Profil Bayan, Perusahaan yang Sahamnya Dibeli Haji Isam

- Haji Isam melalui PT Jhonlin Baratama membeli saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN).
- Bayan Group bermula dari aktivitas Dato’ Dr. Low sejak 1973 dan berkembang menjadi perusahaan tambang batu bara terintegrasi secara vertikal.
- Proyek Tabang/Pakar mencatat kenaikan produksi dan ditargetkan mencapai lebih dari 60 juta ton per tahun pada 2026.
Jakarta, IDN Times - Pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam melalui PT Jhonlin Baratama membeli saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN). Bayan Group memiliki sejarah panjang di Indonesia, dengan bisnis yang bermula dari aktivitas Dato’ Dr. Low sejak 1973.
Saat itu, Dato’ Dr. Low mendirikan PT Jaya Sumpiles Indonesia (JSI) sebagai kontraktor pekerjaan tanah, pekerjaan umum, dan struktur kelautan. JSI kemudian menjadi salah satu perintis pekerjaan fondasi tumpuk (pile foundation) yang kompleks dan berkembang sebagai kontraktor di bidang tersebut sepanjang era 1980-an dan 1990-an.
Dikutip dari situs web resmi perusahaan, pada 1988, JSI mulai masuk ke pertambangan batu bara kontrak. Bisnis tersebut berkembang hingga menjadi salah satu kontraktor tambang terkemuka sampai 1998.
Pada tahun yang sama, Dato’ Dr. Low mengakuisisi PT Gunung Bayan Pratamacoal (GBP) dan PT Dermaga Perkasapratama (DPP). Ketika itu, GBP belum memulai kegiatan pertambangan, sementara Balikpapan Coal Terminal yang berada di bawah DPP memiliki kapasitas 2,5 juta ton per tahun.
Di bawah kepemimpinan Dato’ Dr. Low, Bayan Group kemudian berkembang menjadi perusahaan tambang batu bara terintegrasi secara vertikal.
1. Produksi Bayan terus bertambah

PT Bayan Resources Tbk sebagai saham batu bara (pexels.com/mike-van-schoonderwalt-1884800) Bayan Group dibentuk melalui sejumlah akuisisi di sektor batu bara. Perusahaan juga mengembangkan tambang batu bara baru atau greenfield.
Salah satunya melalui Proyek Tabang/Pakar. Proyek tersebut berkembang dari operasi pertambangan berskala kecil dengan produksi 1,9 juta ton pada 2014 menjadi sekitar 22,7 juta ton batu bara pada 2018.
Perkembangan tersebut membuat posisi Bayan di pasar batu bara meningkat hingga menjadi produsen batu bara peringkat lima teratas di Indonesia. Bayan juga menargetkan peningkatan produksi Proyek Tabang/Pakar menjadi lebih dari 60 juta ton per tahun pada 2026.
2. Teknologi jadi bagian dari operasi Bayan

ilustrasi PT Bayan Resources Tbk (dok.bayan.com) Bayan Group menggunakan sejumlah metode dan teknologi dalam kegiatan pertambangan batu bara. Perusahaan menjadi perusahaan tambang pertama di Indonesia yang menggunakan metode through-seam blasting di tambang Wahana.
Bayan juga menggunakan truk pengangkutan batu bara dengan kapasitas hingga 250 ton. Di lokasi tambang Tabang, perusahaan menerapkan Fleet Management System (FMS) untuk meningkatkan akurasi dan efisiensi operasi tongkang.
Teknologi lain yang digunakan berupa radar stabilitas lereng geoteknik. Teknologi tersebut digunakan untuk memantau lereng dan memberikan prediksi kegagalan lereng.
Bayan menyebut penggunaan teknologi baru dan metode inovatif akan terus dilakukan dalam kegiatan operasinya.
3. Infrastruktur batu bara Bayan tersebar di sejumlah lokasi

Terminal Batu Bara milik Bayan Resources di Balikpapan (dok. Bayan Resources) Bayan Group memiliki sejumlah infrastruktur batu bara, antara lain Balikpapan Coal Terminal, Dermaga Perkasa dan Wahana, serta dua Floating Transfer Barge (KFT).
Fasilitas tersebut dapat digunakan untuk membongkar dan menimbun batu bara, serta memuat kapal dengan kecepatan 3.000 hingga 8.000 ton per jam. Sebagian fasilitas juga dapat mencampur batu bara dari berbagai lokasi penimbunan dan kualitas.
Bayan Group juga membangun sistem jalan pengangkutan batu bara atau overland conveyor sepanjang 101 kilometer yang menghubungkan Proyek Tabang dengan fasilitas pemuatan tongkang Muara Pahu.
Fasilitas pemuatan tongkang tersebut direncanakan memiliki tiga unit pemuat tongkang untuk mendukung peningkatan produksi hingga lebih dari 60 juta ton per tahun pada tahun-tahun berikutnya.
Jalan pengangkutan batu bara sepanjang 101 kilometer tersebut disejajarkan dengan jalan umum sepanjang 85 kilometer untuk meningkatkan akses masyarakat setempat.
Bayan Group menyebut investasi pada fasilitas-fasilitas tersebut akan terus dilakukan sesuai kebutuhan, termasuk untuk memberikan fleksibilitas kepada pelanggan dalam penggunaan kapal serta menyediakan kapasitas cadangan.






















