Jakarta, IDN Times - Gelombang demonstrasi buruh yang melanda kawasan industri Bangladesh sejak 31 Oktober 2026, mengganggu operasional ratusan pabrik garmen dan mengancam kelancaran pengiriman ekspor. Para pekerja menuntut kenaikan upah minimum sebesar 140 persen.
Aksi unjuk rasa yang berujung bentrokan dengan aparat keamanan ini mengancam stabilitas sektor yang menyumbang lebih dari 80 persen pendapatan ekspor negara. Gejolak ini menguji daya saing industri garmen Bangladesh.
Selama ini, negara tersebut mengandalkan biaya tenaga kerja rendah dan akses perdagangan bebas bea untuk mempertahankan posisinya sebagai eksportir pakaian terbesar kedua di dunia setelah China. Sektor yang memperkerjakan sekitar 4 juta orang itu kini menghadapi risiko kenaikan biaya produksi, gangguan rantai pasok, serta berkurangnya kepercayaan pembeli internasional, dilansir The Straits Times pada Rabu (4/11/2026).