Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Pakar Ungkap Potensi Ekonomi dari Pengembangan PLTP Ungaran
Wisatawan melintasi lokasi semburan uap belerang yang keluar dari kawah di lereng Gunung Ungaran, Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (25/8/2026). (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)
  • Pengembangan PLTP Gunung Ungaran dinilai berpotensi mendukung kualitas lingkungan melalui emisi panas bumi yang relatif rendah.
  • Fluida panas bumi digunakan dari reservoir bawah permukaan lalu dikembalikan melalui proses reinjeksi.
  • Proyek di Semarang dan Kendal masih melalui eksplorasi serta studi kelayakan, dengan target operasi pada 2031.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Sabtu (12/9/2026)

Yoga Aribowo menyatakan semakin banyak porsi PLTP akan berkontribusi positif bagi kualitas lingkungan.

2031

PLTP Gunung Ungaran direncanakan memiliki kapasitas sekitar 55 MW dengan target operasi pada 2031.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Ungaran masih dalam tahap eksplorasi dan studi kelayakan.
  • Who?
    Yoga Aribowo dari Universitas Diponegoro dan Dwi Anggia dari Kementerian ESDM menyampaikan keterangan mengenai pengembangan PLTP Gunung Ungaran.
  • Where?
    Wilayah Kerja Panas Bumi Gunung Ungaran berada di Kabupaten Semarang dan Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.
  • When?
    Target operasi PLTP Gunung Ungaran tercantum pada 2031 dalam RUPTL 2025-2034.
  • Why?
    Eksplorasi dilakukan untuk mengetahui potensi panas bumi dan menilai kelayakan pengembangannya.
  • How?
    Karakteristik reservoir diteliti melalui eksplorasi serta kajian geologi dan geofisika, termasuk penentuan titik pengeboran dengan data teknis.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

PLTP Gunung Ungaran memakai uap dan air panas dari dalam bumi. Pak Yoga dari UNDIP bilang emisinya relatif rendah. Air yang sudah dipakai dimasukkan lagi ke bawah tanah. Proyek ini juga bisa membuka kerja dan usaha kecil. Sekarang pemerintah masih mencari tahu potensi panas bumi dan kelayakan proyeknya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pengembangan panas bumi di Gunung Ungaran membuka ruang bagi pengelolaan sumber daya melalui reinjeksi fluida ke lapisan bawah permukaan. Kegiatan proyek juga dinilai dapat melibatkan ekonomi masyarakat sekitar melalui pekerjaan dan usaha pendukung, sementara proses eksplorasi tetap mencakup kajian teknis, lingkungan, perizinan, keselamatan, serta pertimbangan sosial.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Akademisi Teknik Geologi Universitas Diponegoro (UNDIP) Yoga Aribowo menilai pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Ungaran memiliki potensi terhadap kualitas lingkungan dan aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar wilayah pengembangan.

Yoga menjelaskan panas bumi memiliki emisi yang relatif rendah. Emisi karbon dioksida (CO2) dari PLTP diperkirakan sekitar 100 gram per kilowatt hour (kWh), sedangkan emisi hidrogen sulfida (H2S) kurang dari 1 gram per kWh.

“Kalau semakin banyak porsi PLTP, tentu akan berkontribusi positif bagi kualitas lingkungan, baik udara, laut maupun air,” kata Yoga dalam keterangan tertulis, Sabtu (12/9/2026).

1. Fluida panas bumi dikembalikan ke reservoir

Sejumlah wisatawan melihat semburan uap belerang yang keluar dari kawah di lereng Gunung Ungaran, Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (25/8/2026). (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)

Yoga mengatakan energi panas bumi memanfaatkan uap dan air panas yang tersimpan dalam reservoir hingga ribuan meter di bawah permukaan bumi. Fluida tersebut merupakan bagian dari sistem reservoir panas bumi, bukan air tanah dangkal yang digunakan untuk sumur.

Setelah digunakan, fluida panas bumi dikembalikan ke lapisan bawah permukaan melalui proses reinjeksi. Menurut Yoga, proses tersebut menjadi bagian dari pengelolaan sumber daya panas bumi.

"Dalam pemanfaatannya, air yang telah digunakan kemudian dikembalikan ke dalam lapisan bawah permukaan melalui proses reinjeksi, sehingga sumber daya panas bumi dapat dikelola secara berkelanjutan," ujar dia.

2. Ada potensi aktivitas ekonomi di sekitar proyek

Ilustrasi panas bumi (pixabay.com/longdan91)

Yoga juga melihat adanya peluang ekonomi bagi masyarakat di sekitar wilayah pengembangan panas bumi. Menurutnya, kegiatan proyek dapat membuka lapangan pekerjaan secara langsung maupun tidak langsung.

Aktivitas tersebut juga dapat diikuti usaha yang melayani kebutuhan pekerja dan kegiatan proyek. Beberapa di antaranya warung makan, toko, jasa transportasi, hingga tempat kos.

“Peluang tersebut juga dapat menjadi bagian dari kontribusi sosial melalui program tanggung jawab sosial perusahaan,” pungkasnya.

3. Proyek masih tahap eksplorasi

Ilustrasi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP). (Dok. PLN)

Pemerintah menyebut pengembangan PLTP di Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Gunung Ungaran, Kabupaten Semarang dan Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, masih berada pada tahap eksplorasi dan studi kelayakan.

Juru Bicara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dwi Anggia mengatakan sejumlah tahapan masih harus dilalui. Tahapan tersebut mencakup kajian teknis, aspek lingkungan, perizinan, keselamatan, serta pertimbangan sosial masyarakat.

Eksplorasi dilakukan untuk mengetahui potensi panas bumi dan menilai kelayakan pengembangannya. Berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034, PLTP Gunung Ungaran direncanakan memiliki kapasitas sekitar 55 megawatt (MW) dengan target operasi pada 2031.

Untuk masuk ke tahap pembangunan, pengembang perlu mengetahui karakteristik dan potensi reservoir melalui penelitian dan eksplorasi. Dwi mengatakan titik pengeboran ditentukan berdasarkan hasil kajian geologi dan geofisika. Kajian tersebut digunakan untuk memahami kondisi bawah permukaan dan menentukan target reservoir.

"Dengan teknologi directional drilling, pengeboran dapat diarahkan dari titik tertentu menuju target reservoir di bawah permukaan. Karena itu, penentuan lokasi sumur dilakukan berdasarkan data dan kajian teknis, bukan semata-mata berdasarkan posisi sumber panas bumi di permukaan," katanya dalam keterangan tertulis.

Curated For You

Editorial Team

Related Article