Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Selat Hormuz Jadi Pusat Ketegangan Baru, Ada Apa?

Penampakan Selat Hormuz dari satelit
Penampakan Selat Hormuz dari satelit (Jacques Descloitres, MODIS Land Rapid Response Team, NASA/GSFC, Public domain, via Wikimedia Commons)
Intinya sih...
  • Latihan militer Iran di Selat Hormuz setelah manuver gabungan tiga negara
  • Trump mengirim ancaman keras kepada Iran melalui media sosial Truth Social
  • Iran menegaskan kesiapan membalas serangan dan siap tempur penuh
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN TimesIran berencana melaksanakan latihan militer dengan tembakan langsung di kawasan strategis Selat Hormuz pada Minggu (1/2/2026) hingga Senin (2/2/2026). Rencana tersebut dipublikasikan melalui saluran media pemerintah Iran serta pemberitahuan navigasi resmi yang dikeluarkan pada Kamis (29/1/2026).

Kegiatan latihan ini dipimpin oleh angkatan laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), yang dikenal mengoperasikan armada kapal serang cepat berukuran kecil dan kerap terlibat ketegangan dengan Angkatan Laut Amerika Serikat (AS).

Pengumuman latihan ini muncul di tengah memanasnya hubungan antara Teheran dan Washington. Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan telah mengirim kekuatan militer besar ke Timur Tengah, termasuk kelompok kapal induk USS Abraham Lincoln yang kini berada di Laut Arab, didukung kapal perusak rudal, jet tempur modern, dan sistem pertahanan rudal.

1. Latihan berlangsung setelah manuver gabungan tiga negara

ilustrasi operasi keamanan di area laut (pexels.com/germannavyphotograph)
ilustrasi operasi keamanan di area laut (pexels.com/germannavyphotograph)

Kegiatan militer terbaru Iran ini digelar tak lama setelah latihan bersama bertajuk Zolfaghar 1400 yang melibatkan Rusia dan China di wilayah perairan sekitar Selat Hormuz, Laut Oman, serta bagian utara Samudra Hindia. Manuver gabungan tersebut mengikutsertakan kekuatan angkatan laut, udara, dan darat Iran bersama unit militer Rusia dan China sebagai bagian dari agenda latihan tahunan rutin. Latihan trilateral lanjutan antara ketiga negara juga telah direncanakan berlangsung di sekitar Selat Hormuz pada Minggu (1/2/2026).

Sebelum latihan saat ini, Iran sempat memberlakukan pembatasan wilayah udara melalui pemberitahuan NOTAM dan mengadakan latihan tembakan langsung pada 27–29 Januari 2026 dalam area lima mil laut. Zona tersebut dinyatakan tertutup mulai dari permukaan laut hingga ketinggian 25 ribu kaki.

Dilansir dari The Hindu, Selat Hormuz sendiri merupakan jalur pelayaran internasional yang sangat vital dan memiliki titik tersempit selebar 33 kilometer atau 21 mil, menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman. Sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melewati jalur ini, dengan sebagian besar pengiriman ditujukan ke negara-negara Asia tanpa banyak alternatif rute ekspor lain. Rencana aktivitas tembakan langsung Iran berpotensi bersinggungan dengan jalur utara Skema Pemisahan Lalu Lintas, yaitu koridor selebar 3,2 kilometer atau 2 mil yang digunakan untuk arus pelayaran dua arah.

2. Trump mengirim ancaman keras kepada Iran

Presiden AS Donald Trump berbicara di CPAC Februari 2011. (Mark Taylor from Rockville, USA, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)
Presiden AS Donald Trump berbicara di CPAC Februari 2011. (Mark Taylor from Rockville, USA, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)

Trump memberikan peringatan terbuka melalui media sosial Truth Social terkait meningkatnya ketegangan dengan Iran.

“Waktu semakin menipis, ini benar-benar sangat penting! Seperti yang pernah saya katakan kepada Iran sebelumnya, BUATLAH KESEPAKATAN! Mereka tidak melakukannya, dan terjadilah ‘Operasi Palu Tengah Malam,’ penghancuran besar terhadap Iran. Serangan berikutnya akan jauh lebih buruk! Jangan biarkan itu terjadi lagi,” tulisnya.

Trump juga menetapkan sejumlah batasan yang dianggapnya sebagai garis merah, termasuk tindakan terhadap demonstran damai, eksekusi massal tahanan, dan perkembangan program nuklir Iran, yang menurutnya dapat memicu respons militer bila dilanggar.

Pada periode sebelumnya, AS telah melancarkan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran di Fordow, Natanz, dan Isfahan dengan melibatkan pengebom strategis B-2 yang terbang langsung dari pangkalan Whiteman AFB di Missouri, disertai penggunaan bom penghancur bunker dan rudal Tomahawk.

Komando Pusat AS (CENTCOM) kemudian menegaskan bahwa pihaknya tidak akan membiarkan tindakan berbahaya yang dapat mengancam keselamatan kapal perang AS, sekutu regional, maupun kapal komersial, serta menekankan kesiapan militer Amerika sebagai kekuatan tempur paling mematikan di dunia.

3. Iran menegaskan kesiapan membalas serangan

ilustrasi bendera iran (pexels.com/aboodi vesakaran)
ilustrasi bendera iran (pexels.com/aboodi vesakaran)

Iran berkali-kali menegaskan akan merespons secara tegas setiap serangan baru yang dilakukan oleh AS. Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyampaikan sikap resmi pemerintah Iran terkait kemungkinan memburuknya situasi.

“Saat rakyat Iran berduka atas orang-orang tercinta mereka dan membangun kembali apa yang telah hancur, ancaman lain membayangi: kegagalan akhir diplomasi. Tidak seperti sikap menahan diri yang ditunjukkan Iran pada Juni 2025, angkatan bersenjata kami yang kuat tidak akan ragu untuk membalas dengan segala yang kami miliki jika kami diserang lagi,” katanya, dikutip dari Fox News.

Wakil Presiden Mohammad Reza Aref menegaskan bahwa Iran berada dalam kondisi siap tempur penuh dan akan mempertahankan diri secara maksimal tanpa memulai konflik terlebih dahulu. Juru bicara Angkatan Darat Brigjen Mohammad Akraminia menyatakan setiap kesalahan langkah dari pihak lawan akan segera mendapat respons langsung tanpa jeda waktu. Iran memiliki persenjataan rudal jarak pendek dan menengah yang mampu menjangkau kepentingan AS di kawasan Timur Tengah, negara-negara Teluk Arab, serta Israel, dan Teheran juga membuka kemungkinan melancarkan serangan pendahuluan jika merasa berada dalam ancaman serius.

Media di Israel melaporkan bahwa pemerintah Tel Aviv telah meningkatkan status kewaspadaan ke tingkat tertinggi guna mengantisipasi potensi operasi militer AS yang diperkirakan menyasar fasilitas nuklir dan rudal Iran, tanpa bertujuan mengganti pemerintahan di Teheran.

Dalam lawatan ke Istanbul, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menekankan pentingnya kerja sama erat antara Iran dan Turki untuk menghadapi dinamika regional, sekaligus mengecam keputusan Eropa yang memasukkan IRGC ke dalam daftar organisasi teroris. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyatakan kesiapan negaranya untuk menjadi penengah dialog antara Iran dan AS demi menurunkan eskalasi ketegangan di kawasan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella
Follow Us

Latest in News

See More

Inggris dan China Akrab, Trump Ingatkan soal Risiko Bisnis

03 Feb 2026, 05:09 WIBNews