Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Pemerintah India Klarifikasi soal Kebijakan Larang Bensin E20

Pemerintah India Klarifikasi soal Kebijakan Larang Bensin E20
Bendera India (unsplash.com/Naveed Ahmed)
Intinya Sih

Pemerintah India Berikan Klarifikasi soal Bensin E20 untuk Redam Protes

  • Pemerintah India mengklarifikasi kebijakan bensin E20 setelah pernyataan Jaksa Agung memicu polemik dan kekhawatiran publik soal kesiapan serta dampak program terhadap kendaraan.
  • Pemilik kendaraan melaporkan penurunan performa mesin dan jarak tempuh akibat penggunaan bensin E20, hingga memunculkan rencana aksi protes menuntut opsi bensin murni dan transparansi data teknis.
  • Kementerian Perminyakan menegaskan E20 aman digunakan, telah diuji secara menyeluruh, serta berkontribusi pada penghematan devisa dan peningkatan pendapatan petani tebu di India.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Pemerintah India mengklarifikasi kebijakan wajib bensin dengan campuran etanol 20 persen (E20), pada Jumat (3/7/2026). Langkah ini diambil untuk meredam gelombang protes masyarakat yang meluas di berbagai wilayah.

Penolakan publik meningkat setelah pernyataan seorang pejabat hukum senior di Mahkamah Agung memicu polemik. Pemilik kendaraan kini khawatir akan dampak bahan bakar tersebut terhadap performa mesin dalam jangka panjang.

1. Dampak pernyataan jaksa agung terkait program E20

ilustrasi biofuel (pexels.com/Engin Akyurt)
ilustrasi biofuel (pexels.com/Engin Akyurt)

Kontroversi bermula saat Jaksa Agung R. Venkataramani menyebut program E20 sebagai eksperimen pemerintah dalam sidang di Mahkamah Agung. Ia menyatakan bahwa dampak penuh dari kebijakan ini baru bisa dievaluasi pada tahun depan.

Rekaman video persidangan tersebut tersebar luas di media sosial dan memicu kekhawatiran masyarakat mengenai kesiapan program ramah lingkungan ini.

"E20 merupakan program uji coba yang hasilnya baru bisa dievaluasi secara menyeluruh pada tahun 2027," kata Jaksa Agung R. Venkataramani, dikutip dari The Straits Times.

Merespons situasi itu, Kementerian Hukum dan Keadilan India segera memberikan bantahan. Pihak Jaksa Agung menjelaskan bahwa istilah tersebut hanya merujuk pada fluktuasi pasokan bahan baku tebu, bukan ketidaksiapan program nasional.

2. Keluhan pemilik kendaraan mengenai performa mesin

ilustrasi bensin (unsplash.com/engin akyurt)
ilustrasi bensin (unsplash.com/engin akyurt)

Di sisi lain, para pengendara mengeluhkan penurunan jarak tempuh kendaraan setelah menggunakan bensin E20. Mereka juga mencemaskan risiko kerusakan komponen mesin yang tidak cocok dengan campuran etanol tinggi.

Keresahan ini makin mencuat setelah seorang pembuat konten otomotif mengunggah video kerusakan mobil hibrida miliknya setelah dua bulan pemakaian.

"Saya sudah mengeluarkan banyak uang dan membayar pajak untuk mobil ini, tetapi setelah dua bulan kendaraan saya justru rusak," ujar pengguna mobil, Manish Kashyap.

Menyikapi hal tersebut, kelompok masyarakat mulai merancang aksi unjuk rasa damai di kawasan Jantar Mantar, New Delhi. Mereka menuntut pengembalian opsi bensin murni tanpa campuran serta transparansi data teknis terkait kebijakan E20.

3. Penjelasan pemerintah terkait keamanan bensin E20

Ilustrasi Bendera India. (unsplash.com/Rakesh Mondal)
Ilustrasi Bendera India. (unsplash.com/Rakesh Mondal)

Kementerian Perminyakan dan Gas Alam India menegaskan bahwa kebijakan pencampuran etanol aman bagi mesin kendaraan. Pemerintah menyatakan seluruh tahapan program telah melalui serangkaian uji coba jalan yang lengkap.

Menteri Perminyakan Hardeep Singh Puri bahkan menyamakan penggunaan etanol dengan bahan bakar berkinerja tinggi yang digunakan dalam ajang balap mobil.

"Bahan bakar campuran ini juga digunakan pada mobil balap untuk meningkatkan akselerasi, walaupun jarak tempuhnya mungkin sedikit menurun," tutur Hardeep Singh Puri.

Pemerintah menambahkan bahwa program ini sangat penting untuk menjaga stabilitas ekonomi India. Kebijakan E20 diklaim berhasil menghemat devisa negara dengan mengurangi impor minyak mentah, sekaligus meningkatkan pendapatan petani tebu domestik.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar

Related Articles

See More