Pernahkah kamu awalnya sama sekali tidak tertarik membeli sebuah produk, tapi setelah melihat seorang influencer menggunakannya, tiba-tiba kamu jadi penasaran? Padahal kalau dipikir-pikir, informasi yang disampaikan sebenarnya tidak jauh berbeda dari iklan biasa. Kalau pernah, kamu tidak sendirian.
Kenapa Orang Lebih Percaya Anjuran Influencer daripada Iklan?

- Rekomendasi influencer terasa personal karena dikemas sebagai pengalaman sehari-hari, berbeda dari iklan yang secara jelas berorientasi menjual produk.
- Kepercayaan tumbuh dari paparan konten rutin dan rasa familiar, sehingga saran influencer terasa seperti datang dari orang yang dikenal audiens.
- Konten influencer menampilkan penggunaan produk lebih realistis dan relevan dengan niche audiens, tetapi konsumen tetap perlu mencermati kerja sama berbayar serta klaim berlebihan.
Fenomena ini semakin marak ditemui di era media sosial. Rekomendasi dari influencer, content creator, bahkan orang biasa di TikTok atau Instagram bisa membuat seseorang tertarik mencoba produk tertentu. Menariknya, pengaruh tersebut terkadang jauh lebih kuat dibandingkan dengan iklan yang dibuat secara profesional oleh perusahaan.
Lantas, mengapa orang lebih percaya anjuran influencer daripada iklan? Ternyata ada beberapa alasan yang membuat konsumen merasa lebih dekat dan percaya kepada sosok di balik konten tersebut. Mari, kita ulik bersama!
1. Rekomendasi terasa lebih personal

ilustrasi menonton konten seorang influencer (unsplash.com/Detail .co) Iklan biasanya memang dibuat untuk menjual produk. Ada visual yang menarik, slogan, diskon, sampai klaim mengenai keunggulan produk. Konsumen tentu sadar bahwa tujuan akhirnya adalah membuat mereka membeli.
Di sisi lain, rekomendasi influencer terasa seperti seseorang sedang berbagi pengalaman. Misalnya, seorang content creator bercerita bahwa ia sudah menggunakan skincare tertentu selama beberapa minggu dan menunjukkan perubahan yang dirasakannya. Kendati konten tersebut tetap bisa merupakan bagian dari kerja sama dengan brand, penyampaiannya terasa lebih seperti percakapan sehari-hari. Inilah yang membuat pesan lebih mudah diterima.
2. Influencer sudah membangun hubungan dengan audiens

ilustrasi content creator (pexels.com/Miriam Alonso) Orang tidak tiba-tiba percaya kepada influencer hanya karena memiliki banyak followers. Biasanya, kepercayaan tersebut terbentuk setelah audiens melihat konten mereka secara rutin. Audiens mungkin sudah mengikuti kehidupan, kebiasaan, gaya berpakaian, sampai pendapat influencer tersebut selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Akhirnya muncul rasa familiar.
Saat influencer yang sudah dikenal merekomendasikan suatu produk, audiens bisa merasa seperti mendapat saran dari orang yang mereka kenal. Padahal, hubungan tersebut sebenarnya hanya berlangsung satu arah melalui media sosial. Karena itu, rekomendasi influencer terasa lebih personal dibandingkan dengan iklan yang tiba-tiba muncul di layar.
3. Konsumen bisa melihat produk dalam kehidupan nyata

ilustrasi membuat konten (pexels.com/CoWomen) Salah satu kelemahan iklan adalah bahwa produk biasanya ditampilkan dalam kondisi yang sangat ideal. Foto dibuat semenarik mungkin, pencahayaan diatur, bahkan setiap detail visual direncanakan.
Influencer justru kerap memperlihatkan produk dalam situasi yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya, seorang beauty vlogger menunjukkan bagaimana sebuah cushion terlihat setelah dipakai beberapa jam atau bagaimana parfum tercium setelah digunakan dalam aktivitas tertentu. Konten seperti ini memberikan gambaran yang lebih realistis kepada calon pembeli. Konsumen bukan hanya melihat produknya, tetapi juga melihat bagaimana produk tersebut digunakan oleh orang lain.
4. Ada perasaan “kalau dia cocok, mungkin aku juga cocok”

ilustrasi seorang influencer sedang membuat konten (unsplash.com/Videodeck .co) Tanpa disadari, manusia sering menjadikan orang lain sebagai referensi saat mengambil keputusan. Ketika seseorang melihat banyak orang menggunakan dan membicarakan sebuah produk, muncul anggapan bahwa produk tersebut memang layak dicoba. Influencer memperkuat efek ini karena mereka memiliki audiens yang besar. Saat satu rekomendasi kemudian diikuti komentar positif, video pengguna lain, atau konten review tambahan, rasa percaya terhadap produk bisa semakin meningkat.
5. Influencer dianggap lebih jujur dan apa adanya

Ilustrasi influencer sedang membuat konten (freepik.com/author/drazenzigic) Konten influencer juga kerap dibuat dengan gaya yang lebih santai. Mereka bisa berbicara sambil duduk di kamar, membuat vlog, atau bahkan menunjukkan pengalaman ketika produk yang digunakan ternyata tidak sesuai ekspektasi. Justru momen-momen seperti ini bisa membuat audiens merasa bahwa influencer apa adanya.
Namun, bukan berarti semua rekomendasi influencer otomatis jujur. Konsumen tetap perlu berhati-hati, terutama jika konten tersebut merupakan iklan berbayar. Influencer yang kredibel biasanya tetap memberikan informasi yang jelas mengenai kerja sama dengan brand dan tidak berlebihan dalam membuat klaim.
6. Influencer dianggap lebih memahami kebutuhan audiensnya

ilustrasi seorang influencer sedang membuat konten (unsplash.com/Vitaly Gariev) Influencer biasanya memiliki niche tertentu. Ada yang fokus pada kecantikan, fashion, teknologi, makanan, otomotif, parenting, sampai gaya hidup. Karena sudah lama membuat konten di bidang tersebut, mereka dianggap memahami kebutuhan dan masalah audiensnya. Rekomendasi yang diberikan pun terasa lebih relevan.
Misalnya, seseorang yang sedang mencari parfum untuk dipakai sehari-hari mungkin akan lebih tertarik melihat review dari fragrance content creator. Bukan karena iklan parfum dengan visual mewah itu buruk, tetapi karena influencer biasanya memberikan informasi yang lebih relevan. Calon pembeli bisa mengetahui seperti apa aroma parfum, kapan cocok digunakan, dan bagaimana pengalaman orang lain saat memakainya.
Orang lebih percaya anjuran influencer daripada iklan karena konten mereka disampaikan lewat pengalaman yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Hal ini membuat calon pembeli lebih mudah percaya sebelum memutuskan untuk membeli.





















