Rupiah Melemah Tipis, Pasar Cermati Arah Baru The Fed dan Iran

- Spekulasi pimpinan The Fed jadi sorotan pasar
- Sinyal de-eskalasi Iran ikut memengaruhi sentimen
- Rupiah masih berpeluang lanjut melemah
Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah melemah tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan awal pekan, Senin (2/2/2026). Rupiah ditutup di level Rp16.798 per dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 12 poin atau 0,07 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.786 per dolar AS. Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah sempat melemah hingga 30 poin.
1. Spekulasi pimpinan The Fed jadi sorotan pasar
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pergerakan rupiah tak lepas dari sentimen global, khususnya terkait arah kepemimpinan bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed).
Presiden AS Donald Trump resmi menominasikan Kevin Warsh, mantan gubernur bank sentral AS, sebagai calon pengganti Jerome Powell di pucuk pimpinan Federal Reserve. Menurut Ibrahim, Warsh selama ini dikenal sejalan dengan dorongan Trump agar suku bunga dipangkas lebih agresif.
"Dia juga dipandang kritis terhadap aktivitas pembelian aset Fed, yang menunjukkan bahwa kebijakan moneter jangka panjang di bawah Warsh mungkin tidak selunak yang diantisipasi pasar pada awalnya," ujarnya.
Dia menambahkan, Warsh berpotensi lebih menyoroti pelemahan pasar tenaga kerja sebagai risiko utama bagi mandat The Fed, yakni menjaga stabilitas harga dan mencapai tingkat penyerapan tenaga kerja maksimal.
Masa jabatan Powell sendiri dijadwalkan berakhir pada Mei mendatang, dan Powell sebelumnya sempat mengingatkan agar penggantinya tidak terseret kepentingan politik.
2. Sinyal de-eskalasi Iran ikut memengaruhi sentimen
Selain faktor moneter, pasar juga mencermati perkembangan geopolitik. Pada akhir pekan lalu, Trump menyampaikan Iran dinilai serius untuk berbicara terkait isu nuklir.
Pernyataan tersebut muncul setelah pejabat senior Teheran menyebutkan bahwa pengaturan untuk proses negosiasi sedang berlangsung.
"Komentar Trump, bersama dengan laporan bahwa angkatan laut Garda Revolusi Iran tidak memiliki rencana untuk latihan tembak langsung di Selat Hormuz, adalah tanda-tanda de-eskalasi," ujar Ibrahim.
3. Rupiah masih berpeluang lanjut melemah
Untuk perdagangan Selasa (3/2/2026), Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah masih akan berlangsung fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp16.790 hingga Rp16.830 per dolar AS.
Secara year-to-date (ytd) atau sejak awal tahun, rupiah masih tercatat melemah 0,71 persen, dengan pergerakan dalam 52 minggu terakhir berada di rentang Rp16.079–Rp17.224 per dolar AS.















