Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta, Selasa (3/11/2026). (IDN Times/Vadhia Lidyana)
  • KSSK menyoroti pelemahan IHSG pada Oktober 2026, yang dipengaruhi evaluasi MSCI serta dinamika global seperti geopolitik, inflasi, dan ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama.

  • OJK menjalankan reformasi pasar modal untuk memperbaiki kualitas dan menegaskan fundamental penghimpunan dana tetap kuat, mencapai Rp205,77 triliun hingga Oktober, dengan 25 rencana penawaran umum berikutnya.

  • OJK menjatuhkan sanksi Rp2,1 triliun terkait tiga emiten dan menegaskan pelanggaran seperti manipulasi serta coordinated trading dapat menghadapi tindakan lebih berat dari denda.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pelemahan yang masih dihadapi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berulang kali, menjadi sorotan dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) hari ini, Selasa (3/11/2026).

Konferensi pers itu digelar di Gedung Thamrin Bank Indonesia (BI), Jakarta Pusat. Agenda itu dihadiri Menteri Keuangan, Suahasil Nazara; Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti; Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi; dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS), Anggito Abimanyu.

Tekanan yang dialami IHSG, terutama di Oktober 2026 ini menjadi sorotan baik dari Suahasil, Destry, maupun Friderica alias Kiki. Salah satu faktor yang diakui ialah rilis MSCI Inc (sebelumnya Morgan Stanley Capital International) pada 16 Oktober 2026 lalu, yang mempertimbangkan mengubah klasifikasi pasar modal Indonesia, dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

Dalam sesi tanya jawab konferensi pers KSSK itu, Kiki mendapat pertanyaan terkait proyeksi pasar modal ke depan, di saat pelemahan terhadap IHSG masih berlanjut.

“IHSG melemah tajam, bagaimana KSSK melihat prospek pasar modal. Kemudian juga bagaimana mempersiapkan berbagai potensi kemungkinan yang terjadi. Saat ini kami melakukan reformasi yang disebut reformasi terbesar dalam sejarah pasar modal. Tentunya akan ada, ya kita sudah melihat konsekuensinya,” kata Kiki.

1. OJK berupaya kembalikan kinerja pasar modal melalui perbaikan kualitas

Ikon Banteng Wulung di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta Selatan. (IDN Times/Vadhia Lidyana)

Tak bosan-bosan, Kiki membeberkan pihaknya terus berupaya mengembalikan kinerja pasar modal, dengan melakukan reformasi yang diharapkan memperbaiki kualitas pasar modal. Hal ini telah berulang kali disampaikan OJK, terutama usai adanya tekanan pada IHSG karena penyedia indeks global mengeluarkan hasil evaluasi terkait pasar modal Tanah Air.

Dia mengatakan, reformasi yang dilakukan datang bersama konsekuensi pada alur pasar modal. Namun, menurut dia, ada faktor eksternal yang turut mempengaruhi pelemahan IHSG.

“Saat ini memang kan kondisi juga global sedang, sangat challenging. Kalau kita cermati tentunya IHSG ini sangat dipengaruhi juga oleh dinamika geopolitik secara global. Kemudian tekanan inflasi, dan ekspektasi terhadap suku bunga yang higher for longer,” ujar Kiki.

Dia juga meminta para investor tak melupakan kondisi fundamental pasar modal Tanah Air. Dari aspek ini, dia berupaya memancing sentimen positif pelaku pasar.

“Penghimpunan dana di pasar modal juga ini kalau kita lihat animo korporasi domestik untuk melakukan penghimpunan dana juga sangat bagus gitu ya. Sampai dengan Oktober ini Rp205,77 triliun yang ini terdiri dari 7 penawaran umum saham perdana atau IPO, 20 penawaran umum terbatas, dan 11 penawaran umum penerbitan efek bersifat utang atau sukuk, dan 135 penawaran umum berkelanjutan,” tutur Kiki.

Dia juga berupaya menunjukkan bahwa korporasi masih melihat pasar modal menarik, karena masih banyak perusahaan yang mengantre dalam daftar penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO).

“Ini kalau kita lihat masih ada 25 rencana penawaran umum, dengan nilai indikatif sekitar Rp26 triliun. Kemudian realisasi target penghimpunan dana tahun 2026 hingga akhir tahun ini sekitar Rp250 triliun, tentunya ini bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor lainnya,” ujar Kiki.

2. Ancam sanksi berat buat pelanggar pasar modal

Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI). (IDN Times/Vadhia Lidyana)

Kiki mengatakan, upaya reformasi saat ini yang disoroti ialah dari aspek penegakan hukum. Menurutnya, OJK telah melakukan penegakan hukum dengan memberikan sanksi denda terbesar dalam sejarah pasar modal Indonesia.

Pada 16 Oktober 2026 lalu, Kiki mengumumkan telah menjatuhkan sanksi pada pelanggar pasar modal yang berkaitan dengan tiga emiten, yakni PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN).

Total sanksi yang diberikan kala itu senilai Rp2,1 triliun. Namun angka itu sudah bertambah seiringan dengan nama-nama pihak atau entitas yang terlibat terus bertambah.

“Jadi teman-teman sudah melihat di 16 Oktober lalu kita sudah mengumumkan sanksi yang terbesar juga dalam sejarah pasar modal Indonesia. Dan kalau dibandingkan dengan market di sekitar kita juga ini terbesar juga gitu ya. Jadi ini juga sesuatu yang baru, dan ke depan akan kita teruskan seperti itu,” tutur Kiki.

Dia pun mengingatkan para pelaku pasar untuk tidak melakukan pelanggaran, tidak main-main dengan aturan, karena telah menyiapkan sanksi yang lebih berat dari denda.

“Jadi jangan main-main di pasar modal kita, jangan melakukan manipulasi, jangan melakukan coordinated trading dan selanjutnya kita juga untuk proses untuk lebih severe daripada sekadar sanksi denda seperti itu,” ucap Kiki.

3. Minta dukungan masyarakat

Bursa Efek Indonesia (IDN Times/Ridwan Aji Pitoko)

Penyampaian Kiki terkait kondisi IHSG diakhiri dengan harapan terkait upaya yang telah dilakukan untuk bisa memberikan hasil yang terbaik di bursa. Tak lupa, Kiki juga meminta dukungan masyarakat terkait reformasi yang masih dilanjutkan.

“Intinya kita sangat serius melakukan reformasi di pasar modal kita. Dan harapannya dengan fundamental yang baik oleh ekonomi kita dan juga perusahaan-perusahaan yang menjadi emiten di Bursa Efek Indonesia, hopefully ke depan ini akan semakin baik dan tentu ini harus di dukung juga oleh semua pihak,” ujar Kiki.

Curated For You

Editorial Team

Related Article