Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Produksi Minyak Arab Saudi Anjlok ke Level Terendah sejak 1990

Produksi Minyak Arab Saudi Anjlok ke Level Terendah sejak 1990
ilustrasi pabrik minyak (pexels.com/Zakelj)
  • Produksi minyak mentah Arab Saudi turun menjadi 6,24 juta barel per hari pada Agustus 2026, terendah sejak 1990, akibat konflik AS-Iran yang mengganggu jalur pasokan energi.
  • Risiko di Selat Hormuz dan embargo maritim Houthi menekan ekspor melalui Yanbu; pasokan global mengetat hingga harga minyak Brent menembus 100 dolar AS per barel.
  • OPEC menaikkan proyeksi permintaan minyak global 2027 menjadi 108,19 juta barel per hari, dengan China, India, dan negara non-OECD menjadi penggerak utama pertumbuhan konsumsi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN TimesProduksi minyak mentah Arab Saudi turun drastis menjadi 6,24 juta barel per hari pada Agustus 2026, yang menjadi level terendah sejak 1990. Laporan Anadolu Agencymenyebutkan data yang disampaikan langsung kepada Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) itu memperlihatkan penyusutan sekitar 1,9 juta barel per hari dari produksi Juli yang mencapai 8,1 juta barel per hari.

Penurunan tajam ini dipicu konflik Amerika Serikat (AS)-Iran yang mengganggu alur pasokan energi melalui Teluk Persia dan Laut Merah. Produksi minyak Arab Saudi padahal sempat tercatat 7,1 juta barel per hari pada Juni dan meningkat pada Juli, meski negara tersebut bersama anggota OPEC+ telah merencanakan kenaikan produksi.

  1. 1. Arab Saudi mengalihkan ekspor minyak ke Yanbu

    ilustrasi kilang minyak
    ilustrasi kilang minyak (pexels.com/Pixabay)

    Tingginya risiko di Selat Hormuz membuat Arab Saudi sempat memindahkan sebagian besar ekspor minyaknya ke Pelabuhan Yanbu di pesisir Laut Merah. Namun, jalur alternatif tersebut ikut tertekan setelah kelompok Houthi Yaman mengumumkan embargo maritim terhadap Arab Saudi pada 20 Juli 2026, serta mengklaim telah menyerang fasilitas energi di Yanbu dan kilang Jazan.

    Ancaman itu mendorong banyak kapal tanker mematikan sinyal Sistem Identifikasi Otomatis (AIS) demi keamanan. Data pelacakan kapal mencatat pengiriman minyak mentah dari Yanbu merosot ke titik terendah dalam enam bulan, di mana Vortexa mencatat 3,2 juta barel per hari dan Kpler memperkirakan volumenya hanya 1,5 juta barel per hari.

    Hambatan lalu lintas di Selat Hormuz beserta jalur pengiriman lainnya pun memperketat pasokan global hingga mendorong harga minyak Brent menembus 100 dolar AS (setara Rp1,76 juta) per barel. Meski begitu, Arab Saudi tetap mampu memasok 7,1 juta barel per hari ke pasar sepanjang Agustus.

  2. 2. OPEC menaikkan proyeksi permintaan minyak global

    ilustrasi kapal pengangkut minyak
    ilustrasi kapal pengangkut minyak (unsplash.com/Fredick F.)

    Seretnya pasokan minyak ini terjadi bersamaan dengan prediksi melonjaknya kebutuhan energi dunia. Berdasarkan laporan yang dilansir Oil Price, OPEC mengoreksi naik proyeksi pertumbuhan permintaan minyak dari 380 ribu barel per hari pada 2026 menjadi 2,36 juta barel per hari pada 2027.

    Melalui Laporan Bulanan Pasar Minyak edisi September, OPEC memperbarui perkiraan konsumsi global 2026 menjadi 105,84 juta barel per hari. Sementara itu, konsumsi dunia pada 2027 diproyeksikan terus naik hingga menyentuh 108,19 juta barel per hari.

  3. 3. China dan India mendorong kenaikan konsumsi minyak

    ilustrasi pengeboran minyak di laut (pexels.com/GANESH RAMSUMAIR)
    ilustrasi pengeboran minyak di laut (pexels.com/GANESH RAMSUMAIR)

    Pada kawasan konsumen utama, tren lonjakan kebutuhan minyak terlihat jelas dalam hitungan OPEC. Permintaan China diperkirakan hanya tumbuh 10 ribu barel per hari pada 2026 menjadi 16,90 juta barel per hari, sebelum melompat 380 ribu barel per hari pada 2027 hingga mencapai 17,28 juta barel per hari. Di sisi lain, permintaan India diproyeksikan naik 60 ribu barel per hari pada 2026 dan bertambah 400 ribu barel per hari pada 2027 menjadi 6,11 juta barel per hari.

    Adapun permintaan dari negara-negara Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) diperkirakan menyusut 110 ribu barel per hari pada 2026, lalu berbalik tumbuh 430 ribu barel per hari pada 2027. Kelompok non-OECD bakal menjadi motor utama pertumbuhan konsumsi dengan kenaikan dari 490 ribu barel per hari pada 2026 menjadi 1,92 juta barel per hari pada 2027, yang mana China, India, dan kawasan Asia lainnya menyumbang 1,2 juta barel per hari.

    Sementara itu, permintaan minyak mentah dari negara-negara peserta Deklarasi Kerja Sama diproyeksikan naik 1,6 juta barel per hari dari 42,2 juta barel per hari pada 2026 menjadi 43,9 juta barel per hari pada 2027. Lonjakan ini menegaskan besarnya peran negara-negara berkembang dalam menggerakkan konsumsi energi global.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More