ilustrasi AI (vecteezy.com/Khunkorn Laowisit)
Efisiensi dilakukan karena Microsoft melakukan investasi besar-besaran untuk pengembangan teknologi akal imitasi atau artificial intelligence (AI). Perusahaan meningkatkan efisiensi di seluruh bisnisnya dengan memanfaatkan teknologi tersebut.
Meningkatnya permintaan AI telah mendorong pertumbuhan bisnis komputasi awan (cloud) Azure milik Microsoft. Meningkatnya biaya pembangunan pusat data (data center) untuk menjalankan layanan tersebut menekan arus kas perusahaan. Pengeluaran untuk program tersebut diperkirakan mencapai 190 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp3.418 triliun sepanjang 2026. Angka itu jauh melampaui ekspektasi perusahaan.
AI yang semakin dapat mengotomatisasi tugas-tugas bisnis rutin juga menjadi ancaman bagi bisnis perangkat lunaknya yang menguntungkan selama ini. Sementara lonjakan harga chip memori yang didorong oleh permintaan pusat data telah memaksa Microsoft untuk menaikkan harga konsol Xbox, saat permintaan konsol sudah lesu. Kondisi itu menyebabkan margin Xbox turun 3 persen, dan memaksa perusahaan melakukan restrukturisasi yang dapat mencakup potensi merger dan akuisisi.