Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Perang Iran Picu ECB Naikkan Suku Bunga untuk Pertama Kali sejak 2023
ilustrasi bendera Uni Eropa (pexels.com/Dušan Cvetanović)
  • ECB menaikkan suku bunga acuan sebesar 0,25 poin menjadi 2,25 persen, langkah pertama sejak 2023 untuk menahan inflasi akibat lonjakan harga energi imbas perang di Iran.
  • Inflasi Zona Euro meningkat tajam dengan harga energi naik 10,9 persen dan inflasi inti mencapai 2,5 persen, memperluas tekanan biaya ke berbagai sektor ekonomi.
  • Proyeksi pertumbuhan ekonomi Zona Euro direvisi turun menjadi 0,8 persen pada 2026 karena risiko pelemahan akibat konflik Timur Tengah dan ketidakpastian pasokan energi global.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN TimesBank Sentral Eropa (ECB) resmi menaikkan suku bunga acuan untuk pertama kalinya sejak 2023. Kebijakan tersebut diambil setelah inflasi di kawasan Zona Euro meningkat akibat perang di Iran yang mendorong lonjakan biaya energi dan menambah tekanan terhadap perekonomian.

Berdasarkan laporan The Guardian pada Kamis (11/6/2026), ECB menaikkan suku bunga deposito utama sebesar 0,25 poin persentase dari 2 persen menjadi 2,25 persen. Pasar keuangan memperkirakan langkah ini menjadi awal dari tiga kali kenaikan suku bunga hingga musim semi mendatang, sementara suku bunga operasi refinancing utama juga dinaikkan dari 2,15 persen menjadi 2,4 persen.

Kebijakan baru tersebut sekaligus mengakhiri fase pelonggaran moneter yang berlangsung selama sebagian besar 2025.

1. Ekonomi Zona Euro menghadapi tekanan baru

ilustrasi gambar bendera Uni Eropa (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)

Kawasan Zona Euro mencatat kontraksi ekonomi sebesar 0,2 persen pada kuartal I-2026. Angka itu memunculkan kekhawatiran mengenai stagflasi, yaitu kondisi ketika pertumbuhan ekonomi melemah sementara harga barang terus meningkat.

Di sisi lain, rumah tangga dan dunia usaha kini menghadapi biaya pinjaman yang lebih tinggi untuk hipotek maupun kredit. Kondisi tersebut terjadi ketika pengeluaran mereka telah terbebani oleh kenaikan harga bahan bakar dan gas.

Para peramal profesional juga memangkas proyeksi pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) kawasan tersebut untuk sepanjang 2026 menjadi 0,9 persen. Revisi itu dikaitkan dengan tingginya biaya energi yang muncul akibat konflik Iran.

2. Inflasi menyebar ke berbagai sektor

ilustrasi kapal pengangkut minyak (unsplash.com/Fredick F.)

Data yang dikutip dari Euro News menunjukkan harga energi melonjak 10,9 persen. Kenaikan tersebut menjadi tingkat inflasi tertinggi sejak September 2023.

Tekanan harga juga mulai meluas ke luar sektor energi. Inflasi inti yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi tercatat naik dari 2,2 persen pada April menjadi 2,5 persen pada Mei.

Selain menaikkan suku bunga deposito, ECB turut mengerek suku bunga fasilitas pinjaman marjinal menjadi 2,65 persen.

3. Pejabat ECB merevisi proyeksi ekonomi

Bendera Uni Eropa (pexels.com/Marco)

Di dalam ECB, keputusan kenaikan suku bunga sempat memunculkan perdebatan. Anggota Dewan Eksekutif ECB Isabel Schnabel menjadi salah satu pendukung utama kenaikan suku bunga pada Juni dan tetap mendorong langkah tersebut terlepas dari berlangsung atau tidaknya pembicaraan damai Iran.

Schnabel memperkirakan inflasi dapat mencapai 4 persen sebelum akhir tahun. Sementara itu, Kepala Ekonom ECB Philip Lane mencatat kondisi ekonomi memburuk dibandingkan proyeksi pada Maret sehingga bank sentral perlu menaikkan perkiraan inflasinya.

Presiden ECB Christine Lagarde menjelaskan dewan pengatur sempat mempertimbangkan untuk mengabaikan kenaikan harga energi pada Maret. Namun harga minyak mentah yang bertahan di atas 90 dolar AS (setara Rp1,61 juta) per barel, dibandingkan sekitar 70 dolar AS (setara Rp1,25 juta) sebelum perang, membuat tekanan inflasi meluas.

Akibat perkembangan tersebut, ECB memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi menjadi 0,8 persen pada 2026 dan 1,2 persen pada 2027. Lagarde menyampaikan bahwa risiko terhadap prospek pertumbuhan lebih banyak mengarah ke pelemahan karena perang di Timur Tengah telah menambah ketidakpastian dalam lingkungan kebijakan global.

“Risiko terhadap prospek pertumbuhan berada pada sisi bawah, terutama karena perang di Timur Tengah, yang telah menambah lingkungan kebijakan global yang volatile. Gangguan berkepanjangan pasokan energi dapat meningkatkan harga energi lebih lanjut dan lebih lama daripada yang diharapkan saat ini,” ujarnya, dikutip The Guardian.

Menanggapi keputusan tersebut, Kepala Ekonom Eropa di Deutsche Bank, Mark Wall, menilai langkah ECB menjadi momen penting bagi bank sentral global. Wall menilai bahwa hal itu merupakan pertama kalinya bank sentral besar merespons guncangan energi dengan menaikkan suku bunga ketika ekonomi sedang melemah, tingkat pengangguran meningkat, dan pertumbuhan melambat.

Wall juga memperkirakan siklus pengetatan kebijakan moneter tersebut tak akan berlangsung lama dan kemungkinan hanya menyisakan satu kenaikan suku bunga lagi pada September mendatang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article