Mixue Pangkas 428 Gerai, Indonesia dan Vietnam Paling Terdampak

- Mixue menutup 428 gerai luar negeri, dengan Indonesia dan Vietnam sebagai pasar paling terdampak, sebagai bagian dari strategi efisiensi dan penguatan operasional jangka panjang.
- Perusahaan beralih ke format gerai lebih besar dan strategis untuk meningkatkan pengalaman pelanggan serta efisiensi bisnis di pasar Asia Tenggara.
- Meskipun memangkas gerai, Mixue tetap ekspansi global dan mencatat kenaikan pendapatan 35 persen, menandakan fokus pada pertumbuhan yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Bisnis minuman kekinian memang terlihat menjanjikan, apalagi kalau brand-nya sudah sebesar Mixue. Gerai es krim dan minuman asal China ini bahkan dikenal sebagai salah satu jaringan makanan dan minuman terbesar di dunia. Hampir di setiap sudut kota, outlet-nya mudah ditemukan, termasuk di Indonesia.
Namun, besarnya nama sebuah brand ternyata gak selalu berarti semua gerainya berjalan mulus, lho. Dilansir VnExpress, baru-baru ini, Mixue dilaporkan menutup ratusan gerai luar negeri sepanjang tahun lalu. Indonesia dan Vietnam menjadi dua negara yang paling terdampak dari langkah efisiensi tersebut.
Meski begitu, penutupan ini bukan berarti bisnisnya sedang runtuh. Perusahaan menyebut langkah ini sebagai bagian dari strategi untuk memperkuat operasional jangka panjang. Jadi, bukan sekadar tutup gerai, melainkan penataan ulang bisnis supaya tetap stabil.
Lalu, kenapa Indonesia dan Vietnam menjadi sorotan utama? Apa sebenarnya strategi yang sedang dijalankan Mixue? Berikut penjelasannya.
Table of Content
1. Indonesia dan Vietnam jadi pasar yang paling terdampak

Mixue menutup total 428 gerai luar negeri sepanjang tahun lalu. Perusahaan gak merinci jumlah pasti penutupan di masing-masing negara, tapi Indonesia dan Vietnam disebut sebagai wilayah yang paling terdampak. Hal ini cukup menarik karena keduanya justru merupakan pasar terbesar Mixue di luar China.
Vietnam sendiri tercatat memiliki 1.304 gerai hingga September 2024. Angka ini menunjukkan betapa besar pengaruh Mixue di pasar Asia Tenggara. Indonesia juga menjadi salah satu negara dengan ekspansi tercepat, sehingga penutupan gerai dalam jumlah besar langsung menarik perhatian publik.
Langkah ini dilakukan bukan karena perusahaan kehilangan pasar, melainkan karena mereka ingin meningkatkan efisiensi bisnis. Mixue menyebut fokus utamanya adalah mengoptimalkan operasional toko yang sudah ada agar bisa bertahan lebih lama. Jadi, strategi ini lebih mengarah pada kualitas, bukan sekadar jumlah gerai.
Kondisi ini menunjukkan ekspansi besar tetap perlu evaluasi. Gak semua lokasi cocok untuk bisnis jangka panjang. Kadang, menutup beberapa gerai justru menjadi keputusan yang lebih sehat untuk menjaga keberlanjutan usaha.
2. Mixue mulai beralih ke gerai yang lebih besar

Di Vietnam, Mixue sedang mempercepat perubahan dari format toko kecil tradisional ke outlet yang lebih besar. Gerai baru dibuat dengan area persiapan yang lebih luas, tampilan toko yang menghadap langsung ke jalan, serta lokasi yang lebih strategis. Tujuannya adalah meningkatkan pengalaman pelanggan sekaligus efisiensi operasional.
Model toko seperti ini dianggap lebih siap menghadapi persaingan jangka panjang. Gerai yang lebih besar memberi ruang kerja yang lebih nyaman bagi karyawan dan memungkinkan pelayanan yang lebih cepat. Selain itu, lokasi premium juga membantu meningkatkan visibilitas brand.
Strategi ini menunjukkan bisnis franchise gak selalu soal membuka cabang sebanyak mungkin. Kadang, memilih sedikit gerai tapi lebih kuat secara operasional jauh lebih menguntungkan. Apalagi di industri minuman cepat saji, lokasi sangat menentukan performa penjualan.
Banyak orang fokus pada jumlah cabang, padahal keberlanjutan bisnis lebih ditentukan oleh kualitas lokasi dan sistem operasional yang rapi. Faktor inilah yang kini sedang menjadi perhatian utama Mixue di pasar Asia Tenggara. Dengan strategi seperti ini, perusahaan berharap setiap gerai bisa menghasilkan performa yang lebih stabil dalam jangka panjang.
3. Harga murah tetap jadi kekuatan utama

Salah satu alasan Mixue cepat berkembang adalah harga produknya yang sangat terjangkau. Di Vietnam, produk seperti lemonade, es krim, milk tea, hingga fruit tea dijual dengan harga sekitar VND10.000 hingga VND30 ribu atau sekitar Rp6.300 sampai Rp18.900. Kisaran ini membuat Mixue mudah diterima oleh pelajar, mahasiswa, hingga pekerja muda.
Strategi harga murah ini bukan muncul begitu saja. Mixue menjaga harga tetap rendah karena mereka mengontrol rantai pasok secara langsung, mulai dari produksi bahan baku, logistik, riset produk, hingga pengendalian kualitas. Sistem ini membuat biaya operasional bisa ditekan lebih efisien.
Pendekatan seperti ini membuat Mixue punya daya saing yang kuat dibanding banyak brand minuman lain. Saat kompetitor menawarkan harga lebih tinggi, Mixue hadir dengan opsi yang lebih ramah kantong tanpa kehilangan daya tarik pasar.
Bagi konsumen, harga murah tentu menguntungkan. Namun bagi pelaku bisnis, ini menunjukkan pentingnya sistem supply chain yang kuat. Harga jual yang kompetitif sering kali bukan soal diskon besar, melainkan efisiensi dari belakang layar.
4. Ekspansi tetap berjalan di negara lain

Meski menutup ratusan gerai, Mixue tetap melakukan ekspansi ke berbagai negara lain. Perusahaan membuka lebih banyak toko di Amerika Serikat dan Kazakhstan. Selain itu, mereka juga masuk ke Malaysia dan Thailand lewat brand berbeda bernama Lucky Cup.
Langkah ini menunjukkan strategi penutupan gerai bukan tanda perusahaan sedang melemah. Sebaliknya, mereka sedang menata ulang area bisnis agar pertumbuhan bisa lebih sehat. Pasar yang kurang efisien diperbaiki, sementara peluang baru tetap dibuka.
Saat ini Mixue memiliki total 59.823 gerai di seluruh dunia. Sebanyak 55.356 gerai berada di China daratan, sementara sisanya tersebar di berbagai negara. Angka ini tetap menjadikan Mixue sebagai salah satu jaringan minuman terbesar secara global.
Artinya, perusahaan masih sangat agresif dalam membangun pasar internasional. Asia Tenggara tetap menjadi fokus utama, tapi mereka juga mulai memperluas pengaruh ke kawasan lain. Strategi ini memperlihatkan ambisi besar untuk mempertahankan dominasi global.
5. Pendapatan perusahaan justru terus naik

Menariknya, di tengah penutupan ratusan gerai, pendapatan Mixue justru melonjak tajam. Tahun lalu, pendapatan mereka naik 35 persen menjadi RMB33,56 miliar atau sekitar Rp76 triliun. Laba bersihnya juga meningkat 33 persen menjadi RMB5,93 miliar atau sekitar Rp13,4 triliun.
Kondisi ini menunjukkan jumlah gerai bukan satu-satunya ukuran keberhasilan bisnis. Perusahaan bisa saja menutup banyak cabang, tapi tetap menghasilkan keuntungan lebih besar jika operasionalnya lebih efisien. Inilah yang sedang dibangun oleh Mixue.
Banyak bisnis gagal karena terlalu fokus pada pertumbuhan cepat tanpa memperhatikan fondasi. Mixue tampaknya memilih jalur berbeda, yaitu memperkuat sistem terlebih dahulu agar pertumbuhan berikutnya lebih stabil. Strategi ini sering kali lebih aman untuk jangka panjang.
Kadang, mundur satu langkah bukan berarti kalah. Bisa jadi itu justru cara terbaik untuk melompat lebih jauh ke depan, terutama ketika tujuan utamanya adalah menjaga bisnis tetap sehat dalam waktu lama. Strategi seperti ini sering dipilih perusahaan besar agar pertumbuhan berikutnya bukan hanya cepat, tapi juga lebih kuat dan berkelanjutan.
Penutupan 428 gerai Mixue memang terdengar besar, apalagi ketika Indonesia dan Vietnam menjadi pasar yang paling terdampak. Namun jika dilihat lebih dalam, langkah ini sebenarnya adalah bagian dari strategi bisnis yang lebih matang. Perusahaan ingin memastikan setiap gerai bisa berjalan sehat dan berkelanjutan.
Mixue tetap berkembang, membuka pasar baru, dan mencatat kenaikan pendapatan yang signifikan. Jadi, fokusnya bukan lagi sekadar memperbanyak outlet, tapi membangun bisnis yang lebih kuat dari dalam. Ini menjadi pengingat, dalam dunia usaha, pertumbuhan yang sehat selalu lebih penting daripada pertumbuhan yang cepat.









![[QUIZ] Pilih Ide Bisnis, Kami Tebak Kepribadianmu Alpha, Beta, atau Omega](https://image.idntimes.com/post/20240219/pexels-startup-stock-photos-7103-a56a4ee6b878557b98051ffe7f93ee25-bae414e6e8f3154ea4ce8f51e23c7387.jpg)
![[QUIZ] Tebak Mata Uang Negara di Asia, Uji Pengetahuanmu!](https://image.idntimes.com/post/20241205/dileesh-kumar-dbppqnkhc7u-unsplash-d089e2e6e27dcbc257bd0b611ae3ac69.jpg)







