Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Prabowo soal Istilah Kemiskinan BPS: Pinter Juga Kalian

antarafoto-rakornas-pemerintah-pusat-dan-pemda-1770014517.jpg
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan taklimat dalam Rakornas Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah 2026 di Sentul International Convention Center (SICC), Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (2/2). ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra
Intinya sih...
  • Prabowo soroti istilah rentan miskin hingga sangat miskin
  • Keengganan menyebut miskin oleh para ahli ekonomi
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Presiden Prabowo Subianto menyinggung penggunaan istilah aspiring middle class yang dipakai Badan Pusat Statistik (BPS) untuk menggambarkan kelompok masyarakat yang tengah berupaya naik ke kelas menengah.

Menurut Prabowo, kelompok tersebut sejatinya belum dapat disebut sebagai kelas menengah karena masih berada dalam proses menuju kategori tersebut.

"Ini BPS, pintar juga kalian cari istilah-istilah itu. Tapi saya mengerti, saudara tidak mau turunkan moril bangsa Indonesia," katanya dalam taklimat pada Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Sentul, Jawa Barat, Minggu (2/2/2026).

1. Prabowo juga soroti istilah rentan miskin hingga sangat miskin

Presiden Prabowo memberikan taklimat di Rakornas Pemerintahan Pusat dan Daerah Tahun 2026
Presiden Prabowo memberikan taklimat di Rakornas Pemerintahan Pusat dan Daerah Tahun 2026. (IDN Times/Ilman Nafi'an)

Prabowo juga menyoroti keberadaan sejumlah istilah lain yang digunakan untuk mengklasifikasikan kondisi ekonomi masyarakat, mulai dari aspiring middle class hingga kategori rentan miskin.

"Habis itu the aspiring middle class, habis itu ada yang rentan miskin. Gimana rentan miskin? Gimana? Iya kan? Rentan miskin. Habis itu miskin. Baru sangat miskin," ujar dia.

2. Ada keengganan menyebut miskin

Ilustrasi kota kumuh (IDN Times/Gregorius Aryodamar P)
Ilustrasi kota kumuh (IDN Times/Gregorius Aryodamar P)

Prabowo menyebut, para ahli ekonomi juga menggunakan pembagian desil, seperti Desil 1, Desil 2, Desil 3, Desil 4, dan seterusnya untuk memetakan tingkat kesejahteraan masyarakat.

Dia menilai, dalam praktiknya, sering muncul keengganan untuk menyebut kondisi ekonomi secara apa adanya. Prabowo menilai, kata miskin kerap dihindari karena dianggap tidak enak diucapkan.

"Kita ini kadang-kadang takut bicara apa adanya. Gak mau kita mengakui. Kita gak mau bilang miskin, gak enak. Prasejahtera. Miskin, miskin, kasihan tapi gak enak kita ya kan. Prasejahtera," ujar Prabowo.

3. Harus akui rakyat masih menghadapi kesulitan

Ilustrasi kawasan kumuh (IDN Times/Imam Rosidin)
Ilustrasi kawasan kumuh (IDN Times/Imam Rosidin)

Prabowo menegaskan, pemerintah perlu memahami kondisi riil masyarakat. Dia mengatakan, hingga saat ini Indonesia masih menghadapi berbagai kesulitan, tantangan, dan kekurangan.

"Kita tahu bahwa rakyat kita masih banyak yang mengalami kesulitan hidup," kata orang nomor satu di Indonesia itu.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Deti Mega Purnamasari
EditorDeti Mega Purnamasari
Follow Us

Latest in Business

See More

Impor Indonesia Tembus 241,86 Miliar Dolar AS Sepanjang 2025

02 Feb 2026, 16:00 WIBBusiness