Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Tarif 50 Persen Kanada Ditangguhkan, Trump Sebut Ada Kesepakatan

Tarif 50 Persen Kanada Ditangguhkan, Trump Sebut Ada Kesepakatan
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (Shealeah Craighead, Public domain, via Wikimedia Commons)
  • Donald Trump menangguhkan tarif 50 persen terhadap ekspor Kanada selama tiga hari, setelah AS dan Kanada mencapai kesepakatan awal yang masih menunggu finalisasi dokumen.
  • Negosiasi berfokus pada penurunan tarif kendaraan Kanada, tuntutan akses pasar produk AS, serta isu tarif balasan dan penjualan alkohol Amerika di tingkat provinsi.
  • Kesepakatan juga membuka peluang pengaktifan Keystone XL, di tengah ketegangan perdagangan bernilai 909 miliar dolar AS dan kekhawatiran dampak tarif terhadap biaya hidup, rantai pasok, serta pekerjaan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump resmi menangguhkan rencana penerapan tarif 50 persen terhadap produk ekspor asal Kanada selama tiga hari. Kebijakan ini diumumkan pada Selasa (18/8/2026) malam, hanya beberapa jam sebelum kenaikan bea masuk berlaku, menyusul tercapainya kesepakatan awal antara pejabat kedua negara.

Ancaman tarif tersebut sebelumnya bakal menyasar berbagai produk ekspor Kanada senilai hampir 20 miliar dolar AS (sekitar Rp356,7 triliun), mulai dari produk olahan susu, anggur, semen, pakaian, hingga peralatan hoki. Penangguhan sementara ini berlaku di luar tarif impor yang sudah lebih dulu diterapkan untuk komoditas baja, aluminium, kayu, serta otomotif.

Trump membagikan kabar tersebut secara langsung melalui akun media sosial pribadinya.

“Saya telah menangguhkan Tarif 50% terhadap Kanada, yang dijadwalkan mulai berlaku besok pagi selama periode tiga hari, berdasarkan fakta bahwa Kanada dan A.S., tunduk pada finalisasi dokumen, memiliki KESEPAKATAN!” tulis Trump, dikutip BBC.

Merespons pengumuman itu, Perdana Menteri Kanada Mark Carney mengonfirmasi adanya kemajuan signifikan dalam perundingan dagang kedua negara. Meski demikian, ia menegaskan masih ada sejumlah poin krusial yang wajib dituntaskan.

  1. 1. AS dan Kanada membahas pemangkasan tarif otomotif

    ilustrasi pembuatan mobil (pexels.com/ThisIsEngineering)
    ilustrasi pembuatan mobil (pexels.com/ThisIsEngineering)

    Perundingan intensif yang bergulir sejak Juli lalu berfokus pada rencana penurunan tarif impor kendaraan Kanada ke AS dari 25 persen menjadi 15 persen. Melansir laporan Reuters, pihak AS menetapkan syarat agar pemotongan bea masuk tersebut hanya dialokasikan bagi kendaraan dengan tingkat komponen lokal yang tinggi.

    Di sisi lain, Kanada terus mendesak penghapusan tarif di berbagai sektor utama ekspornya. Sementara itu, AS menuntut pencabutan tarif balasan serta pembukaan kuota pasar yang lebih luas bagi produk keju olahan produsen Amerika.

    AS juga mendesak agar larangan penjualan minuman beralkohol asal Amerika di tingkat provinsi segera dicabut. Menanggapi hal ini, Premier Ontario Doug Ford menyatakan siap membuka kembali saluran penjualan tersebut asalkan kesepakatan yang dicapai benar-benar adil bagi kedua pihak.

    "Kesepakatan itu juga mencakup komitmen keamanan ekonomi, penyelarasan perdagangan digital, dan perlindungan bagi pekerja domestik,” kata Kantor Perwakilan Dagang AS.

    Meski begitu, perbedaan pandangan terkait detail tarif kendaraan dan aturan impor alkohol balasan di tingkat provinsi masih menjadi batu ganjalan. Isu-isu sensitif ini masih terus digodok demi mencapai kata sepakat secara menyeluruh.

  2. 2. Trump membuka peluang kebangkitan proyek Keystone XL

    ilustrasi pipa minyak
    ilustrasi pipa minyak (pexels.com/David Brown)

    Di samping pembahasan sengketa tarif dagang, kesepakatan akhir ini juga membuka wacana dihidupkannya kembali proyek pipa minyak Keystone XL. Trump secara terbuka mengisyaratkan peluang berlanjutnya megaproyek energi tersebut.

    “Pipa Keystone XL yang hebat, lama dibunuh oleh Sleepy Joe Biden, mungkin dibangunkan dari kubur!” tulisnya.

    Proyek jalur pipa sepanjang 1.930 kilometer ini dirancang memiliki kapasitas salur hingga 830 ribu barel minyak per hari.

    Sebelumnya, proyek Keystone XL dihentikan oleh pengembangnya, TC Energy, pada 2021 setelah izin resminya dicabut oleh pemerintah AS. Diprakarsai sejak 2008 untuk menyalurkan minyak dari kawasan Kanada barat ke fasilitas kilang di AS, proyek ini sempat memicu gelombang protes masif dari pemilik lahan, komunitas adat Native American, serta aktivis lingkungan atas risiko kebocoran minyak—sebagaimana penolakan pada proyek pipa Dakota Access dan Enbridge Line 3.

  3. 3. AS dan Kanada menghadapi tekanan perdagangan

    ilusrasi kapal berlayar (pexels.com/Tom Fisk)
    ilusrasi kapal berlayar (pexels.com/Tom Fisk)

    Langkah penangguhan ini diambil di tengah tingginya tensi diplomatik dan perdagangan antara kedua negara tetangga sejak awal 2025. Pemerintah AS sebelumnya sempat mengenakan tarif 25 persen akibat isu perbatasan dan peredaran obat-obatan terlarang. Kanada membalas tudingan itu dengan membeberkan data bahwa penyeberangan ilegal maupun penyelundupan fentanil dari wilayah mereka tercatat kurang dari 1 persen.

    Gesekan kembali memuncak pada Juli 2026 saat Washington mengancam tarif 50 persen atas tuduhan praktik diskriminasi terhadap produk mobil, minuman beralkohol, dan susu asal AS.

    Eskalasi konflik ekonomi ini menjadi perhatian serius mengingat total nilai perdagangan bilateral kedua negara mencapai 909 miliar dolar AS(sekitar Rp16.211 triliun) pada 2024.

    Kamar Dagang AS pun mendesak kedua pihak segera berkompromi. Pihaknya memperingatkan bahwa pemberlakuan tarif tinggi berisiko membengkakkan biaya hidup masyarakat, merusak rantai pasok kawasan, serta mengancam keberlangsungan 13 juta lapangan kerja yang bergantung pada perjanjian Perjanjian Amerika Serikat-Meksiko-Kanada (USMCA). Di saat bersamaan, para pelaku usaha di Kanada mengaku dibayangi ancaman kerugian finansial yang amat berat jika tarif tersebut benar-benar dieksekusi, menurut laporan CBC.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More