ilustrasi CEO (pexels.com/Antoni Skhraba Studio)
Kompensasi bagi jajaran eksekutif memiliki beragam bentuk yang umumnya dinegosiasikan sebelum mereka resmi bergabung dengan suatu perusahaan. Paket ini biasanya terdiri dari gaji pokok, opsi saham, uang tunai, hingga bonus.
Demi mendatangkan kandidat terbaik untuk mengisi posisi krusial, perusahaan sering kali menawarkan fasilitas serta insentif tambahan. Beberapa dari keuntungan tersebut bahkan tidak berkaitan langsung dengan performa kerja mereka di kemudian hari, salah satunya adalah golden handshake.
Kesepakatan golden handshake umumnya dirancang sebelum karyawan mulai bekerja. Fasilitas ini merujuk pada dana kompensasi yang dipastikan cair apabila karyawan tersebut kehilangan jabatannya akibat pemecatan, pemutusan hubungan kerja (PHK), restrukturisasi organisasi, faktor kelalaian, hingga masa pensiun.
Strategi ini sangat lazim digunakan oleh perusahaan sebagai instrumen untuk memikat figur-figur tertentu, khususnya calon pemimpin yang saat itu belum menjadi bagian dari internal perusahaan.
Nilai dari golden handshake bisa menembus angka jutaan dolar, sehingga menjadi perhatian serius bagi para investor. Sebagai gambaran, perusahaan R.J. Reynolds Nabisco pernah menggelontorkan dana sekitar 50 juta dolar AS pada tahun 1989 kepada F. Ross Johnson demi memenuhi klausul perjanjian tersebut.
Di sisi lain, pekerja non-eksekutif juga berpeluang mendapatkan paket serupa sebagai bonus dalam kondisi-kondisi tertentu, meskipun nominalnya jauh lebih kecil dibanding yang diterima oleh Chief Executive Officer (CEO) maupun jajaran direksi.
Perbedaan skala ekonomi ini membuat sebagian kalangan menjulukinya sebagai silver handshake. Walau nilainya berbeda jauh, fasilitas ini dinilai tetap menguntungkan daripada harus keluar dari perusahaan tanpa membawa kompensasi apa pun.
Contoh penerapan skema ini pada pekerja non-eksekutif dapat dilihat di industri otomotif, di mana perusahaan membeli kontrak kerja dari anggota serikat buruh demi menghemat modal jangka panjang guna merekrut tenaga kerja baru dengan biaya yang lebih efisien.
Selain itu, paket pesangon sejenis juga kerap ditawarkan kepada karyawan yang diminta mengambil pensiun dini agar posisi mereka bisa digantikan oleh talenta-talenta baru.