Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Penyaluran KUR dan Kredit Program Capai Rp257,84 Triliun
Perjalanan usaha Gian mulai berubah ketika ia menjadi nasabah Kredit Usaha Rakyat (KUR) di PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI. Akses pembiayaan yang lebih mudah dan terjangkau memberinya ruang untuk memperluas usaha. (Dok. BRI)
  • Penyaluran KUR dan kredit program mencapai Rp257,84 triliun hingga 20 Oktober 2026, menjangkau sekitar 4 juta debitur dari anggaran Rp300 triliun.

  • Realisasi kredit program telah mencapai 85,95 persen, mencakup KUR, kredit alsintan, industri padat karya, dan program perumahan; Rp42,16 triliun masih belum tersalurkan.

  • Bunga kredit perempuan prasejahtera diturunkan menjadi 8 persen per tahun, sementara pesantren mendapat dukungan inkubasi usaha Rp50 juta hingga Rp200 juta.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pemerintah mencatat realisasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan sejumlah kredit program mencapai Rp257,84 triliun hingga 20 Oktober 2026. Angka tersebut telah menjangkau sekitar 4 juta debitur dari total anggaran yang disiapkan sebesar Rp300 triliun tahun ini.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pembiayaan tersebut mencakup KUR, kredit alat dan mesin pertanian (alsintan), kredit industri padat karya, serta kredit program perumahan.

“Kredit alsintan juga terus didorong, kredit industri padat karya, kredit industri program perumahan. Ini jumlahnya semuanya tahun ini dianggarkan Rp300 triliun, dan realisasinya sampai dengan 20 Oktober Rp257,84 triliun dengan 4 juta debitur,” ujar Airlangga dalam Rapat Koordinasi Nasional Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) di Jakarta, Kamis (22/10/2026).

1. Realisasi penyaluran kredit program capai 85,95 persen

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mencatat capaian positif dalam penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) yang sebagian besar penyalurannya mengalir ke sektor produksi. (Dok. BRI)

Dengan capaian tersebut, realisasi penyaluran kredit program telah mencapai sekitar 85,95 persen dari total anggaran tahun ini.

Artinya, masih terdapat sekitar Rp42,16 triliun yang belum terealisasi hingga 20 Oktober 2026.

2. Akses pembiayaan bagi perempuan prasejahtera turun jadi 8 persen

Strategi UMKM untuk Bertahan (Pexels/Firman Marek_Brew)

Airlangga mengatakan, pemerintah terus mendorong penyaluran kredit produktif melalui TPAKD di berbagai daerah. Langkah ini dilakukan untuk memperluas akses pembiayaan bagi masyarakat sekaligus mendukung kegiatan usaha di sejumlah sektor ekonomi. Selain memperluas penyaluran kredit, pemerintah juga memberikan perhatian pada akses pembiayaan bagi perempuan prasejahtera.

Airlangga menyebutkan, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, suku bunga kredit bagi kelompok tersebut telah diturunkan menjadi 8 persen per tahun dari sebelumnya berkisar 18 persen hingga 25 persen.

“Yang terbaru arahan Bapak Presiden, kredit perempuan prasejahtera bunganya diturunkan dari 18% sampai 25% menjadi 8 persen flat per tahun. Jadi sudah dilaksanakan,” kata Airlangga.

3. Dorong pengembangan inkubasi untuk pesantren

Ilustrasi pesantren/IDN Times/Kevin Handoko

Pemerintah juga mendorong pengembangan usaha melalui program inkubasi bagi pondok pesantren. Melalui program tersebut, pesantren dapat memperoleh dukungan modal mulai dari Rp50 juta hingga Rp200 juta untuk mengembangkan kegiatan usaha.

Airlangga menyebut sejumlah pesantren telah menerima dukungan tersebut, di antaranya Pondok Pesantren Al-Muhajirin di Jawa Barat dan Pondok Pesantren Nurul Iman. Pemerintah berharap program ini dapat memperluas kegiatan ekonomi produktif di lingkungan pesantren.

Curated For You

Editorial Team

Related Article