ilustrasi warung (Pexels.com/Paolo Sanchez)
Ketika daya beli rendah, konsumen yang biasanya membeli kemasan besar mulai memilih kemasan lebih kecil. Orang yang biasanya membeli paket lengkap mungkin memilih produk satuan. Ada pula konsumen yang memilih ukuran trial terlebih dahulu sebelum membeli produk dalam ukuran penuh. Perubahan kebiasaan ini bisa menjadi peluang bagi pengusaha untuk menyediakan lebih banyak pilihan ukuran dan harga.
Misalnya, produsen minuman dapat menawarkan kemasan kecil untuk pembelian sekali konsumsi. Sementara, bisnis kebutuhan rumah tangga bisa menyediakan produk dalam ukuran ekonomis yang lebih mudah masuk ke anggaran konsumen. Strategi tersebut membuat konsumen tetap memiliki kesempatan membeli tanpa harus mengeluarkan uang dalam jumlah besar sekaligus. Bagi pengusaha, ini juga bisa menjadi cara untuk mengikuti perubahan kemampuan belanja konsumen tanpa harus terus-menerus memberikan diskon.
Kebiasaan konsumen beralih ke produk yang lebih murah tidak selalu berarti pasar sedang kehilangan pembeli. Konsumen tetap membutuhkan makanan, produk rumah tangga, pakaian, kosmetik, hingga berbagai kebutuhan lainnya. Hanya saja, mereka semakin selektif dalam menentukan produk mana yang dianggap layak dibeli.
Karena itu, pengusaha tidak harus menunggu sampai daya beli masyarakat kembali seperti sebelumnya. Justru, perubahan perilaku konsumen saat ini bisa menjadi petunjuk untuk menyesuaikan produk dan model bisnis. Mulai dari membangun private label, menawarkan produk lokal sebagai alternatif merek premium, hingga menyediakan ukuran yang lebih ekonomis, peluangnya ada pada bisnis yang mampu memberikan nilai yang terasa sepadan dengan uang yang dikeluarkan konsumen.