Jakarta, IDN Times — Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran sejak Sabtu (28/2/2026) dini hari dalam operasi yang disebut Presiden AS Donald Trump sebagai operasi besar-besaran. Menurut Trump, serangan itu bertujuan menghancurkan program nuklir Teheran dan berpotensi menggulingkan rezim yang berkuasa. Serangan itu dilancarkan setelah pembicaraan antara negosiator AS dan Iran pada Kamis (26/2/2026), tidak menghasilkan kesepakatan.
Serangan tersebut langsung memicu balasan dari Iran dan meningkatkan risiko konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah. Tak hanya itu, Iran pun kemudian mengambil langkah menutup Selat Hormuz. Melalui Garda Revolusinya (IRGC), Iran memberi peringatan kepada kapal-kapal bahwa mereka tidak boleh melewati Selat Hormuz, jalur laut strategis yang menjadi titik penting bagi pengiriman minyak dunia.
Ketegangan ini memunculkan kekhawatiran serius di pasar energi global. Analis memperkirakan harga minyak bisa melonjak tajam ketika pasar kembali dibuka, terutama jika tidak ada tanda-tanda deeskalasi dalam beberapa hari ke depan.
