Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Pilot Dan Kru Mogok, Ratusan Jadwal Maskapai Lufthansa Batal Serentak

Lufthansa
Lufthansa (unsplash.com/Nick Herasimenka)
Intinya sih...
  • Sengketa hak karyawan dan restrukturisasi picu lumpuhnya operasional Lufthansa.
  • Konflik antara manajemen Lufthansa dan serikat pekerja pilot Vereinigung Cockpit (VC) menjadi akar penyebab mogok kerja massal, pada Kamis (12/2/2026).
  • Para pilot menuntut peningkatan kontribusi perusahaan terhadap skema pensiun bagi sekitar 4.800 anggotanya karena skema saat ini dinilai tidak memadai dalam menghadapi inflasi.
  • Kegagalan dalam tujuh putaran negosiasi sebelumnya memicu kekhawatiran para pilot akan hilangnya stabilitas manfaat pensiun yang selama ini menjadi daya tarik utama
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Maskapai penerbangan nasional Jerman, Lufthansa, mengalami kelumpuhan operasional yang signifikan pada Kamis (12/2/2026). Kondisi ini terjadi setelah ribuan pilot dan kru kabin secara serentak melakukan aksi mogok kerja selama 24 jam di seluruh wilayah Jerman.

Gangguan massal tersebut menyebabkan pembatalan ratusan jadwal penerbangan domestik maupun internasional, sehingga perusahaan terpaksa melakukan penyesuaian jadwal besar-besaran untuk meminimalkan dampak terhadap mobilitas udara global.

Aksi industrial yang dikoordinasikan oleh dua serikat pekerja utama ini muncul sebagai bentuk protes atas ketidaksepakatan yang berkepanjangan mengenai skema pensiun dan jaminan keamanan kerja. Selain itu, karyawan juga menyoroti kebijakan penghematan biaya yang diterapkan manajemen demi memperkuat profitabilitas perusahaan.

1. Sengketa hak karyawan dan restrukturisasi picu lumpuhnya operasional Lufthansa

Konflik antara manajemen Lufthansa dan serikat pekerja pilot Vereinigung Cockpit (VC) menjadi akar penyebab mogok kerja massal, pada Kamis (12/2/2026). Serikat pekerja menuntut peningkatan kontribusi perusahaan terhadap skema pensiun bagi sekitar 4.800 anggotanya karena skema saat ini dinilai tidak memadai dalam menghadapi inflasi. Kegagalan dalam tujuh putaran negosiasi sebelumnya memicu kekhawatiran para pilot akan hilangnya stabilitas manfaat pensiun yang selama ini menjadi daya tarik utama karier di maskapai tersebut.

Menanggapi kebuntuan tersebut, Andreas Pinheiro selaku Presiden VC memberikan pernyataan tegas terkait posisi para anggotanya.

"Kami sebenarnya sangat ingin menghindari eskalasi ini dan serikat pekerja selalu siap untuk berbicara, namun kenyataan bahwa pemogokan ini tetap terjadi adalah sepenuhnya kesalahan dari pihak pemberi kerja," ujarnya, dilansir Economic Times.

Kondisi ini mencerminkan kegagalan dialog dalam mencapai titik temu terkait perlindungan kesejahteraan jangka panjang bagi para pilot setelah masa tugas mereka berakhir.

Ketegangan semakin meningkat setelah serikat pekerja kru kabin Unabhängige Flugbegleiter Organisation (UFO) turut memprotes rencana penutupan anak perusahaan Lufthansa CityLine. Mereka menuntut adanya jaminan sosial kolektif untuk melindungi hak karyawan yang terdampak restrukturisasi tersebut. Namun, pihak manajemen berdalih bahwa Lufthansa sedang menghadapi tekanan finansial besar sehingga memerlukan efisiensi biaya yang drastis melalui program "Turnaround" demi melunasi utang pandemi dan bersaing dengan maskapai rival di Eropa.

Kepala Sumber Daya Manusia Lufthansa, Michael Niggemann, menyatakan kekecewaannya atas aksi mogok yang dianggap menghambat pemulihan maskapai.

"Eskalasi ini benar-benar tidak perlu. Tuntutan serikat pekerja bersifat berlebihan dan merek inti maskapai kami saat ini tidak memiliki ruang finansial untuk menanggung biaya tambahan tersebut tanpa membahayakan pemulihan perusahaan," kata Niggemann, dilansir The Straits Times.

2. Mogok kerja batalkan 800 penerbangan dan rugikan perusahaan

Pembatalan hampir 800 penerbangan atau sekitar 80 persen dari total jadwal harian Lufthansa telah memicu kekacauan logistik di bandara tersibuk Jerman, khususnya di hub Frankfurt dan Munich. Aksi mogok ini tidak hanya melumpuhkan rute domestik dan Eropa, tetapi juga mengganggu jadwal penerbangan jarak jauh menuju pusat bisnis global seperti New York, Singapura, China, hingga São Paulo. Dampak signifikan tersebut mengakibatkan penumpukan penumpang serta keterlambatan pengiriman kargo udara di berbagai wilayah.

"Aksi industrial yang dilakukan secara simultan oleh para pilot adalah sebuah kebetulan, namun itu adalah hal yang kami sambut baik. Tujuan kami adalah untuk memberikan tekanan kepada manajemen, bukan untuk menyulitkan penumpang," kata Harry Jaeger, perwakilan serikat pekerja kru kabin UFO, dilansir VisaHQ.

Meski serikat pekerja mengklaim tidak berniat merugikan konsumen, kenyataan di lapangan menunjukkan ribuan orang terpaksa mencari alternatif transportasi akibat hilangnya konektivitas penerbangan.

Gangguan ini terjadi pada momen krusial saat Jerman sedang menjadi tuan rumah agenda internasional, termasuk pembukaan Festival Film Internasional Berlin (Berlinale) dan persiapan Konferensi Keamanan Munich. Bandara Frankfurt melaporkan sekitar 450 jadwal keberangkatan harus dibatalkan, sementara di Munich tercatat ada 275 pembatalan yang secara keseluruhan berdampak pada 100 ribu pemegang tiket. Situasi ini menciptakan tekanan besar bagi citra Jerman dalam melayani delegasi tingkat tinggi dan tamu internasional yang hadir pada pekan tersebut.

Merespons besarnya dampak terhadap pelanggan, juru bicara Lufthansa, Marc Baron, menyampaikan permohonan maaf dan mengajak serikat pekerja untuk segera kembali ke meja perundingan.

"Pengumuman pemogokan ini dilakukan dalam waktu yang sangat singkat dan bersifat tidak proporsional sehingga sangat memukul para penumpang. Kami menyerukan kepada serikat pekerja untuk segera melanjutkan pembicaraan karena solusi hanya bisa ditemukan lewat dialog," kata Baron, dilansir Livemint.

Krisis ini diperkirakan menyebabkan kerugian pendapatan bagi perusahaan hingga 27 juta euro (Rp539,5 miliar) hanya dalam satu hari, yang semakin membebani target profitabilitas tahunan maskapai.

3. Lufthansa sediakan kompensasi dan tiket kereta bagi penumpang terdampak

Sebagai langkah mitigasi darurat, Lufthansa menerapkan berbagai kebijakan untuk meringankan beban para penumpang, termasuk penyediaan fasilitas pemesanan ulang otomatis pada maskapai mitra seperti Swiss, Austrian Airlines, dan Brussels Airlines. Selain itu, bagi penumpang rute domestik di Jerman, pihak maskapai bekerja sama dengan operator kereta api nasional, Deutsche Bahn, agar tiket pesawat dapat ditukar menjadi tiket kereta api tanpa biaya tambahan. Langkah ini diambil untuk memastikan pergerakan penumpang tetap berjalan melalui jalur darat.

Manajemen Lufthansa juga menegaskan komitmen mereka untuk mematuhi regulasi perlindungan konsumen Uni Eropa (EC 261). Aturan tersebut memberikan hak kepada penumpang untuk mendapatkan kompensasi finansial berkisar antara 250 euro (Rp4,9 juta) hingga 600 euro (Rp11,9 juta), serta penyediaan makanan dan akomodasi jika terjadi keterlambatan yang signifikan. Strategi ini merupakan bagian dari upaya perusahaan untuk menjaga kepercayaan pelanggan di tengah tantangan hubungan kerja yang semakin meruncing dan mengancam stabilitas jadwal penerbangan pada masa depan.

Meskipun operasional dijadwalkan kembali normal pada Jumat (13/2/2026), tantangan jangka panjang tetap membayangi Lufthansa terkait implementasi program restrukturisasi "Turnaround". Program tersebut bertujuan memangkas sekitar 4.000 lapangan kerja untuk meningkatkan daya saing global perusahaan. Kebijakan penutupan unit CityLine dan pengalihan operasional ke unit baru dengan biaya lebih rendah dipandang sebagai keharusan ekonomi oleh manajemen, namun hal ini diprediksi akan terus memicu perlawanan dari serikat pekerja.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in Business

See More

5 Tips Mengatur Keuangan Pribadi agar Tetap Stabil dan Tidak Kritis

15 Feb 2026, 17:12 WIBBusiness