Pertama sejak Juli, Minyak Sentuh 100 Dolar Imbas Konflik Timur Tengah

- Harga Brent menembus 100,72 dolar AS per barel dan WTI mencapai 95,25 dolar AS pada 9 September 2026, dipicu serangan terhadap fasilitas energi dan kapal tanker di Timur Tengah.
- Lonjakan minyak menaikkan harga bensin, diesel, dan bahan bakar jet; maskapai memangkas penerbangan serta menaikkan tarif, sementara biaya konsumen dan pelaku usaha global ikut terdorong.
- Konflik AS-Iran, serangan Houthi, serta gangguan Selat Hormuz menekan pelayaran minyak hingga di bawah 2 juta barel per hari dan memperburuk risiko pasokan global.
Jakarta, IDN Times - Harga minyak mentah dunia melonjak hingga menembus level 100 dolar AS atau setara Rp1,75 juta (kurs 17.523) per barel pada Rabu (9/9/2026). Kenaikan harga ini merupakan yang pertama kali terjadi sejak 24 Juli 2026 menyusul gelombang serangan militer terbaru terhadap berbagai fasilitas energi dan armada kapal tanker di Timur Tengah. Konflik bersenjata tersebut mengancam rantai pasok global yang sebelumnya telah mengalami kelemahan akibat gangguan operasional kilang serta penurunan persediaan bahan bakar.
Harga minyak mentah Brent sebagai acuan internasional melonjak hampir 3 persen hingga menyentuh 100,72 dolar AS atau setara Rp1,76 juta per barel pada Rabu pagi. Sementara itu, harga minyak mentah acuan Amerika Serikat yakni West Texas Intermediate meningkat 2,4 persen menjadi 95,25 dolar AS atau setara Rp1,66 juta per barel. Lonjakan harga acuan dunia ini langsung memicu kenaikan biaya bahan bakar bagi para konsumen di berbagai wilayah.
1. Lonjakan harga energi global dan dampaknya bagi konsumen

ilustrasi bahan bakar minyak (pexels.com/Engin Akyurt) Kenaikan harga minyak mentah secara langsung mendongkrak harga bahan bakar minyak di Amerika Serikat dalam semalam. Menurut data American Automobile Association, harga rata-rata bensin reguler naik tujuh sen menjadi 4,22 dolar AS atau setara Rp73.947 per galon. Angka tersebut kini berada lebih dari satu dolar AS lebih tinggi jika dibandingkan dengan biaya pada periode yang sama tahun lalu.
Selain bensin, harga bahan bakar diesel yang krusial untuk sektor pengiriman serta manufaktur turut mencetak rekor tertinggi baru dengan menyentuh 5,94 dolar AS atau setara Rp104.086 per galon. Kenaikan harga bahan bakar jet bahkan memaksa maskapai penerbangan asal AS maupun internasional memangkas jadwal penerbangan sekaligus menaikkan tarif tiket serta biaya tambahan. Kondisi ini memperberat beban ekonomi bagi konsumen dan pelaku usaha di tingkat global.
2. Serangan militer AS terhadap armada tanker minyak milik Iran

kapal militer AS di Selat Hormuz (Official U.S. Navy Page from United States, Public Domain, via Wikimedia Commons) Pasar energi bereaksi keras setelah militer Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap lima kapal tanker pengangkut minyak mentah milik Iran pada Selasa (8/9/2026). Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan gempuran tersebut diluncurkan usai kapal perang Angkatan Laut AS diserang rudal balistik Korps Garda Revolusi Islam Iran, meski kapal perang tersebut berhasil menghindar dan tidak ada korban dari personel AS. Empat kapal tanker yakni Kaviz, Charminar, Horizon 1, dan Riesco diserang di Teluk Oman, di mana kapal M/T Riesco kemudian dilaporkan tenggelam, sedangkan kapal Derya dihantam di dekat Pulau Kharg.
Dilansir MEED, pihak Iran membalas serangan tersebut dengan menembakkan 20 rudal balistik ke arah wilayah Yordania. Angkatan bersenjata Yordania berhasil mencegat 18 rudal, sementara dua rudal sisanya mendarat di area yang tidak berpenghuni. Pihak Korps Garda Revolusi Islam Iran turut mengeklaim telah menyerang dua kapal angkatan laut AS, delapan kapal tanker minyak, dan 10 kapal lainnya di perairan Teluk tanpa menyertakan bukti.
3. Ancaman krisis pasokan di Selat Hormuz dan perairan Laut Merah

ilustrasi kapal tanker (unsplash.com/Shaah Shahidh) Eskalasi di kawasan semakin meluas setelah kelompok Houthi dari Yaman melancarkan serangan ke wilayah selatan Arab Saudi pada Selasa (8/9/2026). Otoritas Arab Saudi melaporkan serangan kelompok Houthi menargetkan situs-situs sipil dan ekonomi di kawasan selatan—meliputi Abha, Khamis Mushait, Jazan, dan Najran—yang mengakibatkan 73 orang terluka. Secara terpisah, Kementerian Energi Arab Saudi menyatakan bahwa serangan tersebut menyasar sejumlah fasilitas sektor energi, memicu kebakaran, serta memaksa penghentian sementara sebagian operasional. Rentetan serangan milisi bersenjata ini dinilai kian membahayakan rute alternatif pelayaran minyak di sekitar Laut Merah yang diandalkan oleh Riyadh selama masa peperangan.
Rangkaian konflik militer ini telah melumpuhkan sebagian besar aktivitas pelayaran di Selat Hormuz yang sebelumnya menjadi jalur perlintasan bagi seperlima pasokan minyak dunia. Data Rystad Energy mencatat arus pengiriman minyak mentah di selat tersebut anjlok di bawah 2 juta barel per hari dari kisaran 8 hingga 9 juta barel per hari sebelum terjadinya eskalasi terbaru. Penurunan distribusi di perairan strategis ini memperparah rantai pasok yang sebelumnya sudah tertekan oleh penurunan persediaan dan gangguan kilang di Rusia.
Dilansir PBS News, Proses negosiasi antara pihak AS dan Iran pun menemui jalan buntu terkait sengketa kendali lalu lintas di Selat Hormuz. "Menurut pandangan kami, mencapai kesepakatan yang bertahan lama sebelum pemilihan paruh waktu AS semakin tidak mungkin terjadi, dan hal itu mungkin tetap sulit terwujud bahkan setelahnya," tulis analis Bank of America dalam catatan riset mereka. Lembaga keuangan tersebut memperkirakan harga minyak mentah berpotensi melonjak hingga rentang 95 dolar AS sampai 120 dolar AS atau setara Rp1,66 juta hingga Rp2,10 juta per barel jika gelombang serangan terus mencekik lalu lintas pelayaran, bahkan menyentuh 150 dolar AS atau setara Rp2,62 juta per barel apabila terjadi kerusakan infrastruktur energi utama.



















