Menanti Pengumuman The Fed, Rupiah Melemah Tipis ke Rp17.696

- Rupiah ditutup melemah 2 poin atau 0,01 persen ke Rp17.696 per dolar AS pada Rabu.
- Pelaku pasar menunggu keputusan suku bunga The Fed, proyeksi ekonomi terbaru, serta pernyataan Kevin Warsh.
- Untuk perdagangan Kamis, rupiah diproyeksikan bergerak fluktuatif pada kisaran Rp17.690 hingga Rp17.750 per dolar AS.
Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah melemah tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Rabu (16/9/2026). Rupiah ditutup di level Rp17.696 per dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah dua poin atau 0,01 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.694 per dolar AS. Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak dalam rentang Rp17.681 hingga Rp17.738 per dolar AS setelah dibuka pada level Rp17.696 per dolar AS.
1. Pasar menanti keputusan suku bunga The Fed
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelaku pasar tengah menunggu keputusan suku bunga Bank Sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed) yang dijadwalkan diumumkan pada Kamis dini hari pukul 01.00 WIB.
"Pasar keuangan memperkirakan Bank Sentral AS akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps (basis poin) ke kisaran 3,75-4 persen," kata Ibrahim.
Selain keputusan suku bunga, pelaku pasar akan mencermati proyeksi ekonomi terbaru The Fed serta pernyataan Ketua The Fed, Kevin Warsh, mengenai arah kebijakan moneter ke depan.
Ibrahim mengutip perangkat CME FedWatch yang menunjukkan peluang hampir 92,4 persen bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 bps dalam pertemuan kebijakan September yang berlangsung pada Rabu ini.
2. Menkeu baru hadapi tantangan jaga kredibilitas APBN
Dari dalam negeri, Ibrahim mengatakan Menteri Keuangan (Menkeu) baru Suahasil Nazara menghadapi tantangan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus menjaga disiplin dan kredibilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Menurutnya, pemerintah perlu mempertahankan kapasitas fiskal agar tetap memiliki ruang untuk merespons guncangan ekonomi. Di sisi lain, defisit APBN perlu dijaga di bawah 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) untuk mempertahankan kepercayaan terhadap fiskal Indonesia.
"Selain itu, tugas Menteri Keuangan baru bukan sekadar menentukan apakah kebijakan fiskal harus lebih ekspansif atau konservatif," ujar Ibrahim.
Ibrahim menilai biaya pinjaman jangka panjang global yang masih tinggi dan permintaan domestik yang belum sepenuhnya kuat membuat pemerintah perlu berhati-hati dalam menentukan kebijakan fiskal.
3. Rupiah diproyeksi melemah lagi pada Kamis
Untuk perdagangan Kamis (17/9/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif dengan potensi kembali melemah. Rupiah diproyeksikan bergerak dalam rentang Rp17.690 hingga Rp17.750 per dolar AS.
Sementara itu, dalam 52 minggu terakhir, rupiah bergerak pada kisaran Rp16.409 hingga Rp18.209 per dolar AS. Sementara itu, pelemahan rupiah sejak awal tahun atau year-to-date (ytd) tercatat 6,09 persen.


















