Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kolombia Minta Trump Tangguhkan Tarif karena Ekonomi Lumpuh usai Gempa
Bendera Kolombia (unsplash.com/David Restrepo)
  • Presiden Kolombia Abelardo de la Espriella meminta Donald Trump menangguhkan tarif impor AS agar pelaku usaha bisa bertahan dan pemulihan ekonomi pascagempa lebih cepat.
  • Tarif produk Kolombia di AS naik dari 10 persen menjadi 12,5 persen, sementara kebutuhan rekonstruksi diperkirakan mencapai 6,4 miliar dolar AS tanpa kenaikan pajak domestik.
  • Gempa magnitudo 7,4 di barat Kolombia menewaskan sedikitnya 294 orang, merusak puluhan ribu bangunan, melumpuhkan rumah sakit, dan memicu penutupan sementara sejumlah bandara.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Presiden Kolombia Abelardo de la Espriella meminta Presiden Amerika Serikat Donald Trump menangguhkan tarif impor produk negaranya pada Sabtu (15/8/2026). Langkah diplomasi ini diambil setelah bencana gempa bumi melumpuhkan perekonomian nasional.

Permohonan ini bertujuan memberi ruang pemulihan bagi dunia usaha dan mempercepat penanganan krisis pascabencana. Pemerintah Kolombia berharap kerja sama dengan AS dapat meringankan beban rekonstruksi wilayah terdampak.

1. Percakapan bilateral bahas kelangsungan dunia usaha

ilustrasi Bogotá, Colombia, Kolombia (pexels.com/Rodolfo Torres Bermudez)

Presiden de la Espriella menyampaikan permohonan tersebut melalui telepon selama sepuluh menit kepada Donald Trump. Ia menekankan pentingnya kelonggaran tarif mengingat AS merupakan pasar ekspor terbesar bagi Kolombia.

"Saya meminta untuk menangguhkan sementara tarif tinggi agar pelaku usaha kami dapat bertahan dari dampak gempa bumi," ujar de la Espriella, dilansir TRT World.

Dalam percakapan hangat tersebut, Trump menyampaikan simpati mendalam dan belasungkawa atas jatuhnya korban jiwa. De la Espriella mengapresiasi kepedulian AS dalam merespons krisis yang dialami rakyatnya.

2. Tarif impor naik di tengah lonjakan biaya rekonstruksi

ilustrasi tarif impor (pexels.com/Markus Winkler)

Tarif impor AS untuk produk Kolombia naik dari 10 persen menjadi 12,5 persen pada akhir Juli. Kenaikan bea masuk ini berlaku bagi mayoritas barang ekspor, kecuali komoditas seperti kopi dan minyak bumi.

Kebijakan ini memperberat upaya pemulihan pascabencana. Pemerintah Kolombia memperkirakan kebutuhan dana rekonstruksi mencapai 6,4 miliar dolar AS (Rp113,91 triliun). Kendati membutuhkan anggaran besar, pemerintah berjanji tidak menaikkan pajak domestik.

"Kami menghadapi tantangan besar untuk membangun kembali Kolombia di tengah situasi ekonomi yang sulit," kata de la Espriella.

Sebagai bentuk dukungan awal, Departemen Luar Negeri AS mengalokasikan bantuan kemanusiaan sebesar 15,5 juta dolar AS (Rp275,88 miliar) untuk hunian darurat, pangan, dan evaluasi kerusakan.

3. Gempa magnitudo 7,4 sebabkan kerusakan berat

Reruntuhan bangunan akibat gempa Kolombia. (World Central Kitchen, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)

Gempa magnitudo 7,4 mengguncang barat Kolombia. Berpusat di San Jose del Palmar, Choco, dengan kedalaman 107 kilometer, bencana ini menjadi gempa terkuat di Kolombia sepanjang abad ke-21.

Bencana ini menewaskan sedikitnya 294 orang serta merusak puluhan ribu fasilitas umum dan rumah warga. Kerusakan parah terjadi di Rumah Sakit Universitas Cali hingga pasien terpaksa dirawat di area taman.

"Sekitar 30 persen bangunan rumah sakit runtuh, mencakup tiga lantai perawatan anak, penyakit dalam, dan unit neonatal," kata Manajer Rumah Sakit, Irne Torres Castro, dilansir The Economic Times.

Selain kerusakan bangunan, beberapa bandara utama ditutup sementara untuk penerbangan komersial hingga mengganggu jalur transportasi udara.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article