari 2026, didorong oleh pertumbuhan kredit investasi, modal kerja, dan konsumsi.
Jakarta, IDN Times - Bank Indonesia (BI) mencatat kredit yang belum disalurkan perbankan atau undisbursed loan mencapai Rp2.506,47 triliun pada Januari 2026. Nilai ini setara 22,65 persen dari total plafon kredit yang tersedia.
Angka tersebut meningkat dibandingkan posisi Desember 2025 yang sebesar Rp2.439,2 triliun. Data ini menunjukkan masih besarnya pembiayaan perbankan yang belum termanfaatkan pelaku usaha maupun rumah tangga.
1. Pemanfaatan pembiayaan perbankan harus terus dilakukan

Gubernur BI Perry Warjiyo tak menampik, pemanfaatan pembiayaan perbankan perlu terus ditingkatkan, terutama dari sisi permintaan kredit. Langkah ini dinilai penting untuk mengoptimalkan fasilitas kredit yang masih tersedia dalam jumlah besar.
“Pemanfaatan pembiayaan perbankan dapat terus ditingkatkan, terutama untuk mengoptimalkan fasilitas pinjaman yang belum digunakan (undisbursed loan) yang masih cukup besar, yakni mencapai Rp 2.506,47 triliun atau 22,65 persen dari total plafon kredit yang tersedia,” kata Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur BI secara virtual, Kamis (19/2/2026).
2. Rasio AL/DPK 27,54 persen, likuiditas dinilai memadai

Dari sisi penawaran, kapasitas pembiayaan perbankan dinilai tetap kuat. Hal ini tercermin dari rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) sebesar 27,54 persen.
Selain itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 13,48 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada Januari 2026. Angka tersebut menunjukkan likuiditas perbankan masih memadai untuk mendorong penyaluran kredit.
“Minat penyaluran kredit perbankan terus membaik, tercermin dari persyaratan pemberian kredit (lending standard) yang semakin longgar, kecuali pada segmen kredit konsumsi dan UMKM, seiring masih tingginya risiko kredit pada kedua segmen tersebut,” ujarnya.
3. Kredit perbankan tumbuh 9,96 persen per Januari

Kredit perbankan pada Januari 2026 tercatat tumbuh 9,96 persen (yoy), naik dari Desember 2025 yang sebesar 9,69 persen (yoy). Pertumbuhan ini didorong kredit investasi yang melonjak 22,38 persen (yoy), kredit modal kerja 4,13 persen (yoy), serta kredit konsumsi 6,58 persen (yoy).
Ke depan, BI memperkirakan pertumbuhan kredit 2026 berada dalam kisaran 8–12 persen. Otoritas moneter akan terus menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus mendorong intermediasi perbankan.
"BI akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) guna memperbaiki struktur suku bunga serta mendorong pertumbuhan kredit dan pembiayaan perbankan," bebernya.

















